Aku Bukan Bung Hatta
Selamat sore, Dinda. Maaf lama tak berkabar. Barangkali telah ada seminggu sejak terakhir aku bersurat padamu. Padahal ada banyak momen penting di satu minggu itu, misal saja hari kemerdekaan bangsa yang ke-76. Sekalipun semua orang merayakannya, tapi aku tidak untuk berbincang tentang itu denganmu sore ini. Aku hendak mengaku sesuatu padamu.
Dinda, dua hari lepas aku dinas luar kota. Judulnya adalah rapat untuk keperluan tempatku bekerja. Satu Hari satu malam kami diinapkan di sebuah hotel bagus di kawasan berbukit sekitar satu setengah jam dari tempatku bekerja. Tiba di sana sudah pukul dua petang karena memang berangkatnya selepas salat zuhur. Di sambut panitia, kami dituntun ke ruang pertemuan dan mendapati cukup ramai sesama tamu yang telah datang. Waktu itu rapat belum di mulai. Kurang lebih satu jam kemudian barulah acara dibuka ala kadarnya. Tampak jelas tidak disiapkan dengan baik.
Beberapa orang maju ke depan lalu menyampaikan materi. Satu dua orang di barisan belakang mengajukan pertanyaan dan langsung dijawab pembicara secara bergantian. Jam tanganku menunjuk pukul setengah enam. Satu di antara pembicara itu mengumumkan kalau rapat disudahi. Semula aku kira akan dilanjutkan lagi lepas maghrib, tapi rupanya tidak. Rapat itu paripurna telah selesai. Acara malam diserahkan pada masing-masing orang. Sebelum kembali ke kamar yang telah dipesankan atas nama sendiri, kami dimintai tanda tangan lalu diberikan selembar amplop putih. Itu honorarium rapat hari ini. Sebenarnya tidak untuk hari ini, tapi juga untuk besok sebab demikian yang tertulis di jadwal acara.
Aku cekatan memasukan amplop itu ke saku kiri jaket. Tak ada rasa apapun melainkan senang mendapat gaji yang lumayan. Sampai di kamar aku sembayang dan kemudian membaringkan badan di atas kasur. Lelap sebentar lalu bangkit mandi dan kemudian salat sekali lagi yang terakhir untuk hari itu. Waktu itu masih belum terasa apa-apa. Sekali pejam ternyata telah subuh telah tiba. Aku pergi sembayang subuh lalu membaca satu surat dari kitab suci. Waktu itu pun aku belum merasakan apa-apa.
Jam sembilan tepat aku menerima pesan dari atasan agar segera ke lobby karena kami akan pulang. Di perjalanan aku tertidur. Lumayan pulas dan masih belum merasakan apapun. Sampailah dengan sore ini sesudah sembayang ashar dan mengobrol dengan bapak-bapak kenalan sekitar kos, di dalam kamarku aku membuka satu rekaman berjudul "Bung, Ini Negeri Kita". Aku terhentak dan merasa hina. Orang-orang dalam rekaman itu bercerita tentang Bung Hatta dan pribadi jujur nan sederhananya. Bung Hatta mencatat rapi tiap sen pengeluaran dan pendapatannya sejak tahun empat dua sampai dengan enam lima. Selain untuk mengingat bagaimana ia mendapatkan penghasilan, catatan itu pula untuk menjaga agar tidak termakan uang rakyat kala menjabat. Aku runtuh, Dinda. Aku kemudian bertanya, adakah amplop berisi duit yang kuterima akan diterima pula oleh Bung Hatta kalau ia adalah salah satu peserta rapat tempo hari itu? Aku tak pasti. Tapi rasanya Bung Hatta akan menolak amplop itu. Bukan karena berisi yang haram. Honor itu adalah hak penerimanya sebagaimana tertulis jelas nama berikut angka-angkanya. Bung Hatta akan menolak sebab merasa telah memboroskan uang negara untuk suatu rapat tak seberapa penting yang semestinya bisa dibahas di sela-sela waktu makan siang di kantor sendiri.
Komentar
Posting Komentar