Kursi Roda

Selamat pagi, Dinda. Baru saja aku menengok langit. Tampak mendung di sini. Sekalipun hujan hari ini, aku berharap itu terjadi setelah siang hari sebab pagi ini ada hal yang ingin kulakukan di luar. Aku berencana mengirim satu paket kursi roda ke kampung. Semoga bisa tiba lusa atau kalau tidak setidak-tidaknya tiga hari mendatang. Lebih cepat lebih baik.

Ini adalah kursi roda kedua yang kukirim ke kampung. Setahun lalu satu kursi roda untuk kakek dan kali ini untuk nenek. Aku lupa apakah aku telah membagitahumu kalau aku punya seorang kakek dari Bapak yang tinggal bersama kami dan seorang nenek dari pihak Ibu. Nenek tinggal dengan kakak ibuku di kampungnya; tak seberapa jauh dari kampung kami. Karena usia kini keduanya kesulitan berjalan sehingga menyulitkan mereka untuk berkegiatan. Yah, begitulah dunia bekerja. Yang muda akan menua; yang kuat akan payah; yang dulunya gagah akan lemah. 

Beberapa waktu lalu saat sedang bertelepon, kakek mengeluh kalau ia jenuh duduk di rumah saja dan terasa sangat lama menunggu pagi ke malam. Rasanya tak sabar menunggu kematian katannya. Mendengar itu aku lalu memintanya membagi hari menjadi lima bagian: pagi, siang, petang, menjelang malam, dan saat malam. Pagi-pagi saat berisik terdengar ayam kita salut-menyahut berkokok, bersihkanlah diri dan sembayanglah sekali. Lalu tunggulah maut di antara pagi dan siang. Jika sampai siang maut belum datang, kerjakanlah sembayang dan tunggulah lagi datangnya hingga petang. Kalau belum juga datang, sembayang petanglah dan tunggu sampai menjelang malam. Jika belum juga tiba, kerjakan sembayang lalu tunggu sampai malam. Belum juga maut itu datang padahal telah terasa berat mata menahan kantuk, sembayanglah lagi sakali lagi dan tunggulah maut itu sambil tidur nyenyak. Satu hari panjang tak terasa telah diselesaikan. Misal masih terbangun esoknya, ulangi lagi membagi hari menjadi lima dan tunggulah maut di antaranya.

Lain lagi dengan nenek. Akhir tahun lalu saat aku berkunjung ke tempatnya, ia tak lagi mengenaliku. Rasanya ku pernah bercerita tentang ini padamu dalam suratku sebelumnya. Yang menyekihkan adalah ia juga tak ingat berapa dan siapa-siapa saja anaknya. Usia melahap ingatannya. Kursi roda yang akan kukirimkan nanti adalah untuknya. Bibi dan sepupuku yang merawatnya kesulitan jika hendak membawanya mandi. Perlu dua orang untuk mengangkatnya ke kamar kecil. Meski tak sebanding dengan amal baik mereka yang merawat nenek sepenuh hati tiap harinya, aku tak mau kalah dan harus berbuat pula. Ada satu malam aku mengutarakan niatku membelikan nenek kursi roda kepada Ibu. Ibu bilang tak perlu, ia dan Bapak akan membelikannya. Aku menjawab tak sepakat. Kataku, "Kursi roda ini bukan hanya karena nenek memang membutuhkannya, tapi itu untuk membuat senang hati ibuku. Aku berbuat karena ibuku. Soal Ibu berbuat baik pada Ibunya-ibu itu adalah kewajiban Ibu, tapi dengan kursi roda ini aku hendak memastikan kalau aku berbuat baik pada ibuku, padamu." Ibu diam. Terdengar beberapa kali berdehem. Lalu menyebut, "Kirimkanlah kursi roda itu."

Dinda, berkasih sayanglah pada keluargamu. Sayang pada mereka bukan saja karena itu perbuatan baik, tetapi sebab memang telah banyak kebaikan yang kita terima dari mereka. Manusia yang baik adalah yang pandai berterima kasih. 

Komentar