Undangan Lepas Isya
Hai, Dinda. Juli akan segera belakhir. Aku menunggu hujan turun lagi. Bulan ini hanya tiga kali. Setidaknya sebelum dia pergi berlalu turun lah sekali lagi agar genap hitunganku.
Tentang hitung-menghitung, hari ini adalah minggu ketiga salat Jumat tak digelar. Pandemi masih belum berhenti. Dibanding beberapa waktu lalu, situasi saat ini berangsur membaik kata penyiar-penyiar dalam berita.
Oh iya! Hampir terlupa tujuanku mengirimimu surat ini. Dinda, dua malam lalu aku yang akan pulang selepas sholat magrib tiba-tiba dicegat sesorang di gerbang masjid. Setelah mengamati, aku mengenalinya. Dia penjaga parkir depan masjid. Dari seberang jalan ia memberiku isyarat untuk menghampiri. Melihat itu aku memelankan langkah dan menunggunya di seberang.
"Bang, itu tentang beasiswa itu yang abang pernah cerita ke saya gimana, Bang?" tanyanya langsung. Saya yang masih belum menangkap arah pembicaraan ini terus bertanya, "Gimana, Bang?" "Gini, Bang. Anak kakak saya kan lulus di UNJ. Tapi dia nggak punya cukup biaya untuk kuliah. Barangkali kalau beasiswa dia bisa kuliah, Bang." "Oh itu... Iya banyak jenis beasiswa sekarang, Bang. Macam-macam ada," jawabku buru-buru menyambungnya. "Bang, boleh abang datang temui dan bilang langsung ke Kakak saya dan anaknya, nggak Bang?" "Di mana?" tanyaku. "Di rumahnya. Dekat kok, Bang. Di belakang sini, masuk gang ini dikit, terus nyampe." "Baik. Tapi habis Isya ya, Bang." "Oke, Bang. Makasih ya Bang." Saya mengangguk lalu melanjutkan jalan pulang.
Kulihat ia telah menunggu. Langsung saja kami menuju ke rumah yang dimaksud. Setelah melewati satu tikungan kami tiba di depan sebuah rumah dan disambut oleh tiga orang wanita. Satu berusia paruh baya dan dua lainnya kutebak adalah anaknya. Setelah saling berkenalan, aku dipersilahkan duduk. Ia minta marfa sebab tak data mengajakku masuk ke dalam rumah. Rumahnya terlalu sempit untuk kami berlima katanya. Aku memakluminya. Jadilah kami menggelag perbincangan di teras semit rumah berhimpit dengan badan gang.
"Jadi, bisa ya, Bang?" tanya sang Ibu kesekian kali memastikan bahwa ada peluang anak sulungnya dapat berkuliah. "Insya Allah bisa, Bu. Pertama, cobalah datang ke pihak universitas dan ajukan permohonan pengurangan biaya SPP," jawabku. "Nanti setelah perkuliahan berjalan, Mbak-nya juga usahakan ikut beasiswa ya," sambungku berkata pada putrinya. Terlihat ia mengangguk. "Selain pastikan nilai akademik tetap bagus, pastikan pula Mbak-nya ikut berbagai kegiatan komunitas atau organisasi kemahasiswaan ya. Pintar saja tidak cukup, hampir selalu yang diterima pemberi beasiswa adalah yang juga berperan aktif di lingkungannya." Ia terlihat mengangguk lagi. Jarang anak itu menjawab langsung. Ia dari tadi lebih sering menunduk, namun aku dapat melihat tekadnya.
Aku pula menerangkan pada ibu-anak itu kalau kuliah menjadi penting bukan soal mendapat ijazah dan gelar-gelar yang sering ditanya saat hendak melamar suatu pekerjaan saja, melainkan kuliah itu pada adanya kesempatan mengembangkan keterampilan hidup dan memiliki teman-teman selingkung yang bervisi sama untuk maju. "Nanti cari pergaulan yang baik ya, Mbak." Aku mendalamkan suaraku dan menatap anak baru lulus SMA itu. "Jangan termakan gengsi. Sebab tak hendak kalah gengsi, ramai yang tak dapat belajar dengan benar." Ia mengangguk. Ibunya lalu meneruskan kata-kataku itu padanya. Ia mengangguk lagi.
Hampir setengah jam kami di sana. Aku berpamitan, tapi kutinggalkan doaku untuk keluarga kecil itu agar anak-anaknya belajar dengan baik sehingga dapat memberi kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.
Dinda, agak panjang baris suratku kali ini. Lewat cerita ini aku hendak pula mengingatkan diriku kembali dan pula dimu kalau pendidikan itu berguna untuk mengangkat diri dan sesama pada martabat yang mulia. Gelar dan kertas ijazah hanya akan berarti kalau si empu betul telah terdidik lahir dan batin. Tak sekedar ukuran angka dan huruf, tapi pula mampu terbukti dari tutur dan laku.
Komentar
Posting Komentar