Sitorus
Dinda, apa kabarmu? Jangan sakit atau terlalu kelelahan. Atur-aturlah waktu dengan bijak. Sisakan waktu untuk istirahat dan makan yang enak-enak. Harus senang agar tak dilahap penyakit. Begitu pula batinmu. Jangan biarkan kosong dan gersang. Penuhi dengan rasa syukur sehingga sedikit mengeluh; banyak-banyak sabar agar semua tampak mudah-mudah saja.
Dinda, pada hampir tengah malam ini aku hendak bercerita. Kejadiannya baru saja tadi di warung kopi langganan kami. Kadang-kadang kalau suntuk aku dan beberapa kawan sekerja singgah dahulu untuk bercakap-cakap di sana. Kadang-kdang pula di mulai petang hingga menjelang tengah malam. Begitulah kami kadang-kadangnya.
Tadi aku datang menyusul ke sana. Semula kami bertiga dalam rencana, namun aku datang terlambat dan seorang kawan lagi memutuskan pulang lebih awal sebab ada keperluannya. Jadilah Sitorus menungguku seorang. Saat aku tiba dua piring dan dua gelas telah kosong, tanda mereka telah menunggu jemu. Langsung saja ku sapa Sitorus yang kuyu duduk di kursi tengah lantai dua. Aku meminta maaf basa-basi sebab telah ingkar janji datang tepat waktu. Dia mengomel tapi diberinya juga maaf yang ku minta. Baiknya kawanku ini.
Aku mengambil tempat dan meletakkan barang bawaan pada kursi di sampingku. Kami berhadap-hadapan. Sela sekian detik yang cukup lama, aku bertanya tentang kabarnya. Ia menjawab datar kalau ia baik-baik saja. Lalu ku beranikan diri bertanya bagaimana kabar keluarganya di kampung. Ia juga menjawab datar kalau mereka baik-baik saja. Kemudian semua berhenti di sana. Aku dalam-dalam mengambil nafas; mengumpulkan sisa keberanian dan prihatin. "Jadi, beliau sudah lama sakit?" tanyaku. Dia menatapku kemudian menjawab, "Tidak, hanya sebulan saja sakitnya." Angin malam membelah jarak antara kami. Percakapan itu dibawa pergi entah ke mana. "Semua tiba-tiba saja ku rasa. Masih belum yakin aku kalau ibuku telah tiada." Ia kemudian menyambungnya. "Aku turut sedih kawan," balasku. Ia tak berkomentar lagi.
Dinda, kawanku Sitorus itu telah menjadi piatu minggu lalu. Aku kaget saat berita ibunya wafat dibagikan lewat pesan singkat grup whatsapp angkatan kami. Saat itu sedih langsung menjalari seluruh ruang hatiku. Pertama atas kawan yang kehilangan ibunya dan sisanya atas bayangan jika peristiwa serupa menimpaku sendiri. Sungguh berat perasaan kalau benar aku ditinggal ibu. Lunak terasa tanah dipijak, runtuh langit tempat bernaung. Begitulah mungkin yang dirasakan Sitorus kawanku itu. Sejak tadi matanya merah berkaca-kaca sambil terus dijaganya hati-hati agar muatannya tak tumpah.
Tanpa bermaksud merayu, bagiku ibu adalah segalanya. Sulit membayangkan kalau hidup ini tak lagi ada ibu. Jelas ku lihat Sitorus begitu. Ia berat menjalani hari. Ia mengungkap banyak sesal. Menyebut satu-satu perkara yang membuatnya kesal sebab belum sempat tunai semasa hidup ibunya. Lalu aku memberinya nasehat. "Kawan, sebagai tanda bakti, hiduplah dengan baik dan baiki hidup orang lain." Aku tak tahu dari mana asal kata-kata itu. Begitu saja keluar dari lisanku. Aku sendiri tak yakin mengerti sebab tak merasai kemalangan dalam yang sama. Ia diam dan menekuri lantai. Pada itu aku menemani. Mungkin Sitorus melihat potongan kenangan tentang ibunya, sementara aku menyadarkan diri berulang kali bahwa akan datang pula masa itu. Kalau tiba padaku akankah aku sanggup?

I think so, entah kalo ibu sudah tiada apa sanggup kita menghadapi dunia? Apakah nanti rasanya akan seperti benteng yang runtuh? Dan apakah kita akan kuat menjalani hidup tanpa adanya ibu disamping kita? Untuk membayangkan nya saja aku sudah takut
BalasHapus