Musa dan Harun

Kali ini tentang pagi tadi. Aku ada rapat pukul sembilan. Sembari menunggu aku memutuskan menelpon ke tempat yang jauh. Seminngu yang lalu terakhir kami berbicara. Waktu itu ia berkabar tengah sibuk dengan program-program KKN. Aku penasaran sampai di mana program itu telah berjalan.

Dia adik lelakiku. Satu-satunya adik lelaki yang ku punya. Kami berjarak 5 tahun. Kami berbeda. Dia jenis yang tenang dan jarang bicara, sekaligus tipe yang menghibur bagi yang telah mengenalnya. Di antara yang paling mengenalnya adalah Ibu. Dia adalah yang paling sering membuat ibu tertawa dibandingkan siapa pun di rumah kami. 

Onga begitu kami memanggilnya, yang berarti anak tengah. Di rumah, tak biasa kami saling panggil nama. Seru begitu. Rasanya seperti tak pernah bertumbuh dewasa. 

Ini tahun terakhirnya kuliah. Sebagian isi pembicaraan adalah tentang tugas akhir, rencana-rencana dan peluang setelah tamat. Namun, pagi tadi topiknya lebih serius. Aku berpesan tentang cara kami bersaudara. "Aku dan kau bagai Musa dan Harun," kataku. "Aku akan mendukungmu dengan segala yang ku punya." "Tapi ada disiplin antara kita. Kita hanya akan saling mendukung dalam kebaikan. Tak ada dukungan untuk keburukan." Ia bersetuju. Begitulah telepon itu kami akhiri, sekitar lima belas menit sebelum pukul sembilan.


Komentar