Three Old Men
Empat tahun lebih tak terasa aku menetap di sini. Semula ku pikir akan singkat saja. Selepas sekolah akan pergi ke tempat lain tapi rupanya hingga kini tak juga berpisah. Sempat berpisah tapi hanya dua bulan. Lalu aku di-kembali-kan di sini, persis di sini di tempat empat tahun itu.
Selama di sini aku rutin sembayang ke masjid yang letaknya di seberang rumah sewaku. Masjidnya bagus, bergaya modern dan bersih. Masjid ini punya pribadi loh, Dinda. Milik pasangan suami-istri asal Bengkulu-Palembang pengusaha perkebunan. Semua-semua yang diperlukan masjid ini ditanggung mereka sendiri. Hebat ya! Nanti kita bikin satu yang macam ini ya Dinda. Aamiin.
Selama empat tahun itu macam-macam peristiwa telah terjadi, termasuk di masjid tadi. Di antara yang paling berkesan adalah tentang tiga kakek tua. Ini adalah hasil risetku dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Observasinya memakan waktu tahunan hingga dapat sampai pada bagian kesimpulannya pagi ini. Begini ceritanya.
Ketiga kakek itu adalah jama'ah tetap masjid kami. Aku tak kenal secara personal tapi mereka lekat di mataku dan jama'ah lainnya sebab setiap hari ketiganya menggenapkan sembayang lima waktunya di masjid itu. Seorang kakek adalah supir bajaj. Manakala tiba panggilan sembayang beliau memarkir bajaj birunya di pinggir jalan raya depan masjid. Ciri khas lainnya adalah handuk kecil yang diselempangkannya di pundak kanan. Meyakinkan sekali kalau ia adalah tukang bajaj. Ia adalah seorang yang pendiam. Biasanya sehabis sembayang beliau menepi ke teras kanan lalu duduk di sana sampai lama sebelum pergi lagi dengan bajajnya. Soal umur aku tak tahu pasti tapi ku rasa ia tak luput dari angka 70-75. Kakek kedua lebih ku kenal baik di antara dua lainnya. Saya dan kawan-kawan di kos menggelarinya Pak Turki sebab ia sering memakai peci ala orang Turki yang mirip peci Aladin itu. Ia adalah ketua DKM masjid karena itu pula lebih mudah mengumpulkan informasi tentangnya dari cerita para marbot. Konon ia adalah pensiunan pegawai Pertamina. Asalnya dari minang dan punya tiga anak yang telah berhasil semua. Satu di antaranya menjadi dokter dan sekarang tinggal bersamanya di rumah tak jauh dari masjid kami. Nah, kakek yang terakhir sepertinya lebih muda dari yang dua sebelumnya. Dari cara berjalannya pun ia lebih tegap dan kalau bicara agak setengah teriak. Mungkin karena beliau orang Betawi yang logatnya begitu ditambah lagi memang beliau sudah kurang pendengaran. Meski begitu kakek yang ini selalu datang dengan pakaian rapi, kemeja atau batik lengna panjang bersetrika dengan jam tangan warna emas di lengan sebelah kiri. Rumahnya agak jauh katanya. Aku belum pernah sampai ke sana tapi kalau pulang ia masuk ke gang di seberang masjid.
Dinda, dari ketiga kakek itu aku menyadari tentang betapa waktu merentasi apapun dan siapapun. Dulu ketiganya pernah muda dan waktu membuat mereka menemui masa tuanya. Dari yang semula gagah wibawa menjadi lemah kurang berdaya. Aku menyaksikan sendiri bagaimana waktu berjalan pada ketiganya. Aku hanya berjumpa setahun di awal dengan kakek yang pertama. Tak didapati lagi bajaj nya terparkir di depan masjid selepas itu. Dari yang rutin datang sembayang, ia menjadi sekali-dua ketinggalan. Ia memang tampak lebih lemah pada minggu akhir sebelum akhirnya benar-benar tak datang lagi. Pada Pak Turki ia yang memang telah terkena sekali stroke ringan itu makin mengelukan lidahnya dan melumpuhkan langkahnya dari hari ke hari. Ia tipe yang senang berbicara dan aku ingat betul di Ramadhan keduaku di sini ia dengan semangat membimbing program kuis shubuh dan sendiri membagi hadiahnya kalau ada jawaban betul. Pada Ramadhan tahun lalu petugas masjid meminta doa kami agar Pak Turki dapat segera sehat lagi dan selera pulang dari rawatan rumah sakit. Ia mendapat serangan stroke kedua kali. Pak Turki memang pulang, tapi kali tak lagi sembayang dengan kami. Ia yang kami sembayangkan dan namanya lah yang dipidatokan pada baris terdepan meminta agar beliau mendapat selamat dan damai.
Kini tinggal kakek ketiga. Dulu jalannya masih tegap tak bertongkat. Tapi sekarang tak lagi dapat dijejakinya bumi dengan benar kalau tidak dipapah atau bertumpu pada lengan seseorang dengan tongkat menyanggah sisi lainnya. Subuh tadi aku yang memapahnya. Niatku hendak mengantar sampai ke rumahnya, tapi ia menolak. Katanya tak usah karena arah rumah kami tak searah. Sebelum berpisah ku pesani agar hati-hati, jalanan cukup gelap. Perlahan punggungnya menghilang ditelan remang subuh. Tadi pagi kesadaran perihal waktu terasa begitu nyata.
Komentar
Posting Komentar