Sebenar Kerja

Hai Dinda,

Selamat hari raya. Lebaran masih sepi di sini. Kemarin juga sholat tak digelar. Persis seperti tahun lalu, masing-masing merayakan hari raya dari rumah.

Namun, aku menyapamu bukan untuk berkeluh-kesah perihal itu. Bukankah kita harusnya telah terbiasa. Lagi pula semuanya dilakukan dengan maksud agar dunia segera pulih dari sakitnya. Semoga.

Dinda, dalam suratku kali ini aku minat berbagi tentang hal yang ku alami sore tadi. Sejak pagi aku sudah murung. Merasa hampir sepekan ini hanya mengerjakan hal-hal tak seberapa berguna. Urusan kecil yang rasanya terlalu kecil untuk menolong dunia yang punya banyak masalah besar. Singkatnya, aku merasa tak cukup hebat. Sebab itulah aku hilang semangat. 

Sore tadi usai saling mengucap salam dan terima kasih tanda rapat dua jilid hari ini resmi diakhiri, aku dengan malas mengepak perkakas kerjaku. Setelah beres semuanya, aku ambil posisi bersandar lalu mendongak. Diam. Beberapa saat aku seolah dibawa jauh menerawang. Aku melihat bapak dengan sarung dan kemeja. Kostum khas selesai beliau mandi sore. Biasanya menunggu azan maghrib di teras depan rumah. 

Barangkali aku rindu pikirku. Tapi sepertinya tidak. Sore kemarin kami baru berbicang via telepon. Aku yakin ini bukan sebab rindu. Lalu aku dibawa pergi lebih jauh. Kali ini mendapati aku sendiri di ruangan remang dengan lampu sorot mengarah padaku. Dalam suasana itu aku membuat monolog. "Kalaulah ukuran berhasil itu adalah pada besarnya yang dilakukan, maka bapakmu bukan termasuk di dalamnya. Ia hanya petani biasa, tak dikenal namanya, tak disebut di berita, tak diminta pidato dan komentar. Kegiatannya menanam padi lalu memanennya tiga bulan kemudian, begitu terus berulang dari tahun ke tahun. Tak ada hebatnya." Aku mengangguk tanda setuju. Betul itu kataku dalam hati. 

Dalam sikap setuju itu tiba-tiba aku melihat diriku di hadapan cermin besar. Tampak utuh dari rambut sampai kaki mengenakan kemeja kantor dan peralatan kerja. Terlihat keren begitu. Lalu seolah ada yang berbisik,"Ini orang yang pakaiannya bagus ini bapaknya adalah yang tadi itu." Aku terperanjak tapi suara bisikan itu tak memberi kesempatan, ia melanjutkan, "Dapat disebut berhasil ialah jika bersungguh-sungguh dengan penuh tanggung jawab melakukan sesuatu. Tidak pada besar kecilnya ukuran pekerjaan itu, namun pada sikap amanat menunaikannya." Perlahan semua menjadi kabur, berputar-putar menghisapku dan menghantarku pada alam sadar. Aku mengusap wajahku. Ku lirik jam tangan ternyata 15 menit telah berlalu. Aku berdiri dan bersiap pulang. 

Komentar