Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Dua Puluh Tujuh

Gambar
Kalaulah sedang tenang danau hati, kupikir-pikir alangkah membosankannya hidup ini. Dimulai dari matahari beranjak menyibak gelap, tegak di atas kepala, lalu berarak turun menyongsong gelap lagi. Dengan itu habislah cerita satu hari. Demikian berulang terus dari hari ke hari hingga berbilang bulan dan tahun.  Kalaulah untuk mengusir jemu itu seorang menyibukkan diri dengan mencari senang dari segala cara, tetaplah tak dapat dipenuhinya gelas puas hati. Meski telah disematkan segala gelar dan pangkat, masih saja ada yang terasa kurang; terus mengingini yang lebih. Aku merasainya sendiri yang demikian itu. Setelah yang satu didapat teringin mendapat yang lain. Begitulah terus hingga tak terasa sekejap saja usia telah berangka dua tujuh.  Iya, Selasa kemarin adalah hari lahirku, Dinda. Keluarga dan kawan-kawan mengucapi selamat dan menyematkan doa-doa panjang umur. Pada itu aku mendapati diri antara senang dan sedih.  Aku bersyukur telah diberi kehidupan, dicukupkan kebutuha...

Pesan Pendek

Gambar
Dinda dalam surat yang pendek ini, dengarkan aku! Pada hidupmu hendaklah tentukan tujuan.  Pada hidupmu jangan menjadi seperti sepotong kayu di tengah lautan. Terombang-ambing tak tentu arah. Naik dan tenggelam oleh gelombang. Hanyut saja menurut arus kemana membawa. Dinda, pada hidupmu jadilah sebuah kapal. Tahu ke mana akan dituju. Paham alasan meninggalkan daratan dan ke dermaga mana akan berlabuh. Kala kapal telah melepas jangkar, maka telah matang perhitungannya. Kapal tak berangkat tanpa persiapan. Mesti telah dikiranya berapa lama perjalanan dan adakah bekal mencukupi hingga sampai di tujuan.  Dinda, jadilah seperti kapal. Layari hidup ini dengan satu misi. Maka kala bertemu dengan gelombang badai pada gelap gulita malam, kau terus mengarah pasti. Dinda, kalaupun sangat dahsyat terjangan ombak itu sampai memecahkan lambung kapalmu, maka tenggelam tak masalah. Tak akan disesali nasib itu sebab sampai terakhir kau nyata terus setia berjalan pada tujuan semula.  Dinda...

Hujan Kita

Halo Dinda!  Di sini sedang hujan. Agak lebat dan mungkin akan belangsung sampai larut malam. Sudah hampir dua minggu ini Jakarta selalu mendung pagi dan petang. Sesekali saja hari cerah, namun kebanyakan tak bertahan lama sebab matahari kembali dihalang pasukan awan tebal. Jelas musim hujan telah tiba di sini.  Lalu, bagaimana di sana, Dinda?  Dinda, kata orang-orang hujan selalu tak datang sendirian. Ia datang bersama teman bernama rindu dan kenangan. Bunyi hujan yang menyentuh benda-benda bumi meresonansikan peristiwa yang lama mengambang di langit-langit ruang ingatan. Kata orang pula hujan punya aroma. Tak dapat digambarkan, tapi konon bau hujan dapat sempurna mengangkut rasa terpendam muncul ke permukaan. Lembab udara mendekap hati yang sesak oleh rindu lalu tak jarang membuat genangan di sudut mata atau simpul senyum yang kemudian dinikmati sendiri.  Lalu, bagaimana denganmu, Dinda? Omong-omong soal hujan, aku sendiri punya kesan. Bagiku hujan tak selalu mengh...

Pada Rahasia Si Arab

Dinda, selamat pagi. Aku tulis surat ini buru-buru. Ada hal menarik yang baru saja terjadi. Baru saja.  Aku melihat rahasia seseorang pagi ini. Tadi selepas sembayang subuh aku sengaja pulang melalui jalan memutar. Ada jalan kecil di samping bangunan masjid yang tembusannya ke gang perumahan padat sekitaran. Sehari-hari gang itu ramai, tapi kala subuh begini hanya satu-dua saja yang melaluinya.  Pada perempatan kedua dari arah masjid aku nampak seorang berjalan dari arah berlawanan. Dari kejauhan tak seberapa jelas sebab tak ada lampu jalan dan aku pula tak membawa kacamata. Setelah semakin dekat, aku mengenali orang itu. Ia adalah peserta rutin sembayang di masjid kami. Lelaki keturunan Arab yang aku tak tahu namanya sebab belum pernah bercakap-cakap langsung. Ku rasa ia pula mengenali mukaku, namun ku rasa sama sepertiku ia pula takmengenal nama. Agar tak begitu canggung, maka saat saling melalui aku mengucap salam dan dijawab salam pula olehnya. Aku kemudian terus berbelok ...

