Wanita, Sekolah, dan Ibu Rumah Tangga

Dinda, kamu sibuk? Kalau sudah luang, kau boleh baca surat ini. 

Beberapa waktu lalu, aku berbincang dengan seorang kawan. Semulanya kami membahas lain, namun di ujung perjumpaan membincangkan soal wanita dan peranannya. Pada akhirnya kami sepakat pada satu titik. Sengaja ku ringkaskan untukmu agar kalau sempat dapat kau baca.

Itu dimulai dengan pertanyaan, "Lantas, apakah salah jika di masa ini wanita hanya menjadi ibu rumah tangga?" Pertanyaan itu keliru dan perlu diluruskan. Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan juga dan itu tidak dapat disebut ‘hanya’. Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang berat dan perlu hati untuk ditetapi. Luarannya juga tidak sepadan disandingkan dengan kata keterangan ‘hanya’, sebab dari pekerjaan itu ditentukan arah jalan hidup anak-anak dan segenap anggota keluarga lainnya. Pertanyaan itu juga tidak boleh dijawab keliru. Menjadi ibu rumah tangga sama sekali bukan keputusan yang buruk dan patut ditempatkan sebagai pilihan terpaksa sebab tak ada pilihan lainnya. Sepatutnya berhenti memaklumi bila profesi ibu rumah tangga identik dengan pendidikan kurang tinggi, pergaulan yang kurang luas, dan tidak produktif. 

 

Agar terhapus stigma lama itu, maka perlu dimajukan kenyataan sesungguhnya, bahwa pekerjaan ibu rumah tangga bukanlah tanpa keahlian. Sebaliknya, pekerjaan itu justru menuntut multidisiplin pengetahuan dan keterampilan. Hari ini, dunia dengan segala problematikanya menuntut ibu rumah tangga memiliki keterampilan lebih dari sekedar mengandung, melahirkan, dan menyusui, memasak, dan mencuci. Seorang ibu wajib protektif namun dengan cara kreatif-inovatif sehingga anak merasa nyaman di dalam rumah, bukan membuat mereka bak hidup dalam penjara bersama orang-orang kolot. Ibu rumah tangga wajib menjadi canggih, namun tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar hidup yang benar. Celakanya, bila tak pandai meramu, ibu modern menjadi permisif dengan pergaulan bebas anak-anak, atau menyilahkan tutur kata tak teratur dan sikap kasar anak dengan alasan bebas berekspresi. Bukannya membangun, malah si ibu sendiri yang mendorong rubuhnya karakter anak.

 

Untuk menghadapi medan demikian sulit itu, mestilah wanita perlu sekolah sampai tinggi, ambil bagian dalam memecahkan persoalan sosial di sekitarnya sejak dini. Tak perlu khawatir memberi ruang itu pada wanita. Wanita yang penuh ilmu akan mengukur batas geraknya sendiri. Terangnya ilmu akan menuntun mereka secara sadar tentang hak dan kewajiban, tanpa perlu lelaki mengeluarkan kesan sebagai penghalang. 

Komentar