Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Dunia Kita

Gambar
" Mengapa kau tiba begitu lama? " Barangkali begitu tanyamu nanti pada kali pertama jumpa kita. Dalam senang penyambutanmu, pertanyaan itu adalah yang kau pilih. Kau lama menyimpannya dan sekarang pikirmu adalah saat tepat untuk mengajukannya.  " Aku kesulitan menemukan diriku. " Kurang lebih begitu jawabku nanti. Sebenarnya kau bisa saja memilih berhenti dan menghindari pembahasan ini. Kau juga bisa saja segera maklum lalu pura-pura mengerti. Tapi ku rasa kau tak akan begitu. Kau akan menunggu jawaban yang dapat membuatmu paham mengapa lama engkau harus menanti. Aku tak mau merusak kesan awal. Kita berdua lama menunggu pertemuan ini. Tak pantas kalau kau telah sesak menahan penasaran. Sebab itu akan ku jawab lebih dulu pada surat ini sehingga tak kau tanyakan lagi nanti. " Dinda, aku, mungkin kau pula sama, sebelum ini telah melalui banyak hal. Mustahil dapat menemukanmu dari sekian banyak kemungkinan jika perihal diri sendiri tak seutuhnya dimengerti. Tak tah...

Desember

Hai, Dinda! Aku kembali. Wahh sudah Desember ya? Apakah ada yang aku lewatkan? Apakah itu banyak? Aku tak yakin jika semua sama dari sebelumnya. Sebab November aku tak berkabar dan sangat mungkin macam-macam hal telah terjadi dan terlewatkan. Dinda, maaf untuk bulan kemarin atas ketidakhadiranku. Bukan aku tak ada waktu atau super sibuk. Sebenarnya separuh bulan lalu aku menghabiskannya untuk keperluan pekerjaan dan setengahnya lagi aku mengambil masa untuk menyendiri. Aku menikmati separuh bulan kemarin untuk melihat diriku lagi. Maaf jika mungkin itu membuatmu risau dan tak nyaman. Aku baik-baik saja di sini.  Aku rupanya tak sehebat itu. Hari-hari yang ku harap dilewati sendiri dalam sepi rupanya selalu menghadirkan bayanganmu. " Apakah rindu seberat ini? " Dinda, aku baru pulang kerja dan segera setelah tiba aku menulis surat ini. Aku merasa bersalah kalau-kalau tiap kali kau membuka kotak surat dan mendapatinya kosong lalu kau kecewa. Aku tak mau mengecewakanmu. Tak ada ...

Seminggu Dalam Selembar Surat

Gambar
Halo Dinda. Apa kabar? Sekarang Sabtu sore di sini. Dinda, aku tak punya rencana pergi malam ini. Sepertinya akan lebih baik kalau tidak kemana-mana. Mungkin membaca beberapa artikel atau memutar lagi film favoritku " Little Forest " akan cepat membunuh sehari setengah akhir pekan yang tersisa.  Dinda, maukah kau mendengar cerita semingguku? Aku angap kau setuju, maka simaklah. Dinda, seminggu ini aku rutin berangkat ke tempat kerja lebih awal. Belakangan  load pekerjaan cukup banyak. Beberapa menuntut diselesaikan segera sementara yang lain telah menunggu. Tak apa begitu. Sungguh! Dengan itu aku tak lagi merasa bersalah kala tiba waktu terima upah. Hehe... Dinda, aku suka saat makan siang dan benci waktu makan malam. Bukan tak bersyukur, tapi sebab makan malamku kerap kali tak berteman. Bukan karena aku tak punya cukup kawan, tapi seramai apapun manusia di sekeliling dan sebanyak apapun transaksi cerita tetap tak meluruh karat gelisah. Maka itu ku pilih tinggal lebih lama di...

Tawakal

Gambar
Dinda, kau pernah patah hati? Kalau aku pernah. Malu mengaku tapi ku rasa kau perlu tahu. Kau perlu tahu kalau aku tak sekuat itu; tak setegar yang kau dengar dari orang-orang.  Dinda, aku malu mengaku lagi tapi aku ini pengecut juga. Ingin mengecap manis tapi tak siap merasa pahit. Berhasrat pada bahagia tapi enggan merasa derita. Padahal khatam kajiku kalau tak ada tikungan tak berbalas, tak ada lereng selalu melainkan tanjakan di muka telah menunggu.  Dinda, kini kau tahu lelaki macam apa aku ini dan sebab kau sudah tahu yang itu, maka akan ku beritahu juga kau yang ini.  Dinda, sekalipun lara mengancam agar tak lagi bertaruh nasib, tapi aku ini jenis manusia nekat. Nekatlah yang membabat ragu. Nekat menjemput berani lalu mewujud jadi kata dan tingkah. Maka meski tahu tinggi jalan menanjak, ku daki jua atas yakin melihat padang bunga di sebaliknya; meski beribu kelokan tajam, ku tempuh juga bila mengarah pada tujuan yang lama didamba.  Dahulu nekadku adalah pertar...