September Terlambat

Selamat Oktober Dinda. Maaf untuk sapaan September yang terlambat. Maaf untuk hanya dua pucuk surat yang ku tulis bulan itu. Maaf pula atas khawatirmu. Tapi aku baik-baik saja dan semoga kau juga, ya. Sebagai penebusnya aku akan bercerita tentang Septemberku.  Dinda, pada satu malam di pertengahan September aku melihat bulan bersinar terang. Indah sekali malam itu. Dari tempatku duduk terdengar riuh rendah suara orang-orang di pinggir jalan, tapi tak ku hiraukan. Bulan terlihat sangat cantik malam itu. Dalam suasana itu aku menyadari satu hal. Bahwa bulan itu adalah bulan yang sama yang dilihat Adam saat pertama kali tiba ke bumi setelah diusir dari surga. Ia adalah bulan yang sama yang disimak Ibrahim dalam perenungannya, yang menemani Musa dan Harun kala mengantar Bani Israil, yang ditatap Yusuf saat bermalam di dalam sumur, yang pandangi Baginda Nabi Muhammad pada malam hijrahnya meninggalkan Mekkah. Itu adalah bulan yang telah menyaksikan bagaimana setiap insan menjalani hidupn...

Nyala Cinta

Gambar
Dinda, tahukah kau kalau cinta itu punya dua muka? Selain mendatangkan bahagia, cinta pula adalah penyebab bahaya.  Dinda, cinta itu api yang menyala-nyala di dalam dada. Karena itu, seorang yang hidup api cintanya akan bangkit dan semangat. Tapi api tetaplah api. Ia tak boleh dibiarkan mengatur sendiri. Tak boleh lepas dinyalakan lalu ditinggal pergi. Si Penyala harus mengatur besar-kecilnya. Atau kalau tidak, ia akan membakar semua; tak peduli apa dan siapa. Api tak berhitung untung-rugi. Penyala lah yang mengukur semua. Sebab itu, dalam peristiwa api membakar rumah, api tak didaulat sebagai pelaku, melainkan Si Penyala yang bersalah.  Dinda, takar api cinta itu dengan kadarnya. Sesuaikan cara menggunakannya. Api yang dinyalakan terlalu besar, terangnya tak dapat dipakai buat melihat. Ia menyilaukan mata. Barangkali itulah pula mengapa orang-orang lazim menyebut "cinta itu buta". Cinta yang terlalu menyala terang akan membutakan pemiliknya; tak lagi jelas baginya datar dan ...

Agar Berbagi

Hai, Dinda! Apa kabarmu? Semoga kau baik-baik saja. Dinda, Aku hendak bertanya sesuatu padamu. Apa yang terasa di dadamu kala berpapasan dengan seorang anak miskin di pinggir jalan yang kau lalui? Adakah hatimu bergetar kasihan padanya? Adakah kau memberikan sesuatu dari apa yang kau miliki? Adakah kau mengucap kalimat-kalimat baik agar bebannya diringankan? Adakah kau pernah menangisi mereka? Jika pernah, itu tanda hatimu hati yang lembut dan tak ada yang lebih baik dari itu. Dinda, jika kau hidup berkecukupan saat ini dan punya kehidupan yang baik maka bagilah sebagian milikmu itu pada mereka yang kekurangan. Berbagi bukan soal banyak-sedikit. Berbagi itu tentang kemenangan hati dari penyakit pelit. Tak semua sanggup sekalipun ada banyak yang dimiliki dan tak tertampung lagi dalam genggaman sendiri. Berbagi itu soal rasa bukan soal angka. Banyak pun jumlah yang dipunya tak menjamin seorang rela berbagi bila tak jukup punya rasa iba. Rasa iba adalah tanda hati yang lembut, Dinda. Dind...

