Aku, Nenek, Ibu, dan Sore

Waktu pulang kemarin aku menyempatkan ke rumah nenek. Ia adalah ibunya ibuku. Rumahnya terhalang 3 atau 4 desa dari desa tempat kami tinggal. Sudah hampir setahun aku tak pulang ke rumah dan tak berjumpa dengan keluarga lengkap di sini. Namun sore ini setelah pulang dari kota aku memutuskan singgah ke rumah nenek. Seporsi martabak kacang-tape ku bawa. Ku harap beliau menyukainya. 

Aku tiba dan memarkirkan motor di depan rumah. Ku lihat tak ada siapa. Sepertinya Mak Nga, kakak ibuku yang biasa merawat nenek sehari-hari, sedang pulang ke rumahnya. Lalu aku membuka pintu dan mulai masuk ke dalam sambil memanggil nenek. Karena telah sore, ruangan tampak remang. 

Kemudian di ruang tengah aku melihat nenek. Mendapatinya tengah duduk di atas kursi kayu, menyampingi meja dengen setoples biskuit dan segelas air. Nenek duduk diam di sana. Aku menghampirinya dan menyapanya. Ia diam, sepertinya tak menyadari kehadiranku. 

Aku lalu mengambil tempat duduk di hadapannya. Lalu ku tawarkan buah tangan yang ku bawa. Aku mengangkat sepotong martabak dan bertanya, “Nek, nenek tahu siapa aku?” Setahun terakhir nenek menderita pikun dan kondisi kesehatannya terus menurun. Ibu memberitahuku itu saat kami biasa bicara melalui telepon.

Nenek lalu mengangkat wajahnya dan menatapku. Ia mengamati wajahku. Aku menggenggam tangannya yang penuh keriput. Ia tersenyum lalu berkata, “Siapa?” Aku tak tahan lagi menahan air mataku. Aku menangis sambil menjawab. “Ini Dona nek. Aku cucu nenek.” Tak tahu mengapa, tapi ku rasa air mataku tak mau berhenti. Aku menciumi pipinya. Aku memeluknya, erat sekali. 

“Kenapa menangis?” tanya nenek polos. Tangisku semakin lebat. Isakkanku menggema di sudut-sudut ruangan lengang yang dipenuhi haru. “Nek, terima kasih telah melahirkan ibuku. Terima kasih telah membesarkannya. Terima kasih telah mendidiknya …” Aku menciumi tangannya. Tangan inilah yang membelai ibuku dulu. "Tangan inilah yang menyuapinya. Tangan ini kini keriput dan lemah karena berkerja siang malam untuk ibuku," ratapku padanya. 

Pada wajah nenek kulihat wajah ibuku. Pada tubuh kurus dan lemahnya, ku lihat pula raga ibuku. Aku melihat betapa waktu telah menyempurnakan perjuangan mereka. Sore itu, aku menangisi nenekku, aku menangisi ibuku. Aku menangisi harapku, agar dapat melayani kala ibu telah seperti nenek hari ini. 

Komentar