Kunjungan Akhir Pekan

Dinda, apa kabarmu? Semuanya aman? Insya Allah selama kau bersama Tuhan, semua akan aman. Tak usah khawatirkan yang sedang terjadi sekarang. Serahkan saja pada jalannya Tuhan, maka semua akan menjadi yang semestinya.  Dinda, pagi tadi lepas menyelesaikan semua hutang tugas Jum'at lalu, aku dihubungi seorang kawan. Ia bertanya apakah boleh mampir ke tempatku hari ini. Aku menjawab tentu saja boleh. Sudah lama memang kami tak saling jumpa. Terakhir dua tahun lalu di hari wisudaku, sekitar sebulan sebelum pandemi. Maka kala ia mengajak bersua tentulah aku menyambutnya dengan senang hati. Ini akan menjadi kunjungan akhir pekan yang menyenangkan. Selesai sembayang Dzuhur benar saja ia tiba. Usai berbasa-basi saling bertanya kabar dan kegiatan, maka selanjutnya diteruskan dengan percakapan intim kawan lama. Ia mulai dengan mengeluhkan studinya yang belum selesai. Banyak kendala katanya, ini dan itu. Aku menabahinya dan menyuruhnya agar tak lekas putus asa. Lalu ia membuka pembahasan baru...

Kalau Jatuh Cinta

Gambar
Apa hal paling membahagiakan dari peristiwa jatuh cinta? Mungkin beragam ekspresi bisa dituduh sebagai ungkapan untuk yang disebut cinta itu. Tapi aku punya jawaban sendiri yang ingin ku alami sendiri.  Kalau aku jatuh cinta, aku ingin berpantun dalam doa untuk satu keinginan yang belum kesampaian. Menurutku itu puncaknya romantisme.  Kalau aku jatuh cinta, aku akan jatuh cinta pada cara kita yang berhasil membuat hal-hal serius diobrolkan dengan ringan tanpa meremehkan. Kalau aku jatuh cinta, aku ingin melihat cinta itu tak bertahan dalam fisik dan materi. Cinta kita semangat membangunkan kebaikan-kebaikan yang melampaui dunia yang ini.  Kalau aku jatuh cinta, aku ingin jatuh cinta padamu, saja.  

Sitorus

Gambar
Malam, Dinda. Aku sedang rindu. Beberapa peristiwa terjadi dan kau belum di sini. Rindu menjadi candu tak berpenawar. Segala yang disebut dapat menjadi obat hanya ampuh beberapa saat; tak menyembuhkan, sekedar memberi jeda.  Dinda, apa kabarmu? Jangan sakit atau terlalu kelelahan. Atur-aturlah waktu dengan bijak. Sisakan waktu untuk istirahat dan makan yang enak-enak. Harus senang agar tak dilahap penyakit. Begitu pula batinmu. Jangan biarkan kosong dan gersang. Penuhi dengan rasa syukur sehingga sedikit mengeluh; banyak-banyak sabar agar semua tampak mudah-mudah saja.  Dinda, pada hampir tengah malam ini aku hendak bercerita. Kejadiannya baru saja tadi di warung kopi langganan kami. Kadang-kadang kalau suntuk aku dan beberapa kawan sekerja singgah dahulu untuk bercakap-cakap di sana. Kadang-kdang pula di mulai petang hingga menjelang tengah malam. Begitulah kami kadang-kadangnya.  Tadi aku datang menyusul ke sana. Semula kami bertiga dalam rencana, namun aku datang terla...

