Nasehat
Dinda, apa yang sedang kau kerjakan? Jika sedang melakukan sesuatu, berhentilah sebentar. Bacalah suratku ini. Aku hendak menasehati diriku sendiri lewat dirimu.
Apa yang akan dibuat bila perintah telah datang? Laksanakan atau tinggalkan. Lalu bagaimana jika perintah itu datang dari ibu? Maka lakukan jika itu baik dan hindarilah bila ia menyuruh pada sesuatu yang buruk. Namun dalam perkara menolak itu, perlu adab mulia. Menjaga sikap memuliakan ibu-bapak ialah keharusan, sekalipun untuk kebenaran.
Tak semua yang mereka minta adalah yang disuka. Itu ujiannya. Di sana Tuhan meletakkan penghargaan atas seorang hamba. Aku tahu ini mudah disebut, namun tak semudah itu dibuat. Ringan dinasehatkan, tapi perkara berat diterapkan. Begitulah adanya.
Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku bernasehat demikian di tengah hari begini. Aku sedang teringat ibuku. Kalau aku pulang sekarang, ibu pasti tak sedang di rumah. Ia ada di kebun, entah bersama bapak atau sendiri. Ibu bekerja sangat keras, namun malam hari kala menelpon kami satu-satu selalu nada lembut yang terdengar. Seolah tak ada bekas lelah siang tadi. Aku lalu teringat wajah teduhnya dan bantahan-bantahanku yang pernah menggores hatinya. Dan timbulah pertanyaan-pertanyaan yang tadi itu pada diriku sendiri. Sekarang aku tahu, dari mana sebab mulanya seorang anak disebut telah durhaka. Berhati-hatilah!
Komentar
Posting Komentar