Aku Bukan Bung Hatta

Selamat sore, Dinda. Maaf lama tak berkabar. Barangkali telah ada seminggu sejak terakhir aku bersurat padamu. Padahal ada banyak momen penting di satu minggu itu, misal saja hari kemerdekaan bangsa yang ke-76. Sekalipun semua orang merayakannya, tapi aku tidak untuk berbincang tentang itu denganmu sore ini. Aku hendak mengaku sesuatu padamu.  Dinda, dua hari lepas aku dinas luar kota. Judulnya adalah rapat untuk keperluan tempatku bekerja. Satu Hari satu malam kami diinapkan di sebuah hotel bagus di kawasan berbukit sekitar satu setengah jam dari tempatku bekerja. Tiba di sana sudah pukul dua petang karena memang berangkatnya selepas salat zuhur. Di sambut panitia, kami dituntun ke ruang pertemuan dan mendapati cukup ramai sesama tamu yang telah datang. Waktu itu rapat belum di mulai. Kurang lebih satu jam kemudian barulah acara dibuka ala kadarnya. Tampak jelas tidak disiapkan dengan baik. Beberapa orang maju ke depan lalu menyampaikan materi. Satu dua orang di barisan belakang m...

Menulis Benar

Gambar
Pagi ini sibuk sekali di sini, Dinda. Hari ini di masjid depan akan diadakan vaksinasi. Bunyi toa mememanggil-manggil warga agar sudi disuntik. "Standar Arab Saudi dan cukup datang membawa KTP. " Kurang lebih begitulah bunyi iklan vaksin pagi ini. Aku tak turut serta karena sudah genap dua dosis sejak bulan Maret lalu.  Oh ya, Dinda. Tadi selepas lari satu keliling aku mendapati satu panggilan tak terjawab. Langsung kupanggil kembali dan satu suara berat mengangkat salam. "Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh. Baa kaba , Bang?" tanyaku. "Alhamdulillah, kaba baik," jawabnya teriring tawa kecil. Senang sekali tersambung kembali dengan sahabatku ini setelah sekian bulan tak bertukar kabar.  Mengejutkan kala ia bercerita jika beberapa waktu lalu ia sekeluarga tertimpa musibah kini hari, Covid-19. Aku tanya lebih dahulu situasi ibunya lalu anggota keluarga lainnya. Berurut ia menjawab semua telah pulih. Alhamdulillah. Aku protes, sebab apa tak memberi ta...

Kursi Roda

Selamat pagi, Dinda. Baru saja aku menengok langit. Tampak mendung di sini. Sekalipun hujan hari ini, aku berharap itu terjadi setelah siang hari sebab pagi ini ada hal yang ingin kulakukan di luar. Aku berencana mengirim satu paket kursi roda ke kampung. Semoga bisa tiba lusa atau kalau tidak setidak-tidaknya tiga hari mendatang. Lebih cepat lebih baik. Ini adalah kursi roda kedua yang kukirim ke kampung. Setahun lalu satu kursi roda untuk kakek dan kali ini untuk nenek. Aku lupa apakah aku telah membagitahumu kalau aku punya seorang kakek dari Bapak yang tinggal bersama kami dan seorang nenek dari pihak Ibu. Nenek tinggal dengan kakak ibuku di kampungnya; tak seberapa jauh dari kampung kami. Karena usia kini keduanya kesulitan berjalan sehingga menyulitkan mereka untuk berkegiatan. Yah, begitulah dunia bekerja. Yang muda akan menua; yang kuat akan payah; yang dulunya gagah akan lemah.  Beberapa waktu lalu saat sedang bertelepon, kakek mengeluh kalau ia jenuh duduk di rumah s...

Menyeka Air Mata Sengketa

Gambar
Dinda, apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Aku baru selesai berolahraga; menyelesaikan satu putaran lari pagi berkeliling komplek. Saat tengah istirahat, aku teringat telah cukup lama tak bersurat padamu. Setelah semuanya siap, aku kesulitan menemukan topik pembicaraan. Bukan tak ada yang dapat dibagi, tapi sedikit kesulitan menemukan hal apa yang paling tepat untuk dibagi. Lalu aku terpikir tentang ini. Simaklah! Dinda, dalam cerita bahagia yang kau damba, adakah juga kau reka akan ada duka yang turut serta? Sebab masing-masing kita adalah manusia biasa, maka mesti berpeluang berbuat salah. Kala itu terjadi akan ada hati tergores dan perasaan tersinggung. Dinda, bagaimana kau akan bersikap jika aku yang membuat duka?  Saat ada sengketa antara kita, hendaknya masing-masing mencari jalan penyelesaian. Aku mengajakmu agar tak diam dan bertahan. Keluar dan berbicara tentang persoalan rasanya adalah cara paling bijak mengurai kusut masalah. Dalam sesak amarah, sisakan ruang di hati u...