Kurban Cinta

Dinda, selamat hari raya. Tadi pagi aku merayakannya di sini bersama ramai warga persyarikatan Muhammadiyah. Sehari lebih awal dari ketetapan pemerintah. Dengan tak mengurangi khidmat hari raya, beginilah cara beragama yang dewasa dari orang Indonesia. Saya bangga pada itu. Dinda, besok aku pula akan berkurban seekor kambing. Ku titipkan penyembelihannya pada masjid di depan kosku. Tadi sore panitianya mengabariku kalau hewan kurban akan dieksekusi besok jam setengah sembilan pagi. Aku ditawari menjadi sukarelawan. Dengan mantap dan segera aku menjawab bersedia. Dengan itu sehariku besok akan penuh.  Dinda, menyembelih hewan kurban sebenarnya tidaklah sulit. Yang sulit adalah membunuh rasa memiliki yang membelenggu masing-masing kita. Seringkali kita merasa kita adalah pemilik atas sesuatu atau bahkan atas seseorang. Sehingga lah tak sampai hati bila ia pergi dari sisi. Padahal kalau kita sadar diri, segala yang ada ini bukan kita yang punya. Tuhan meminjamkannya pada kita untuk di...

Tentara Wanita

Gambar
Halo, Dinda. Selamat bulan Juni. Tak terasa sekarang kita telah berada di tengah tahun. Itu artinya masih sisa setengah lagi untuk dilalui. Jika setengah yang kemarin itu berat, semoga saja setengah yang akan datang ini terasa lebih ringan. Tapi seringan-ringannya hidup, masalah tidak akan hilang untuk seterusnya diganti dengan jalan lurus tanpa rintangan.  Dinda, rumah kami sedang gaduh sekarang; penghuninya terpecah dua kubu. Asal-usulnya adalah cita-cita adik perempuanku yang hendak menjadi tentara. Dia sebut pada kami kalau selepas ujian sekolah nanti akan mendaftar ujian masuk tentara. Tentang itu ibuku langsung tak sepakat tapi bapak mendukung paling semangat.  Meskipun seorang, bukan berarti ibu tak berpenyokong. Alasannya seperti "pasti sulit bagi perempuan berada pada kumpulan pekerjaan yang didominasi lelaki, resiko menetap jauh dari rumah, dan bila tiba umur berkeluarga mesti susah mencari suami" nyatanya disetujui senarai sanak keluarga dan tetangga sekeliling rum...

Perihal Bangga

Dinda, apa kabar? Aku baik-baik saja dan semoga kau pula. Sabtu pagi dengan gerimis di sini. Rencana mencuci pakaian ku undur saja dulu. Aku sebenarnya juga sedang menunggu datang seorang kawan. Ia mengabariku kemarin pagi akan berkunjung ke sini. Dulu kami sama-sama sekolah di sini dan sekarang ia telah mengajar di kampus. Bangga juga saya punya kawan hebat begini. Eh, omong-omong soal bangga, aku ingin cerita tentang bangga versiku. Menurutku kau perlu tahu soal ini. Selain agar kau tak salah tafsir tentangku, juga supaya kau punya kesempatan mengukur keyakinan padaku. Dinda, ketika di sekolah menengah pertama, di kelas tujuh seingatku, guru matematika kami menjelaskan dua cara untuk menyelesaikan satu soal. Yang pertama adalah cara yang sederhana dan singkat untuk mendapat jawaban, sedangkan yang satunya lagi lebih panjang dan rumit. Lalu kami diberi satu soal latihan untuk dikerjakan. Selang beberapa menit guru bertanya apa jawabannya. Hampir semua murid meneriakkan jawaban mereka....

Three Old Men

Empat tahun lebih tak terasa aku menetap di sini. Semula ku pikir akan singkat saja. Selepas sekolah akan pergi ke tempat lain tapi rupanya hingga kini tak juga berpisah. Sempat berpisah tapi hanya dua bulan. Lalu aku di-kembali-kan di sini, persis di sini di tempat empat tahun itu. Selama di sini aku rutin sembayang ke masjid yang letaknya di seberang rumah sewaku. Masjidnya bagus, bergaya modern dan bersih. Masjid ini punya pribadi loh, Dinda. Milik pasangan suami-istri asal Bengkulu-Palembang pengusaha perkebunan. Semua-semua yang diperlukan masjid ini ditanggung mereka sendiri. Hebat ya! Nanti kita bikin satu yang macam ini ya Dinda. Aamiin.  Selama empat tahun itu macam-macam peristiwa telah terjadi, termasuk di masjid tadi. Di antara yang paling berkesan adalah tentang tiga kakek tua. Ini adalah hasil risetku dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Observasinya memakan waktu tahunan hingga dapat sampai pada bagian kesimpulannya pagi ini. Begini ceritanya.  K...

