Hujan Kita

Halo Dinda! 

Di sini sedang hujan. Agak lebat dan mungkin akan belangsung sampai larut malam. Sudah hampir dua minggu ini Jakarta selalu mendung pagi dan petang. Sesekali saja hari cerah, namun kebanyakan tak bertahan lama sebab matahari kembali dihalang pasukan awan tebal. Jelas musim hujan telah tiba di sini. 

Lalu, bagaimana di sana, Dinda? 

Dinda, kata orang-orang hujan selalu tak datang sendirian. Ia datang bersama teman bernama rindu dan kenangan. Bunyi hujan yang menyentuh benda-benda bumi meresonansikan peristiwa yang lama mengambang di langit-langit ruang ingatan. Kata orang pula hujan punya aroma. Tak dapat digambarkan, tapi konon bau hujan dapat sempurna mengangkut rasa terpendam muncul ke permukaan. Lembab udara mendekap hati yang sesak oleh rindu lalu tak jarang membuat genangan di sudut mata atau simpul senyum yang kemudian dinikmati sendiri. 

Lalu, bagaimana denganmu, Dinda?

Omong-omong soal hujan, aku sendiri punya kesan. Bagiku hujan tak selalu menghanyutkan perasaan pada hal-hal di masa lampau, tapi rupanya dapat membawa pada rekaan peristiwa masa depan. Pernah pada satu pagi gerimis saat duduk sendiri di tengah ruangan lengang, aku membayangkan kau hadir dan membuka percakapan dengamu. Antara aku dan kau saling tatap. Kemudian aku melontar pertanyaan, "Betulkah kau yakin kepadaku?" Kau mantap menjawab, "Aku yakin." Lalu kau bertanya hal serupa kepadaku dan aku menjawab yang serupa pula dengan jawabanmu. Kemudian kau balik bertanya, "Adakah yang kau ragukan?" "Iya, ada satu." Aku terkejut dengan jawaban itu sebab keluar begitu saja dari mulutku. Kau senyum dan bertanya lagi, "Apakah keraguan itu?" Aku tertegun. Masih merasa heran tentang percakapan ini. Gerimis di luar terdengar menderas dan udara dingin mulai masuk ke tempat kita berada. Kau tak bergeming sedang aku jelas tampak gelisah. Dalam suasana itu aku mengumpulkan kata-kata lalu menjawabmu dengan ini. 

"Aku sangat takut kita tidak dapat mendidik anak-anak kita nanti dengan benar. Alangkah celakanya kertas putih itu digambar dengan keburukan ibu-bapaknya. Lebih celaka lagi kalau kita berdua tidak menyadarinya.

"Dinda, aku melihat betapa cepatnya anak-anak tumbuh dan tanpa disadari mereka telah menjadi dewasa. Aku takut anak-anak menjadi manusia yang salah sebab kita menuangkan warna yang salah. Aku takut kita sangat ketat menjadikan anak-anak juara di setiap kelasnya, tapi tak seberapa peduli tentang ketepatan sholatnya. Atau rutin menjaga sembayang anak-anak namun tak risau tentang lurus niatnya. Aku takut anak-anak hidup dengan hati yang mati sebab tak benar-benar paham tujuan hidupnya sedangkan kita merasa semua telah aman dan berjalan sesuai rencana. Kalau anak berhasil pendidikannya dan telah memiliki pekerjaan mentereng dan penghasilan lumayan, aku takut memaklumi setiap cara mereka mendapatkannya. Aku takut mereka memiliki uang tapi tak membelanjakannya dengan rasa takwa. Aku takut kita menggambarkan dunia pada mereka dengan sempurna tapi tak melukis akhirat yang pasti berlaku pada mereka.

Hujan yang turun di luar lalu turun di matamu dan di mataku. Deras sekali.

Komentar