Ancaman Kawan

Gambar
Untuk apa kita berkawan? Tanyakan itu pada temanmu. Tadi malam aku bertelepon dengan teman lamaku; saling bertanya tentang itu. Memastikan apakah yang membuat kami terus terhubung hingga saat ini.  Aku yang memulainya. Aku berkata padanya, "Aku tak berteman dengan kau karena materi. Ada banyak yang lebih berharta kalau materi adalah alasan kau kutemani." Di ujung sana, ia menyambung dengan penuh semangat; menyebut hal serupa. "Kau bertugas mengingatkan aku kalau aku keliru," kataku. "Aku yang pertama akan menghukum kau kalau kau berubah keji. Aku akan menyebut pada orang-orang bahwa kata-kata kau hanya bualan. Kau akan kubuat malu semalu-malunya," ancamnya. "Dengan tanganku sendiri aku akan memastikan kau akan mendapat balasan kalau-kalau kau berbuat aniaya," aku balas mengancamnya. Lalu nada bicara kami merendah dan hening beberapa saat. Dalam hati masing-masing menghitung umur perkawanan kami dan merancang agar itu terjalin selama mungkin.  Bua...

Hari Ini Lalu Besok

Gambar
Jam enam pagi lewat 10 menit di sini. Hari Selasa tanggal tiga. Surat pertamaku padamu di bulan Agustus.  Dinda, apa yang biasanya membuatmu sedih? Bagiku sendiri yang paling menyedihkan adalah saat tahu aku mengerjakan sesuatu semata untuk saat ini. Banyak orang berkata "Nikmati hidup sebab hidup itu hari ini. Soal besok, belum tentu." Bagiku, besok itu sama pastinya dengan hari-hari ini. Besok itu nyata senyata saat-saat ini. Tidak satu pun di antara kita yang tidak menjumpai besok. Orang-orang pikir kalau hari ini mati, maka tak akan bertemu besok. Nyatanya, besok telah menunggu untuk dimasuki. Celakanya, besok bukan lagi cerita untuk berbuat, ia saat bertanggung jawab atas apa yang telah dibuat. Pada besok itu tak ada lagi pilihan sebagaimana banyak pilihan di hari-hari ini. Besok itu tentang menilai pilihan-pilihan yang pernah diambil.  Dinda, ingatlah ini! Hari ini menjadi penting bukan sebab kita sedang berada di dalamnya, tapi karena setiap kita pasti bertemu besok; m...

Undangan Lepas Isya

Hai, Dinda. Juli akan segera belakhir. Aku menunggu hujan turun lagi. Bulan ini hanya tiga kali. Setidaknya sebelum dia pergi berlalu turun lah sekali lagi agar genap hitunganku.  Tentang hitung-menghitung, hari ini adalah minggu ketiga salat Jumat tak digelar. Pandemi masih belum berhenti. Dibanding beberapa waktu lalu, situasi saat ini berangsur membaik kata penyiar-penyiar dalam berita.  Oh iya! Hampir terlupa tujuanku mengirimimu surat ini. Dinda, dua malam lalu aku yang akan pulang selepas sholat magrib tiba-tiba dicegat sesorang di gerbang masjid. Setelah mengamati, aku mengenalinya. Dia penjaga parkir depan masjid. Dari seberang jalan ia memberiku isyarat untuk menghampiri. Melihat itu aku memelankan langkah dan menunggunya di seberang.  "Bang, itu tentang beasiswa itu yang abang pernah cerita ke saya gimana, Bang?" tanyanya langsung. Saya yang masih belum menangkap arah pembicaraan ini terus bertanya, "Gimana, Bang?" "Gini, Bang. Anak kakak saya kan lul...

