Nyala Cinta
Dinda, cinta itu api yang menyala-nyala di dalam dada. Karena itu, seorang yang hidup api cintanya akan bangkit dan semangat. Tapi api tetaplah api. Ia tak boleh dibiarkan mengatur sendiri. Tak boleh lepas dinyalakan lalu ditinggal pergi. Si Penyala harus mengatur besar-kecilnya. Atau kalau tidak, ia akan membakar semua; tak peduli apa dan siapa. Api tak berhitung untung-rugi. Penyala lah yang mengukur semua. Sebab itu, dalam peristiwa api membakar rumah, api tak didaulat sebagai pelaku, melainkan Si Penyala yang bersalah.
Dinda, takar api cinta itu dengan kadarnya. Sesuaikan cara menggunakannya. Api yang dinyalakan terlalu besar, terangnya tak dapat dipakai buat melihat. Ia menyilaukan mata. Barangkali itulah pula mengapa orang-orang lazim menyebut "cinta itu buta". Cinta yang terlalu menyala terang akan membutakan pemiliknya; tak lagi jelas baginya datar dan jurang. Cinta yang begitu adalah cinta yang merugikan. Tak baik dipelihara dan lekaslah padamkan!

Komentar
Posting Komentar