Tak Pulang

Gambar
Dinda, besok lebaran loh. Adakah kau siapkan satu yang spesial menyambut hari raya besok itu? Mestinya ada sebab sudah tradisi kita yang demikian. Sekedar tanda kalau itu hari yang khusus dan monumental: saat berkumpul bersama keluarga tercinta. Dinda, aku tak pulang. Jangan kesal dulu. Tenang, ibu-bapak telah ku kabari kalau aku tak akan pulang. Tenang. Mereka telah ku beritahu sejak sebelum aku kembali ke sini. Tenang. Mereka mengizinkanku. Kalau kau massih belum tuntas dan masih merasa kalau aku begitu tega, sini aku beri alasannya. Satu. Sebulan lalu aku telah pulang. Dua bulan lamanya. Ku rasa kau tahu itu. Aku pikir itu masih sebulan lalu dan tanggung jaka pulang lagi dan pasti itu akan makan biaya. Yang kedua ini jadi alasan keduaku. Yang ketiga, aku segan sering-sering pulang sementara adikku yang lelaki sudah dua tahun tak dapat pulang. Janjinya masih belum tuni soal " belum pulang kalau belum tamat ". Ini solidaritas kakak-adik. Ini pula wujud dukunganku untuknya ag...

Fiksi Gurun Salju

Halo Dinda! Selamat hari Minggu. Apa harapanmu untuk hari ini? Meminta hari yang cerah sehingga dapat ditunaikan segala hajat yang telah dibuat atau justru menginginkan hujan agar mengurung semua orang dalam ruangan? Bagiku yang mana saw tak masalah. Sejauh ini tak ada janji bertemu atau pekerjaan yang menuntut diselesaikan. Meski demikian, bukan berarti sehari ini akan kosong saja. Sejak pagi tadi aku telah merapat ke lemari bukuku. Pikirku, membaca ulang satu atau dua koleksi sendiri agaknya ampuh membunuh sebatang pagi. Semoga saja setelahnya dapat timbul cara menyambung petang.  Setelah menyeret telunjuk menyusuri barisan buku-buku, pilihanku jatuh pada Dee Lestari. Tiga sekaligus ku ambil: Filosofi Kopi, Rectoverso, Madre. Serakah! Nyatanya aku hanya membuka satu. Tak minat membaca yang terlalu panjang padahal dalam ketiganya cuma memuat cerita pendek dan beberapa sajak. Tapi ketidakminatan menjadikanku selektif sepagi ini. Barangkali bukan selektif, aku memang telah punya yan...

Dua Kisah, Satu Tanya

Apa bedanya seorang dengan seorang lainnya? Kalau kau menjawab letak beda ada pada rupa, itu sudah pasti. Kita dicipta oleh Tuhan tak ada yang seragam. Setiap orang unik, tak ada yang persis sama sekalipun kembar identik. Tapi jika jawabanmu adalah sifat dan tabiat, barangkali ada benarnya. Dalam kadar pikirku, manusia itu ketara perbedaannya berdasarkan prinsip yang dipegangnya. Prinsip itu membentuk kecenderungan pemiliknya atas satu pilihan dan pilihan itulah yang kemudian nyata membedakan ia dengan yang lainnya.  Dinda, mungkin kau pikir ini terlalu serius untuk dibahas, atau mungkin pula kau merasa akan membosankan untuk selanjutnya. Tapi tolong dengarlah dulu. Tahan sebentar saja protes-protesmu itu. Soal ini menggangguku dan sudilah kau menemaniku mencari tenang.  Dinda, siang tadi aku nonton satu reviu film di sela-sela istirahat mengerjakan pagar alpukat dan durian yang juga belum selesai itu. Nonton rangkuman macam itu memang suka ku lakukan. Menurutku itu cara mudah...