Mengeja Maksud Belajar

Dinda, tebak apa yang kulakukan hari ini! Pagi hingga siang tadi aku belajar lagi tentang ejaan bahasa Indonesia. Ternyata banyak kesalahan yang kubuat selama ini. Pelajaran itu menarik, terutama kala mendapati aku keliru untuk hal-hal yang terlihat sederhana. Tentang titik, koma, huruf besar, dan huruf kecil. Kukira semua itu tak jadi masalah selama ini, tapi nyatanya aku salah. Kau tahu hal lainnya yang kupelajari? Ternyata kebenaran itu tak datang sendiri. Ia perlu diusahakan. Dengan merelakan sedikit waktu membaca Panduan Ejaan Bahasa Indonesia dapat kutahu bahwa aku perlu banyak perbaikan dalam berbahasa. Agaknya begitu pula dengan hal lainnya. Jika tak berusaha memeriksa diri setiap saat, tidaklah dapat paham kalau ternyata diri telah langgeng berbuat keliru.  Berikutnya, sekedar tahu tidaklah cukup. Masih akan celaka jika berhenti di sana. Belajar tak hanya tentang menjadi tahu, tapi mestinya merangsang agar bertindak benar. Semula salah lalu kemudian menjadi betul. Itu...

Sebenar Kerja

Hai Dinda, Selamat hari raya. Lebaran masih sepi di sini. Kemarin juga sholat tak digelar. Persis seperti tahun lalu, masing-masing merayakan hari raya dari rumah. Namun, aku menyapamu bukan untuk berkeluh-kesah perihal itu. Bukankah kita harusnya telah terbiasa. Lagi pula semuanya dilakukan dengan maksud agar dunia segera pulih dari sakitnya. Semoga. Dinda, dalam suratku kali ini aku minat berbagi tentang hal yang ku alami sore tadi. Sejak pagi aku sudah murung. Merasa hampir sepekan ini hanya mengerjakan hal-hal tak seberapa berguna. Urusan kecil yang rasanya terlalu kecil untuk menolong dunia yang punya banyak masalah besar. Singkatnya, aku merasa tak cukup hebat. Sebab itulah aku hilang semangat.  Sore tadi usai saling mengucap salam dan terima kasih tanda rapat dua jilid hari ini resmi diakhiri, aku dengan malas mengepak perkakas kerjaku. Setelah beres semuanya, aku ambil posisi bersandar lalu mendongak. Diam. Beberapa saat aku seolah dibawa jauh menerawang. Aku melihat bapak ...

Tawar Menawar

Jika kau ternyata anak hits, maka aku tak yakin dapat mencintaimu dengan caramu. Aku tak cukup mengerti tentang itu. Lingkaran kehidupanku juga tak dalam suasana itu. Aku tak biasa menghabiskan akhir pekan di fasilitas-fasilitas khas kota. Aku bahkan selalu kebingungan bila ditanya referensi tempat makan atau tempat senda gurau minum kopi dan cake. Singkatnya, aku kurang berkenalan baik dengan kehidupan meriah itu.  Tapi bukankah mencinta berarti pula bersedia menyesuaikan? Ya, benar. Untuk itu kau dapat mengajarku satu-dua dan akan menyenangkan bagiku belajar hal baru. Tapi sekalipun bersedia ikut serta, aku tak berniat terbiasa. Rasa nyamanku tak di situ.  Lalu bagaimana denganmu, apakah sudi menjadi lebih sederhana? 

Nasehat

Dinda, apa yang sedang kau kerjakan? Jika sedang melakukan sesuatu, berhentilah sebentar. Bacalah suratku ini. Aku hendak menasehati diriku sendiri lewat dirimu.  Apa yang akan dibuat bila perintah telah datang? Laksanakan atau tinggalkan. Lalu bagaimana jika perintah itu datang dari ibu? Maka lakukan jika itu baik dan hindarilah bila ia menyuruh pada sesuatu yang buruk. Namun dalam perkara menolak itu, perlu adab mulia. Menjaga sikap memuliakan ibu-bapak ialah keharusan, sekalipun untuk kebenaran.  Tak semua yang mereka minta adalah yang disuka. Itu ujiannya. Di sana Tuhan meletakkan penghargaan atas seorang hamba. Aku tahu ini mudah disebut, namun tak semudah itu dibuat. Ringan dinasehatkan, tapi perkara berat diterapkan. Begitulah adanya.  Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku bernasehat demikian di tengah hari begini. Aku sedang teringat ibuku. Kalau aku pulang sekarang, ibu pasti tak sedang di rumah. Ia ada di kebun, entah bersama bapak atau sendiri. Ibu b...

