Kadar Cinta
Malam ini aku tidur agak terlambat. Sejak selesai sholat Isya' aku hanya duduk-duduk di dalam kamar. Ku putar nada-nada tenang dari beberapa cuplikan, lalu membaca ulang surat-surat yang pernah ku kirimkan. Membacanya satu-satu membuatku kembali ke setiap cerita berikut rasa kala menulisnya. Meski suratku tak pernah kau balas, aku terus menulis dan mengirimnya. Tak peduli jika surat-surat itu pun tak kau baca. Bagiku, tak penting balasanmu. Yang jatuh cinta adalah aku, maka akan ku nikmati ini semauku. Kau tak perlu tak enak hati. Tak usah memaksa bicara. Aku justru senang begini. Aku berdaulat atas cintaku. Tak terjajah rasa. Bukankah yang penting adalah mencinta dengan merdeka? Dengan itu kadarnya murni, bukan imitasi.
Satu waktu aku pernah berpikir mengapa kadar cintaku begini. Tapi kemudian ku jawab sendiri. "Yang begini adalah yang baik." Beginilah caraku kepadamu. Nanti kau akan tahu.
Komentar
Posting Komentar