Menyeka Air Mata Sengketa


Dinda, apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Aku baru selesai berolahraga; menyelesaikan satu putaran lari pagi berkeliling komplek. Saat tengah istirahat, aku teringat telah cukup lama tak bersurat padamu. Setelah semuanya siap, aku kesulitan menemukan topik pembicaraan. Bukan tak ada yang dapat dibagi, tapi sedikit kesulitan menemukan hal apa yang paling tepat untuk dibagi. Lalu aku terpikir tentang ini. Simaklah!

Dinda, dalam cerita bahagia yang kau damba, adakah juga kau reka akan ada duka yang turut serta? Sebab masing-masing kita adalah manusia biasa, maka mesti berpeluang berbuat salah. Kala itu terjadi akan ada hati tergores dan perasaan tersinggung. Dinda, bagaimana kau akan bersikap jika aku yang membuat duka? 

Saat ada sengketa antara kita, hendaknya masing-masing mencari jalan penyelesaian. Aku mengajakmu agar tak diam dan bertahan. Keluar dan berbicara tentang persoalan rasanya adalah cara paling bijak mengurai kusut masalah. Dalam sesak amarah, sisakan ruang di hati untuk bertanya dan mendengar. Dapat saja aku tak sadar kalau telah membuatmu luka, maka saat itu kau perlu bertanya mengapa aku tega melakukannya. Dinda, jangan diam. Ada kalanya seseorang menjadi tumpul saraf rasanya; tak sadar ia berbuat salah. Dalam itu, bila kau sekedar menunggu mestilah lama luka menganga dan lama pedih dirasa. 

Dinda, jangan pula rela bertanya tapi tak rela menyiapkan telinga untuk mendengar jawaban. Akan sia-sia kalau begitu. Dengarlah dulu baru setelahnya dapat menerima atau menolak. Akan salah mengambil simpulan tanpa menimbang jawaban si pelaku. Aku tak sedang membujukmu agar memaklumi salah-salahku. Aku hanya bermaksud agar kau menilai masalah dengan penuh dan menghukumku dengan adil. Dengan begitu kita dapat menyeka air mata sengketa dan melanjutkan kisah bahagia.

Komentar