Menulis Benar
Pagi ini sibuk sekali di sini, Dinda. Hari ini di masjid depan akan diadakan vaksinasi. Bunyi toa mememanggil-manggil warga agar sudi disuntik. "Standar Arab Saudi dan cukup datang membawa KTP. " Kurang lebih begitulah bunyi iklan vaksin pagi ini. Aku tak turut serta karena sudah genap dua dosis sejak bulan Maret lalu.
Oh ya, Dinda. Tadi selepas lari satu keliling aku mendapati satu panggilan tak terjawab. Langsung kupanggil kembali dan satu suara berat mengangkat salam. "Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh. Baa kaba, Bang?" tanyaku. "Alhamdulillah, kaba baik," jawabnya teriring tawa kecil. Senang sekali tersambung kembali dengan sahabatku ini setelah sekian bulan tak bertukar kabar.
Mengejutkan kala ia bercerita jika beberapa waktu lalu ia sekeluarga tertimpa musibah kini hari, Covid-19. Aku tanya lebih dahulu situasi ibunya lalu anggota keluarga lainnya. Berurut ia menjawab semua telah pulih. Alhamdulillah. Aku protes, sebab apa tak memberi tahu lebih awal. Ia berkilah tak mau membuat gaduh kawan-kawan. Begitulah ia. Namun, lepas itu aku mensyukuri ia dan keluarganya baik-baik saja.
Lalu kami membahas tentang tulisan terbarunya yang terbit di media nasional tiga hari lalu. Aku mengucapinya selamat. Lewat tulisannya itu ia menyemangati semua agar tak melulu diam lunglai perkara wabah berkepanjangan. Sebagaimana janji Tuhan setelah kesulitan ada kemudahan, semestinyalah ambil sikap optimis merakit harapan dan bangkit melawan. Aku saratus peratus sepakat dengannya. Tak ada kusut yang tak selesai, tak ada keruh yang tak jernih.
Perbincangan berlanjut pada pengakuannya perihal alasan jeda setahun menulis dan mengapa memulai kembali. Dalam yang setahun itu ia berkontemplasi dan merekonstruksi diri. Ia mendapati kalau sikap positif adalah usungan utama yang akan selalu dibawa dalam setiap tulisan. Lain dari itu, mengurut secara benar motif menulis juga hal yang mutlak katanya. Maksud berbagi ide yang diyakini benar adalah yang teratas. Sebagaimana disebut Pramoedya "menulis adalah untuk keabadian", maka hanya kebenaran saja yang layak dibagikan sebagai kenang-kenangan hidup; jika tidak, maka bersiap-siaplah menerima hukuman sebab telah menyumbang merusak banyak jiwa. Setelah itu barulah boleh diiringi dengan hasrat agar dikenali dan menerima hak dibayar atas tiap-tiap tulisan yang dimuat. Dua yang terakhir ini patut dimaklumi dalam kadar seorang manusia; tak perlu dipermasalahkan sepanjang tak berlebih-lebih hingga menutup maksud yang utama tadi.
Di ujung perbincangan ia mengundangku untuk turut langkahnya berbagi sesuatu di media. Aku dengan terus terang menyebut belum cukup siap; masih perlu banyak berbenah dan yang terpenting adalah menemukan rumus sendiri agar lurus dalam menulis, seperti yang telah ia miliki kini. Pada akhirnya antara kami sepakat kalau menulis bukan sekedar kepandaian merangkai kata, tapi mesti dijiwai oleh maksud berbagi kebaikan; tak lain agar kekal kebaikan itu bagi pengarang sendiri. Termasuk surat-suratku ini, Dinda. Semoga kau dapati ada kebaikan padanya.

Komentar
Posting Komentar