Pada Rahasia Si Arab
Dinda, selamat pagi.
Aku tulis surat ini buru-buru. Ada hal menarik yang baru saja terjadi. Baru saja.
Aku melihat rahasia seseorang pagi ini. Tadi selepas sembayang subuh aku sengaja pulang melalui jalan memutar. Ada jalan kecil di samping bangunan masjid yang tembusannya ke gang perumahan padat sekitaran. Sehari-hari gang itu ramai, tapi kala subuh begini hanya satu-dua saja yang melaluinya.
Pada perempatan kedua dari arah masjid aku nampak seorang berjalan dari arah berlawanan. Dari kejauhan tak seberapa jelas sebab tak ada lampu jalan dan aku pula tak membawa kacamata. Setelah semakin dekat, aku mengenali orang itu. Ia adalah peserta rutin sembayang di masjid kami. Lelaki keturunan Arab yang aku tak tahu namanya sebab belum pernah bercakap-cakap langsung. Ku rasa ia pula mengenali mukaku, namun ku rasa sama sepertiku ia pula takmengenal nama. Agar tak begitu canggung, maka saat saling melalui aku mengucap salam dan dijawab salam pula olehnya. Aku kemudian terus berbelok ke kanan melewati pertigaan menuju jalan raya, sedang ia menurut jalan yang telah ku lewati tadi.
Mendapati jalan raya aku menuju ke arah kos. Setengah perjalanan aku terkejut sebab kembali berpapasan dengan bapak Arab tadi. Kali ini aku menganggukan kepala sedikit untuk memberi tanda sapa. Melihatku ia kemudian tersenyum agak lebar. Dengan itu, aku persis tahu rahasianya.
Pada gang sempit yang ku lalui tadi, setelah perempatan pertama, di sebelah kiri ada satu rumah. Penghuninya dua kakak-beradik lansia. Aku tahu sebab yang lelaki adalah pula peserta sembayang di masjid. Teras rumah itu adalah badan gang dan di seberangnya adalah dapur dengan kompor dan berbagai peralatan memasak berjejer. Bukan apa-apa, sebenarnya yang disebut rumah itu lebih menyerupai pondok yang gopoh yang di dalamnya telah sesak oleh kasur tempat tidur, karena itu agaknya dapur tak turut masuk ke dalam sebagaimana pada kebanyakan rumah. Bapak Arab tadi mestilah menghampiri rumah itu. Aku yakin, yakin sekali. Sebab pernah satu kali di subuh yang lain aku berjalan di belakangnya dan melihat ia melalui rumah itu lalu meninggalkan selembar lima puluh ribu di atas meja di dekat pintu. Terdengar dari dalam penghuninya berterima kasih. Ucapan terima kasih yang akrab yang menjelaskan itu bukan pemberian yang jarang.
Setelah mengetahui rahasianya, aku lalu menyesali sesuatu, mengapa aku melewatkan banyak waktu untuk berdekat-dekat dengan orang baik seperti dia. Kalaulah kenal baik, barangkali lembut hatinya dapat diajar padaku. Sebab menahan gengsi menyapa dahulu, telah lepas seorang guru.
Dinda, pada rahasia si Arab nyatalah kekurangan diri agar lekas ku perbaiki. Semestinya setelah tunai rakaat sembayang, jangan langsung bertolak pulang. Sempatkan menyebar salam dan bertanya kabar mereka yang di kiri dan kanan. Sembayang adalah antara seorang hamba dan Tuhannya, tapi saling menyapa dan peduli adalah urusan sesama hamba.
Komentar
Posting Komentar