Rencana Itu
Pagi ini cerah, namun masih terasa dingin. Sabtu pagi yang tenang. Meskipun menghirup udara disini tak selega di kampung, tapi untuk memulakan hari agaknya masih cukup layak.
Dinda, apa kabar? Apa kau punya rencana hari ini? Ingin pergi ke suatu tempat? Sendirian? Tak apa jika kau ada pekerjaan di akhir pekan begini, aku pun juga. Beberapa hal tak sempat diselesaikan di hari kerja, jadi berhutang di hari libur. Tak apa, jalani saja dengan bahagia, semogalah ia menjadi berkah.
Dinda, aku mau cerita. Ini tentang rencanaku, tapi aku butuh pendapatmu. Bagaimana menurutmu jika kita pindah ke tempat baru yang jauh dari rumah saat ini. Maukah kau ikut bersamaku? Maukah menemaniku di sana? Entah mengapa aku hendak mengawalinya denganmu dari suatu tempat yang sederhana, jauh dari gemerlap kota dan fasilitas serba adanya. Entahlah, tapi yakinku kita akan menjadi luar biasa di masa depan bila memulainya dengan begitu. Akan ada semangat, keikhlasan, rasa menghargai. Aku ingin yang ku cintai, dan tentu aku sendiri, memiliki semua itu.
Tapi semua tak mudah. Tidak untukmu, bahkan untukku sendiri. Akan banyak yang meragukan rencana itu, bahkan penentangan. Meski begitu, aku hendak kau mulai pikirkan. Aku juga akan berulang-ulang berpikir kembali untuk memeriksa segalanya, apakah rencana itu masuk akal atau hanya obsesiku yang berbahaya. Kita masih punya waktu. Kau boleh berpendapat apa saja tentang ini, sebab ini bukan hanya soalku tapi juga soalmu. Mari kita merenung.
Komentar
Posting Komentar