Pagi Ini

Ini hari Jum'at. Jum'at pagi menjelang pukul 8 di sini. Aku baru selesai berjemur di lantai atas. Kata orang-orang berjemur dapat meningkatkan imun tubuh agar tak mudah sakit virus. Ah entahlah benar atau tidak, tapi alasan sebenarnya aku melakukannya adalah karena suasananya pas saja, tak terlalu panas dan tak juga mendung. Cahaya matahari berpendar sebab terhalang awan tipis.  Aku membawa satu buku undang-undang bersamaku. Membaca beberapa pasal hanya untuk mengingat-ingat yang sempat terlupa. Sekali mendayung, dua tiga pulang terlampaui. Berjemur untuk menyegarkan badan, membaca untuk menyegarkan pikiran. Aku dan buku tak seberapa akrab sebenarnya. Sekali lagi, hanya karena suasananya pas saja aku melakukannya pagi ini. Bagaimana kabarmu, Dinda? Ku harap kau punya pagi yang baik sebaik pagiku ini.  Beberapa pesan telah masuk di grup whatsapp. Aku harus bergegas. Kami akan melanjutkan pembahasan yang belum tuntas kemarin. Aku akan sarapan sambil rapat, tenang saja. Kau baik-...

Ruang Tunggu

Di antara banyak cara menghabiskan waktu adalah dengan berbincang denganmu. Aku lupa ini surat yang ke berapa, tapi sudah banyak baris kata yang ku tutur padamu. Macam-macam cerita telah ku bagi dalam beragam suasana. Selalu sama, surat ini satu arah. Aku tak berharap kau balas, cukup kau baca lalu jumpai aku baik-baik saja. Dinda, dalam waktu yang tak sedikit aku telah jatuh padamu. Aku bahagia saat kau menyimak surat-suratku dan mendekapnya dalam rindu. Aku senang kau bersabar dan tak menggebu sebab kau tahu perjumpaan bukan akhir melainkan awal yang membuka jalan panjang perjuangan. Yang menggembirakan kala perjumpaan selain aku mendapatimu dan kau mendapatiku adalah menemukan jika kita tak lagi di ruang tunggu.  Dinda, tentang ruang tunggu yang kita masih berada di dalamnya, berhati-hatilah. Tak sedikit yang menunggu dengan curang hingga berakhir malang. Satu yang mesti dipunyai saat menunggu, kesabaran. Menjadi sabar bukan berarti tak berupaya, tak bergerak, dan pasif. Sabar i...

Musa dan Harun

Kali ini tentang pagi tadi. Aku ada rapat pukul sembilan. Sembari menunggu aku memutuskan menelpon ke tempat yang jauh. Seminngu yang lalu terakhir kami berbicara. Waktu itu ia berkabar tengah sibuk dengan program-program KKN. Aku penasaran sampai di mana program itu telah berjalan. Dia adik lelakiku. Satu-satunya adik lelaki yang ku punya. Kami berjarak 5 tahun. Kami berbeda. Dia jenis yang tenang dan jarang bicara, sekaligus tipe yang menghibur bagi yang telah mengenalnya. Di antara yang paling mengenalnya adalah Ibu. Dia adalah yang paling sering membuat ibu tertawa dibandingkan siapa pun di rumah kami.  Onga begitu kami memanggilnya, yang berarti anak tengah. Di rumah, tak biasa kami saling panggil nama. Seru begitu. Rasanya seperti tak pernah bertumbuh dewasa.  Ini tahun terakhirnya kuliah. Sebagian isi pembicaraan adalah tentang tugas akhir, rencana-rencana dan peluang setelah tamat. Namun, pagi tadi topiknya lebih serius. Aku berpesan tentang cara kami bersaudara. "Aku ...

Setelah Hari Ini

"Udara mana kini yang kau hirup. Hujan di mana kini yang kau peluk."  Lirik lagu itu hampir satu jam yang berulang-ulang mengisi sepinya ruanganku. Kurang lima menit dari pukul tiga sore di sini. Aku bersiap menyudahi pekerjaanku hari ini. Hari ini tak seberapa padat, hanya mereviu satu peraturan.  "Dinda, apa kabarmu?" "Bagaimana harimu?" Besok hari libur. Aku masih belum punya rencana untuk besok itu. Barangkali membaca ulang beberapa putusan sepertinya akan cukup menyibukanku. Aku masih punya banyak pekerjaan yang tertunda. Beberapa pekerjaan kantor dan beberapa sisa lainnya adalah pekerjaan pribadi. Baiknya aku mulai mencicil merampungkan mereka. "Apakah kau punya rencana besok?" Jika tidak, lebih baik berdiam saja di rumah. Itu lebih baik di masa-masa begini. Menjaga diri dan menjaga orang lain, begitulah caranya di masa pandemi. Aku telah selesai berkemas. Lagu itupun sudah berakhir sejak tadi. Kapan-kapan kita berbincang lagi. Kau dapat me...

