Agar Berbagi

Hai, Dinda! Apa kabarmu? Semoga kau baik-baik saja.

Dinda, Aku hendak bertanya sesuatu padamu. Apa yang terasa di dadamu kala berpapasan dengan seorang anak miskin di pinggir jalan yang kau lalui? Adakah hatimu bergetar kasihan padanya? Adakah kau memberikan sesuatu dari apa yang kau miliki? Adakah kau mengucap kalimat-kalimat baik agar bebannya diringankan? Adakah kau pernah menangisi mereka? Jika pernah, itu tanda hatimu hati yang lembut dan tak ada yang lebih baik dari itu.

Dinda, jika kau hidup berkecukupan saat ini dan punya kehidupan yang baik maka bagilah sebagian milikmu itu pada mereka yang kekurangan. Berbagi bukan soal banyak-sedikit. Berbagi itu tentang kemenangan hati dari penyakit pelit. Tak semua sanggup sekalipun ada banyak yang dimiliki dan tak tertampung lagi dalam genggaman sendiri. Berbagi itu soal rasa bukan soal angka. Banyak pun jumlah yang dipunya tak menjamin seorang rela berbagi bila tak jukup punya rasa iba. Rasa iba adalah tanda hati yang lembut, Dinda.

Dinda, aku tak sedang mengajarmu. Aku cuma mengigatkan diri sendiri agar jangan pelit. Kita sekali-kali tak membuat sendiri yang kita makan dan yang dipakai. Tuhan menyediakannya bagi kita. Kita bukan pembuat rezeki; kita semua adalah pemakan rezeki-Nya. Maka sebagai sesama pemakan rezeki, tak perlulah berlaku super irit sampai-sampai angin saja sulit lalu. Sebagai pemakan rezeki, nikmati seadanya yang ada dan beri sebagian pada yang kurang berada. Tuhan yang membuat rezeki itu sengaja membagi tak merata. Ada hamba yang dibagi banyak, ada yang dibagi sedikit. Tuhan bukan tak adil. Tuhan hendak menguji pada keduanya, adakah keduanya pandai berterima kasih. Pada yang mendapat sedikit akan dilihat bagaimana si miskin tak menyempitkan yang sedikit dan tak mengecilkan yang kecil. Hanya yang tetap menyisakan ruang lega dalam dada yang akan sempat berucap terima kasih. Kepada yang dibagi lebih banyak, Tuhan hendak melihat apakah si kaya akan memuji-Nya atau justru memuja diri sendiri. Mengklaim segala daya upaya sebab ianya sendiri; tak ada urusan dengan orang lain. Demikianlah awalnya timbul sifat kikir itu.

Komentar