September Terlambat

Selamat Oktober Dinda. Maaf untuk sapaan September yang terlambat. Maaf untuk hanya dua pucuk surat yang ku tulis bulan itu. Maaf pula atas khawatirmu. Tapi aku baik-baik saja dan semoga kau juga, ya. Sebagai penebusnya aku akan bercerita tentang Septemberku. 

Dinda, pada satu malam di pertengahan September aku melihat bulan bersinar terang. Indah sekali malam itu. Dari tempatku duduk terdengar riuh rendah suara orang-orang di pinggir jalan, tapi tak ku hiraukan. Bulan terlihat sangat cantik malam itu. Dalam suasana itu aku menyadari satu hal. Bahwa bulan itu adalah bulan yang sama yang dilihat Adam saat pertama kali tiba ke bumi setelah diusir dari surga. Ia adalah bulan yang sama yang disimak Ibrahim dalam perenungannya, yang menemani Musa dan Harun kala mengantar Bani Israil, yang ditatap Yusuf saat bermalam di dalam sumur, yang pandangi Baginda Nabi Muhammad pada malam hijrahnya meninggalkan Mekkah. Itu adalah bulan yang telah menyaksikan bagaimana setiap insan menjalani hidupnya. Itu adalah bulan yang sama. Bulan itu kini memandangiku dan aku memandangnya. Betapa hidupku hanya titik kecil dalam panjangnya lintasan masa kehidupan dunia. Lalu aku menarik nafas dan menghembuskannya kembali. September yang setengahnya begitu melelahkan itu menjadi lebih ringan terasa.

Dinda, pada September ini aku dan seorang temanku memenangkan satu kasus yang telah kami bela sama-sama sekitar enam bulan lalu. Menariknya bukan pada menangannya, tapi lewat kasus itu kami belajar lagi tentang maksud berhukum lalu kesenangan dan kesengasaraannya. Pada akhirnya kami menyaksikan sendiri bahwa kala perkara dibawa dan dibentang di meja hakim tak akan ada kemenangan mutlak. Benarlah pepatah, "menang jadi arang, kalah jadi abu"; "mendapat kambing, kehilangan kerbau." Hukum adalah alat paling kasar untuk menertibkan manusia. Manusia yang tak kuasa mengawal diri agar tak melanggar akan dihalau hukum dan aparatnya. Jika sudah demikian, serupalah dengan membuat seekor hewan supaya menurut dengan dipecut atau dikurung. 

Yang terakhir, September memberiku jeda mempersiapkan petualangan berikutnya. Layar telah ku bentang, jangkar telah diangkat, dan kemudi telah ku pegangi. Kau pula bersiaplah sebab aku tak berencana pergi sendiri. 

Komentar