Yang Ditanggung Bersama

Tadi malam, setelah selesai sholat Isya' aku menelpon ke rumah. Yang menyambut telepon adalah ibu. Setelah bertanya tentang kabarnya hari itu aku memberitahunya tentang yang ku tunggu telah datang. Pengumuman itu telah tiba 4 hari lalu. Sengaja tak ku beritahu mereka lebih awal sebab aku hendak seluruh ragu hilang dulu. Ibu menyebut syukur. Namun aku kemudian menyela kegembiraan itu dengan mengungkit hal-hal berat dan sulit dari berita itu. Setelah itu, suara ibu memelan dan menyebut "pikir-pikirlah lagi." Aku meminta berbicara dengan bapak. Ibu membawakan telepon itu kepadanya. Aku berbincang dengan bapak, dimulai dengan bertanya apa yang sedang dilakukannya. Setelah bertukar kabar ala kadar bapak-anak lelaki, aku mulai menyampaikan kabar yang barusan ku tutur dengan ibu. Bapak selalu seperti bapak, tak ada peluang putus asa atau hilang harapan. Ia mendukungku agar berani maju sekalipun semua akan menanggung resiko. "Lakukanlah! Segala hal berat yang terjadi setelah...

Rencana Itu

Pagi ini cerah, namun masih terasa dingin. Sabtu pagi yang tenang. Meskipun menghirup udara disini tak selega di kampung, tapi untuk memulakan hari agaknya masih cukup layak.  Dinda, apa kabar? Apa kau punya rencana hari ini? Ingin pergi ke suatu tempat? Sendirian? Tak apa jika kau ada pekerjaan di akhir pekan begini, aku pun juga. Beberapa hal tak sempat diselesaikan di hari kerja, jadi berhutang di hari libur. Tak apa, jalani saja dengan bahagia, semogalah ia menjadi berkah. Dinda, aku mau cerita. Ini tentang rencanaku, tapi aku butuh pendapatmu. Bagaimana menurutmu jika kita pindah ke tempat baru yang jauh dari rumah saat ini. Maukah kau ikut bersamaku? Maukah menemaniku di sana? Entah mengapa aku hendak mengawalinya denganmu dari suatu tempat yang sederhana, jauh dari  gemerlap kota dan fasilitas serba adanya. Entahlah, tapi yakinku kita akan menjadi luar biasa di masa depan bila memulainya dengan begitu. Akan ada semangat, keikhlasan, rasa menghargai. Aku ingin yang ku ci...

Sapaan Pagi

Halo Dinda, Pagi hari di sini. Aku baru menuntaskan sholat. Shaf-shaf masih renggang sebab pandemi belum mereda, konon kian bertambah bertambah. Semogalah Allah mengangkat wabah ini segera dan kembali memberi hidup sejahtera kepada kita semua. Dinda, masa lepas mengucap salam pada akhir sholat tadi, dari celah-celah teralis jendela masjid aku nampak gelapnya malam. Aku jauh merenung kemudian. Bertanya dalam hati sendiri, mau kemanakah aku membawa hidup ini? Lepas satu petualangan kepada petualangan yang lain. Akan kemanakah aku menuju setalah yang ini? Di tengah-tengah itu, di sudut hatiku seolah menjawab sendiri pertanyaan itu. Katanya, "Ke mana saja asal ada rahmat Allah di sana."  Menggenanglah air mata. Payahlah menyembunyikannya dari jama'ah sembayang yang satu dua masih tersisa. Aku tetiba menjadi haru. Betapalah Allah mengasihiku. Betapa teduhnya cinta itu. Adakah kau pernah merasakannya pula, Dinda? Kalau teringat akan banyaknya dosa yang telah dibuat, rasanya tak...

