Ancaman Kawan

Untuk apa kita berkawan? Tanyakan itu pada temanmu. Tadi malam aku bertelepon dengan teman lamaku; saling bertanya tentang itu. Memastikan apakah yang membuat kami terus terhubung hingga saat ini. 

Aku yang memulainya. Aku berkata padanya, "Aku tak berteman dengan kau karena materi. Ada banyak yang lebih berharta kalau materi adalah alasan kau kutemani." Di ujung sana, ia menyambung dengan penuh semangat; menyebut hal serupa. "Kau bertugas mengingatkan aku kalau aku keliru," kataku. "Aku yang pertama akan menghukum kau kalau kau berubah keji. Aku akan menyebut pada orang-orang bahwa kata-kata kau hanya bualan. Kau akan kubuat malu semalu-malunya," ancamnya. "Dengan tanganku sendiri aku akan memastikan kau akan mendapat balasan kalau-kalau kau berbuat aniaya," aku balas mengancamnya. Lalu nada bicara kami merendah dan hening beberapa saat. Dalam hati masing-masing menghitung umur perkawanan kami dan merancang agar itu terjalin selama mungkin. 

Buatlah banyak teman, Dinda! Agar bila kau tersilap segera kau sadar sebab senantiasa sedia teguran sayang. Barangkali usai membaca surat ini kau akan mulai mengira-ngira siapakah yang dapat kau sebut kawan yang sebenarnya; siapa yang setia memberi nasihat baik dan merentang rintang agar kau tak berterusan mengambil jalan salah. Dinda, sepenting kau menghitung mereka, jangan lupakan menghitung dirimu sendiri. Sudah menjadi kawan siapakah dirimu itu? Adakah di antara ramai kawanmu yang telah dengan tulus hati kau bagi nasihat kebaikan? 

Komentar