Yang Ditanggung Bersama

Tadi malam, setelah selesai sholat Isya' aku menelpon ke rumah. Yang menyambut telepon adalah ibu. Setelah bertanya tentang kabarnya hari itu aku memberitahunya tentang yang ku tunggu telah datang. Pengumuman itu telah tiba 4 hari lalu. Sengaja tak ku beritahu mereka lebih awal sebab aku hendak seluruh ragu hilang dulu. Ibu menyebut syukur. Namun aku kemudian menyela kegembiraan itu dengan mengungkit hal-hal berat dan sulit dari berita itu. Setelah itu, suara ibu memelan dan menyebut "pikir-pikirlah lagi."

Aku meminta berbicara dengan bapak. Ibu membawakan telepon itu kepadanya. Aku berbincang dengan bapak, dimulai dengan bertanya apa yang sedang dilakukannya. Setelah bertukar kabar ala kadar bapak-anak lelaki, aku mulai menyampaikan kabar yang barusan ku tutur dengan ibu. Bapak selalu seperti bapak, tak ada peluang putus asa atau hilang harapan. Ia mendukungku agar berani maju sekalipun semua akan menanggung resiko. "Lakukanlah! Segala hal berat yang terjadi setelahnya akan kita atasi bersama."

Lepas ku tutup telepon, aku duduk diam di atas pinggir tempat tidurku. Menghela nafas sekali, dua kali. Aku menegakkan kepala dan ku katakan pada diriku sediri. "Mari kita lakukan!" Aku tak sedang mencari pekerjaan, semua ini tentang pembuktian di hari nanti. Jika ini berhasil, maka aku mesti mati-matian berjuang sampai mati agar tak celaka di sana. Tapi jika ini ternyata gagal, maka telah ada hujjahku untuk menangkis hukuman Tuhan sebab aku tak lari dari tanggung jawab pemikul ilmu. 

Demikianlah situasinya, Dinda. Sudahkah kau timbang perihal yang kemarin? Pikirlah matang-matang, lalu sampaikan padaku aku akan mendengarmu. 

Komentar