Hari Ini Lalu Besok

Jam enam pagi lewat 10 menit di sini. Hari Selasa tanggal tiga. Surat pertamaku padamu di bulan Agustus. 

Dinda, apa yang biasanya membuatmu sedih? Bagiku sendiri yang paling menyedihkan adalah saat tahu aku mengerjakan sesuatu semata untuk saat ini. Banyak orang berkata "Nikmati hidup sebab hidup itu hari ini. Soal besok, belum tentu." Bagiku, besok itu sama pastinya dengan hari-hari ini. Besok itu nyata senyata saat-saat ini. Tidak satu pun di antara kita yang tidak menjumpai besok. Orang-orang pikir kalau hari ini mati, maka tak akan bertemu besok. Nyatanya, besok telah menunggu untuk dimasuki. Celakanya, besok bukan lagi cerita untuk berbuat, ia saat bertanggung jawab atas apa yang telah dibuat. Pada besok itu tak ada lagi pilihan sebagaimana banyak pilihan di hari-hari ini. Besok itu tentang menilai pilihan-pilihan yang pernah diambil. 

Dinda, ingatlah ini! Hari ini menjadi penting bukan sebab kita sedang berada di dalamnya, tapi karena setiap kita pasti bertemu besok; membawa serta hari-hari ini. Kalau kau adalah murid, maka belajarlah sungguh-sungguh agar berhasil mendapat ilmu yang dengan itu dicapai suatu kedudukan dan manfaat. Berlogika demikian tidaklah keliru. Tapi hendaknya jangan berhenti di situ. Sambunglah dengan "yang kedudukan dan manfaat itu akan menghantar saya pada esok yang selamat." Oleh sebab besok belum terjadi, bukan berarti tidak akan terjadi. Ia pasti sepasti hari ini.

Komentar