Dunia Kita
"Mengapa kau tiba begitu lama?" Barangkali begitu tanyamu nanti pada kali pertama jumpa kita. Dalam senang penyambutanmu, pertanyaan itu adalah yang kau pilih. Kau lama menyimpannya dan sekarang pikirmu adalah saat tepat untuk mengajukannya.
"Aku kesulitan menemukan diriku." Kurang lebih begitu jawabku nanti. Sebenarnya kau bisa saja memilih berhenti dan menghindari pembahasan ini. Kau juga bisa saja segera maklum lalu pura-pura mengerti. Tapi ku rasa kau tak akan begitu. Kau akan menunggu jawaban yang dapat membuatmu paham mengapa lama engkau harus menanti.
Aku tak mau merusak kesan awal. Kita berdua lama menunggu pertemuan ini. Tak pantas kalau kau telah sesak menahan penasaran. Sebab itu akan ku jawab lebih dulu pada surat ini sehingga tak kau tanyakan lagi nanti.
"Dinda, aku, mungkin kau pula sama, sebelum ini telah melalui banyak hal. Mustahil dapat menemukanmu dari sekian banyak kemungkinan jika perihal diri sendiri tak seutuhnya dimengerti. Tak tahu siapa aku sebenarnya."
Untuk mendapati jawaban itu macam-macam telah ku coba. Sampai paham kalau belajar itu penting dan tak pernah berhenti dan tak diukur pakai selembar kertas ijazah. Sampai paham kalau uang itu hanya lembaran kertas yang kalau tak waspada dapat menggelapkan mata hingga tak tampak lagi beda benar dan salah. Sampai paham pula kalau pangkat yang ditaruh di pundak perlambang memikul beban amanah, tapi lebih sering diletak di dada agar dapat dibusungkan atau diangkat lebih tinggi dari kepala agar semua tahu kedudukannya.
Aku tak menyebut kalau semua yang sudah ku pahami itu boleh aku buat semua. Masih terus berusaha melatih diri agar yang ditahu itu dapatlah mewujud jadi laku.
"Kalau kau sudah menemukan semua tentang dirimu, maka mengapa kau begitu lama menemukanku?" Wajar pula jika kau punya pertanyaan lain yang begitu. Aku punya jawabannya dan baru ku sadari belakangan ini.
"Dinda, aku sebenarnya tak tahu perempuan macam apa yang ku ingini. Jika ditanya perihal itu aku seketika kebingungan sendiri. Betul tak mengerti. Sampailah aku paham, akan sangat menyenangkan kalau punya seseorang yang mengerti dunia seperti apa yang ingin ku jalani. Pastilah beruntung punya kekasih yang menjadi teman berjalan menuju tujuan yang sama. Senang dirasa bersama, sedih ditanggung bersama. Duniaku yang semula ku miliki sendiri berpadu dengan duniamu sehingga menjadi dunia kita."
Ah membayangkan itu membangkitkan semangatku ingin lekas menemukanmu. Rupanya tidak mudah. Kau langka. Pencarianmu jadi satu babak sendiri yang tidak sederhana. Aku hati-hati sekali, memeriksa benar-benar adakah betul sepaham tentang dunia yang ditawarkan itu. Aku tak ingin kalau itu hanya menjadi duniaku dan kau terpaksa menumpang, atau jatuh pada kesepakatan duniaku milikku dan duniamu milikmu. Aku tak mau yang begitu. Aku mau pada yang bersetuju dengan sepenuh hatinya pada apa yang disebut sebagai dunia bersama, dunia kita.

Aamiiiinn Allahumma Aamiiinnn.. Semoga diijabah Allah SWT..
BalasHapus