Rupanya Pahlawan Itu Nyata

Dinda, selamat malam. Maaf membangunkanmu malam-malam. Tapi aku punya cerita dan bermaksud berbagi denganmu. Aku baru saja menyimak satu diskusi. Ya, malam-malam begini. Temanya tentang korupsi dan masa depannya. Ceritanya, korupsi akan bertambah parah sebab pemburunya terancam bahaya. Hampir 90 menit dua orang pembica bergantian menyampaikan pandangan. Luar biasa. Bahaya yang diberitakan media selama hampir 2 bulan ini ternyata benar adanya, pemburu korupsi dalam bahaya.  Diskusi diawali dengan kalimat-kalimat putus asa, seolah semua tak ada jalan untuk selamat. Tapi siapa sangka, sungguh Allah maha baik. Diselipkannya dalam dada pemburu itu kekuatan untuk melawan. Meski sulit menang, tapi keberaniannya menginspirasi seisi ruangan untuk pula berani berbuat. Dia sebut, "setidaknya dengan doa, itu telah cukup. Semoga Tuhan memenangkan kewarasan akal sehat." Aku rasa malam ini sudah melihat pahlawan. Aku melihat ksatria pembela kebenaran itu nyata adanya, di zaman begini. Mulai...

Wanita, Sekolah, dan Ibu Rumah Tangga

Dinda, kamu sibuk? Kalau sudah luang, kau boleh baca surat ini.  Beberapa waktu lalu, aku berbincang dengan seorang kawan. Semulanya kami membahas lain, namun di ujung perjumpaan membincangkan soal wanita dan peranannya. Pada akhirnya kami sepakat pada satu titik. Sengaja ku ringkaskan untukmu agar kalau sempat dapat kau baca. Itu dimulai dengan pertanyaan, " Lantas, apakah salah jika di masa ini wanita hanya menjadi ibu rumah tangga? " Pertanyaan itu keliru dan perlu diluruskan. Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan juga dan itu tidak dapat disebut ‘hanya’. Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang berat dan perlu hati untuk ditetapi. Luarannya juga tidak sepadan disandingkan dengan kata keterangan ‘hanya’, sebab dari pekerjaan itu ditentukan arah jalan hidup anak-anak dan segenap anggota keluarga lainnya. Pertanyaan itu juga tidak boleh dijawab keliru. Menjadi ibu rumah tangga sama sekali bukan keputusan yang buruk dan patut ditempatkan sebagai pilihan terpaksa sebab tak a...

Aku, Nenek, Ibu, dan Sore

Waktu pulang kemarin aku menyempatkan ke rumah nenek. Ia adalah ibunya ibuku. Rumahnya terhalang 3 atau 4 desa dari desa tempat kami tinggal. Sudah hampir setahun aku tak pulang ke rumah dan tak berjumpa dengan keluarga lengkap di sini. Namun sore ini setelah pulang dari kota aku memutuskan singgah ke rumah nenek.  Seporsi martabak kacang-tape ku bawa. Ku harap beliau menyukainya.  Aku tiba dan memarkirkan motor di depan rumah. Ku lihat tak ada siapa. Sepertinya Mak Nga, kakak ibuku yang biasa merawat nenek sehari-hari, sedang pulang ke rumahnya. Lalu aku membuka pintu dan mulai masuk ke dalam sambil memanggil nenek. Karena telah sore, ruangan tampak remang.  Kemudian di ruang tengah aku melihat nenek. Mendapatinya tengah duduk di atas kursi kayu, menyampingi meja dengen setoples biskuit dan segelas air. Nenek duduk diam di sana. Aku menghampirinya dan menyapanya. Ia diam, sepertinya tak menyadari kehadiranku.  Aku lalu mengambil tempat duduk di hadapannya. Lalu ku t...

Kadar Cinta

Malam ini aku tidur agak terlambat. Sejak selesai sholat Isya' aku hanya duduk-duduk di dalam kamar. Ku putar nada-nada tenang dari beberapa cuplikan, lalu membaca ulang surat-surat yang pernah ku kirimkan. Membacanya satu-satu membuatku kembali ke setiap cerita berikut rasa kala menulisnya. Meski suratku tak pernah kau balas, aku terus menulis dan mengirimnya. Tak peduli jika surat-surat itu pun tak kau baca. Bagiku, tak penting balasanmu. Yang jatuh cinta adalah aku, maka akan ku nikmati ini semauku. Kau tak perlu tak enak hati. Tak usah memaksa bicara. Aku justru senang begini. Aku berdaulat atas cintaku. Tak terjajah rasa. Bukankah yang penting adalah mencinta dengan merdeka? Dengan itu kadarnya murni, bukan imitasi.  Satu waktu aku pernah berpikir mengapa kadar cintaku begini. Tapi kemudian ku jawab sendiri. "Yang begini adalah yang baik." Beginilah caraku kepadamu. Nanti kau akan tahu.