Dua Puluh Tujuh
Kalaulah sedang tenang danau hati, kupikir-pikir alangkah membosankannya hidup ini. Dimulai dari matahari beranjak menyibak gelap, tegak di atas kepala, lalu berarak turun menyongsong gelap lagi. Dengan itu habislah cerita satu hari. Demikian berulang terus dari hari ke hari hingga berbilang bulan dan tahun. Kalaulah untuk mengusir jemu itu seorang menyibukkan diri dengan mencari senang dari segala cara, tetaplah tak dapat dipenuhinya gelas puas hati. Meski telah disematkan segala gelar dan pangkat, masih saja ada yang terasa kurang; terus mengingini yang lebih. Aku merasainya sendiri yang demikian itu. Setelah yang satu didapat teringin mendapat yang lain. Begitulah terus hingga tak terasa sekejap saja usia telah berangka dua tujuh. Iya, Selasa kemarin adalah hari lahirku, Dinda. Keluarga dan kawan-kawan mengucapi selamat dan menyematkan doa-doa panjang umur. Pada itu aku mendapati diri antara senang dan sedih. Aku bersyukur telah diberi kehidupan, dicukupkan kebutuha...