Dua Puluh Tujuh

Kalaulah sedang tenang danau hati, kupikir-pikir alangkah membosankannya hidup ini. Dimulai dari matahari beranjak menyibak gelap, tegak di atas kepala, lalu berarak turun menyongsong gelap lagi. Dengan itu habislah cerita satu hari. Demikian berulang terus dari hari ke hari hingga berbilang bulan dan tahun. 

Kalaulah untuk mengusir jemu itu seorang menyibukkan diri dengan mencari senang dari segala cara, tetaplah tak dapat dipenuhinya gelas puas hati. Meski telah disematkan segala gelar dan pangkat, masih saja ada yang terasa kurang; terus mengingini yang lebih. Aku merasainya sendiri yang demikian itu. Setelah yang satu didapat teringin mendapat yang lain. Begitulah terus hingga tak terasa sekejap saja usia telah berangka dua tujuh. 

Iya, Selasa kemarin adalah hari lahirku, Dinda. Keluarga dan kawan-kawan mengucapi selamat dan menyematkan doa-doa panjang umur. Pada itu aku mendapati diri antara senang dan sedih. 

Aku bersyukur telah diberi kehidupan, dicukupkan kebutuhan, disempurnakan kebahagian lewat baiknya orang-orang sekitar. Benarlah kalau takkan pernah dapat dihitung nikmat Tuhan itu sebab terlampau banyaknya. Maka memang tak pantas jika sekali-dua kali sedih dan kecewa yang datang dapat sepadan menghapus kesan nikmat yang diterima sepanjang hayat. Untuk itu, aku melantunkan terima kasih pada Tuhan yang Maha Pemberi. 

Lepas dari itu, terasa sedih juga. Seolah saja usia terus bertambah, tapi hakikatnya hidup adalah hitungan mundur. Jika dikira agaknya aku merugi, Dinda. Hidupku yang dua puluh tujuh rasanya belum dapat menjamin selamat hidup setelah hidup yang ini. Masih banyak perbuatan dosa yang dibuat dan terlalu banyak bermain-main. Padahal, tak ada jaminan aku dapat menggenapi usia sampai dua puluh delapan. 

Dinda, masa yang berlalu begitu pantas tak boleh disia-siakan. Sedapat mungkin digunakan dengan bijak. Aku yang telah menetapkan tujuan akan mengisi hari-hari untuk mencapainya. Segala upaya akan dikerahkan. Jika nanti kita bertemu akan ku kabarkan padamu perihal apa itu. Aku hendak mendengar pendapatmu. Besar harapanku kau dapat bersetuju.

Komentar