Desember
Hai, Dinda! Aku kembali. Wahh sudah Desember ya? Apakah ada yang aku lewatkan? Apakah itu banyak? Aku tak yakin jika semua sama dari sebelumnya. Sebab November aku tak berkabar dan sangat mungkin macam-macam hal telah terjadi dan terlewatkan.
Dinda, maaf untuk bulan kemarin atas ketidakhadiranku. Bukan aku tak ada waktu atau super sibuk. Sebenarnya separuh bulan lalu aku menghabiskannya untuk keperluan pekerjaan dan setengahnya lagi aku mengambil masa untuk menyendiri. Aku menikmati separuh bulan kemarin untuk melihat diriku lagi. Maaf jika mungkin itu membuatmu risau dan tak nyaman. Aku baik-baik saja di sini.
Aku rupanya tak sehebat itu. Hari-hari yang ku harap dilewati sendiri dalam sepi rupanya selalu menghadirkan bayanganmu. "Apakah rindu seberat ini?"
Dinda, aku baru pulang kerja dan segera setelah tiba aku menulis surat ini. Aku merasa bersalah kalau-kalau tiap kali kau membuka kotak surat dan mendapatinya kosong lalu kau kecewa. Aku tak mau mengecewakanmu. Tak ada maksud begitu. Sungguh!
"Dinda, masihkah kau di sana? Kau tak pergi kan? Kau masih membaca surat-suratku kan? Semoga iya, Tuhan."
Komentar
Posting Komentar