Novel Kita

Di luar sedang hujan. Suaranya terdengar keras menyusuri lereng-lereng seng atap rumah. Memang sudah hampir sebulan hujan tak turun. Sekalinya turun deras sekali mengisi separuh sore seolah membasuh tuntas hari-hari terik yang lalu. Seketika udara menjadi lembab. Debu-debu di halaman kini tenggelam oleh air setinggi mata kaki. Suara bising kendaraan lalu lalang dan sahut-sahautan percakapan seolah diredam. Dunia tengah mengambil jedanya.  "Dinda, apa kabarmu di sana?" Setelah setengah hari mengerjakan proyek pribadi membuat pagar tanaman untuk bibit durian dan alpukat yang belum juga usai sejak seminggu lalu, aku memutuskan membuka kembali lemari bukuku. Aku menuju rak tingat dua di baris tengah. Di antara deretan buku-buku fiksi dan kumpuĊ‚an puisi, aku menemukannya, favoritku, 'Trilogi Negeri 5 Menara'. Kali ini aku memilih 'Rantau 1 Muara'. Membaca kembali novel itu membuatku mengulang ingatan akan mimpi-mimpi dahulu. Cerita yang dibawa Alif si tokoh utama m...

Cerita Pulang

Gambar
Dinda, aku telah di rumah. Maaf terlambat berkabar. Sekitar sebulan lalu aku tiba di sini bersama segala barang yang sangup dibawa. Semua aman, segala yang dapat ku bawa telah ku bawa serta. Sebagian sengaja ku tinggalkan sebagai cenderamata, tanda kalau aku pernah di sana.  Tiga hari pertama di rumah aku persis bak anak kota masuk desa. Kulit putih mulus, kinclong ketara kalau disanding dalam kerumunan warga kampungku. Tapi tiga hari selepas itu mulailah rupa segera menyama. Ditambah pulangku bertepatan dengan musim panen. Jadilah seminggu penuh mandi terik matahari, bukan di pantai tapi dari pelang ke pelang sawah. Kini tak ada lagi rupa kota, jiwa dan raga telah kembali kepada asal semula.  Sewaktu aku sibuk menyusun ladung agar padi yang dikumpulkan teratur tak tercecer, seorang yang hari itu ikut membantu kami menanyaiku. "Tak takut hitam kau nanti?" Tanya yang sebenarnya canda itu disampaikannya sambil terkekeh. Aku yang kelelahan menjawab saja, "Biarlah wak. Jaran...

Dua Pinta

Gambar
Halo Dinda. Apa kabarmu? Aku menulis surat ini dari kantor. Ada sedikit waktu sebelum mulai bekerja. Ini hari Senin dan aku sengaja datang lebih pagi. Selain karena menghindari macet, adalah pula sebab hendak menikmati beberapa waktu sendiri di ruang kerja yang sebentar lagi akan ditinggalkan.  Dinda, aku mau bercerita padamu. Perihal ibuku. Minggu lalu Bapak menelponku pagi-pagi dan menyebut kalau Ibu sakit. Jarang ada berita sakit dalam keluargaku sebab kalau bukan betul-betul tak dapat tertahankan lagi tidak akan diaku sakit itu. Karenanya sekali kabar itu tersiar, artinya patut khawatir. Semula, rencananya sebelum pulang ke rumah, aku akan singgah ke beberapa tempat. Menjumpai beberapa kawan lama dan bertukar cerita terkini. Apalah daya kabar itu menyusul lebih dahulu. Agaknya jadwal yang sudah tersusun harus disusun ulang dengan memajukan waktu pulang. Pagi-petang ku telpon ke rumah untuk memastikan kondisi Ibu membaik. Dua hari lalu Ibu menyebut sudah lebih baik. Aku mau perc...

Isyarat Pergi

Rasanya enggan beranjak, tapi ini hari Selasa. Aku harus berangkat kerja. Banyak urusan yang harus diselesaikan dalam tiga minggu ke depan. Aku akan mengakhiri hubungan empat tahun dengan kota ini. Bersiap memulai rasa dengan tempat baru. Entah bagaimana ia, tapi aku harus menetapinya.  Sementara aku telah siap pergi, aku tak siap berpisah. Banyak yang terjadi di sini. Dua tahun belajar mengenal sesungguhnya makna belajar. Belum khatam memang, tapi aku memulainya di sini. Aku mendapat lebih dari sekedar gelar, namun alasan harus terus belajar.  Lalu dua tahun berikutnya. Di sini aku dipahamkan perihal sebenar bekerja. Bukan untuk penghidupan, tapi untuk persiapan kematian. Pekerjaan adalah warisan untuk diri sendiri, bukan orang lain. Yang bekerja akan melihat hasil pekerjaannya nanti. Tidak di sini, tapi di sana. Kalau terus ingat itu, bekerja akan sangat hati-hati dan sepenuh hati.  Bila tiga minggu yang tersisa itu telah habis, akan ku letakkan penanda terima kasih. Ji...