Cerita Pulang
Tiga hari pertama di rumah aku persis bak anak kota masuk desa. Kulit putih mulus, kinclong ketara kalau disanding dalam kerumunan warga kampungku. Tapi tiga hari selepas itu mulailah rupa segera menyama. Ditambah pulangku bertepatan dengan musim panen. Jadilah seminggu penuh mandi terik matahari, bukan di pantai tapi dari pelang ke pelang sawah. Kini tak ada lagi rupa kota, jiwa dan raga telah kembali kepada asal semula.
Sewaktu aku sibuk menyusun ladung agar padi yang dikumpulkan teratur tak tercecer, seorang yang hari itu ikut membantu kami menanyaiku. "Tak takut hitam kau nanti?" Tanya yang sebenarnya canda itu disampaikannya sambil terkekeh. Aku yang kelelahan menjawab saja, "Biarlah wak. Jarang-jarang macam ini." Aku pun menuntaskannya dengan tawa kecil.
Dinda, kalau dipikir-pikir benarlah pepatah lama 'Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.' Bagiku sendiri sudah semestinya kalau tengah pulang ke kampung harus sigap berlaku macam umumnya orang tempatan. Tak elok lain sendiri, lebih-lebih sengaja untuk menunjuk diri. Tak bijak yang demikian itu sebab akan memasang jarak. Orang akan segan bahkan untuk sekedar menyapa. Dikiranya kita orang jauh, telah lain cara dan adat. Kita menjadi asing di kumpulan asal.
Tiap kali bersua orang bertanya rupa-rupa, apa ini dan itu; bagaimana ini dan itu di sana. Kalau ada pengetahuanku tentang itu, maka ku terangkan dengan sungguh-sungguh. Dinda, rupanya bercakap pun mesti pandai memilah kata dan nada. Mesti dilihat siapa kawan bicara. Pengalamanku, kalau yang dimukai itu yang lebih tua, menjawab mereka dengan bahasa sederhana dengan nada menuntun adalah lebih baik agar mudah diikutinya topik bicara itu. Mesti maklum bila lambat mereka menangkap jawab. Zaman mereka sungguh berbeda dengan yang ku punyai. Kadang mereka bertanya sekedar hendak duduk melepas rindu. Sering tak diketahuinya betul pertanyaan yang diutarakan atau jawaban yang diterima, tapi duduk berkata-kata dengan anak muda barangkali menjadi penyenang hati mereka. Itulah menjadi tak penting menang jawab dengan kaum tua karena sebenarnya cara dan adat yang dinilai mereka.
Ada pula aku menemui kawan lama yang sebaya. Di usia begini, rata-rata kawanku itu telah beranak satu atau dua. Keluhan membangun hidup adalah judul utama perbicangan dengan mereka. Banyak di antara kawanku itu tamatan sekolah menengah. Sedikit yang beruntung selesai pendidikan tinggi. Di tengah mereka, seringkali aku dipuji-puji. Dianggap mereka kebanggaan berkawankan aku. Lain itu mereka menggerutui nasib sendiri. Dipandangnya malang tak beruntung. Kalau ada bertemu suasana begitu, sebatas pengalamanku, aku tak menepuk dada. Tidak pula teguh menyebut iya untuk setiap batang pujian yang dihantar ke depan pentas diskusi kami. Aku memilih membesarkan hatinya. Tak memandikan mereka dengan kata-kata bijak seperti guru kepada murid. Itulah disebut kawan sebaya sebab lebih pandai merasa karena hidup segaris masa.
Dari sekian yang berat, bertemu dengan yang lebih muda adalah yang paling berat menurutku. Mereka tak mengajukan tanya, tak pula meminta saran-saran. Mereka terlihat sibuk dengan dunia anak-anaknya. Pada yang ini, aku berhati-hati. Kendali ada sepenuhnya padaku selaku orang dewasa. Mereka yang masih belum banyak mengerti akan meniru yang dilihatnya. Bila tak pandai menjaga kata dan tingkah, mudah bagi yang muda meneladaninya. Dianggapnya wajar dan biasa segala yang salah yang disaksikan. Dengan yang muda pula perlu berkasih sayang. Yang semula acuh akan mendekat bila ditunjukkan padanya sayang itu. Bila telah dekat, dapatlah mengajar mereka perkara baik yang belum diketahuinya.
Dinda, rupanya susah menjadi manusia. Ada beragam siasat dalam bergaul. Celakanya banyak yang tak didapat dalam kurikulum sekolahku. Tinggi sekolah tak lantas tinggi budi. Tapi semestinya sekolah tinggi dapat mengantar pada banyak peristiwa yang mendewasakan si siswa, hanya jika ia sudi melembutkan hatinya memetik hikmah.
Komentar
Posting Komentar