Dua Pinta


Halo Dinda. Apa kabarmu?

Aku menulis surat ini dari kantor. Ada sedikit waktu sebelum mulai bekerja. Ini hari Senin dan aku sengaja datang lebih pagi. Selain karena menghindari macet, adalah pula sebab hendak menikmati beberapa waktu sendiri di ruang kerja yang sebentar lagi akan ditinggalkan. 

Dinda, aku mau bercerita padamu. Perihal ibuku. Minggu lalu Bapak menelponku pagi-pagi dan menyebut kalau Ibu sakit. Jarang ada berita sakit dalam keluargaku sebab kalau bukan betul-betul tak dapat tertahankan lagi tidak akan diaku sakit itu. Karenanya sekali kabar itu tersiar, artinya patut khawatir.

Semula, rencananya sebelum pulang ke rumah, aku akan singgah ke beberapa tempat. Menjumpai beberapa kawan lama dan bertukar cerita terkini. Apalah daya kabar itu menyusul lebih dahulu. Agaknya jadwal yang sudah tersusun harus disusun ulang dengan memajukan waktu pulang.

Pagi-petang ku telpon ke rumah untuk memastikan kondisi Ibu membaik. Dua hari lalu Ibu menyebut sudah lebih baik. Aku mau percaya, tapi khawatirku telah terlanjur jauh. Dinda, berat sungguh berjarak di kala begitu. Sekedar mendengar dan melihat perantara layar sangat tak memadai. Aku ingin merengkuh Ibu; memijat kakinya yang sakit. Aku ingin membawanya sendiri menemui setiap dokter meski jauh sekalipun. 

Sekian lama di tanah rantau, baru sekali ini ku rasa risau yang teramat. Ini semacam simulasi yang digelar sebelum benar-benar berjauhan. Seolah Allah hendak memberi tahu kalau di antara yang perlu disiapkan adalah masa merawat orang tua. Dalam sekian banyak rencana hidup, melayani ibu-bapak harus dijadikan agenda teratas. Penting memang cemerlang dalam pekerjaan, berhasil membangun rumah tangga bahagia, memiliki anak-anak yang cerdas dan berprestasi. Tapi sanggup berkhidmat pada kedua orang tua, utamanya di saat senja, saat mereka tak lagi tangkas dan mandiri, adalah penyempurna segalanya. 

Dinda, bolehkah aku meminta dua hal padamu? Yang satu, bersedialah dengan sungguh-sungguh mendidik anak-anak agar selamat dunia dan akhiratnya. Yang dua, ku mohon dukunglah aku berbakti pada Ibu-Bapakku. Keduanya caraku menyelamatkan diri dari celaka. Aku harap cintamu menimbang dua pintaku itu.




Komentar