Tak Pulang
Dinda, aku tak pulang. Jangan kesal dulu. Tenang, ibu-bapak telah ku kabari kalau aku tak akan pulang. Tenang. Mereka telah ku beritahu sejak sebelum aku kembali ke sini. Tenang. Mereka mengizinkanku. Kalau kau massih belum tuntas dan masih merasa kalau aku begitu tega, sini aku beri alasannya. Satu. Sebulan lalu aku telah pulang. Dua bulan lamanya. Ku rasa kau tahu itu. Aku pikir itu masih sebulan lalu dan tanggung jaka pulang lagi dan pasti itu akan makan biaya. Yang kedua ini jadi alasan keduaku. Yang ketiga, aku segan sering-sering pulang sementara adikku yang lelaki sudah dua tahun tak dapat pulang. Janjinya masih belum tuni soal "belum pulang kalau belum tamat". Ini solidaritas kakak-adik. Ini pula wujud dukunganku untuknya agar semangat bergegas menuntaskan janji. Keempat masalah harga diriku sendiri. Dua kali aku pulang yang terakhir ini, dua kali pula kompak sekampung menanyaiku kapan membawa seorang untuk dinikahi. Mereka bertanya tentangmu. Sebab kau belum ku jemput menjelang lebaran tahun ini, maka aku tak lah sanggup rasanya menanggung pertanyaan sama untuk periode ketiga. hahahaha
Besok itu jadilah aku lebaran sendiri. Meski ini bukan kali pertama dan tak dalam maksud sesungguhnya sendirian karena cukup ramai lah sisa warga ibukota yang tak pulang kampung, aku tetap merasa sepi. Hari raya pertama terasa pendek jika dirayakan sendiri. Tak dapat ku pungkiri aku kesepian di sini.
Untuk mengantisipasi sepi itu, maka siang tadi aku ke berangkat ke tempat pangkas rambut. Pikirku, biarpun lebaran sendiri tapi setidaknya tak langsung ketara dari tampilan yang tak terurus. Hahaha. Dalam perjalanan itu aku melihat seorang lelaki tidur di kursi taman, lalu ada pula dua orang pemuda mendorong gerobak bermuatan loak. Dalam kilas pemandangan itu aku membatin, "Siapakah yang lebih beruntung dari kami?" "Tentulah aku. Meski lebaran tak bersua keluarga, tapi aku masih dapat menunggu lebaranku di bawah rumah sawa yang cukup nyaman. Setidaknya besok pula aku dapat menyantap kue-kue kiriman kawan dan rekan kerja. Setidaknya di hari terakhir bulan puasa aku telah bercuti, tak lagi bekerja, dan boleh bersiap-siap untuk perayaan esok." Begitu jawabku sendiri dalam hati. Lalu muncul pertanyaan lain, "Apakah mereka semalang itu?" Aku merenung. "Mungkin itu menurutku saja. Bisa jadi mereka adalah yang beruntung. Siapa yang tahu kalau lelaki yang tidur di bangku taman tadi dan dua pemuda yang mendorng gerobak lebih diterima Tuhan puasanya sebulan ini. Siapa sangka kalau Tuhan memberi mereka gelar takwa besok sebagai imbalan atas perjuangannya beribadah di tengah kesulitan hidup sehari-hari. Siapa sangka." "Lalu bagaimana dengan puasa-puasa milikku?" Kali ini bukan lagi perihal rasa kesepian, tapi kini semua tentang rasa ragu diterima atas tidaknya puasaku. Jangan-jangan hanya beroleh lapar dan dahaga saja sebab tak sungguh-sungguh menjaga ikhlasnya ibadah. Kemudian aku memanjatkan doa banyak-banyak. Berharap masih ada kesempatan Tuhan mau menerima. Aamiin.
Dinda, ceritaku tak cuma itu. Sejak dimulainya cuti bersama Jum'at lalu, hampir semua kawanku mengunggah perjalanan pulang mereka. Sempat iri juga dibuatnya. Itu jelas godaan atas tekadku "sekali layar terkembang pantang surut ke belakang." Tidak akan tergoda kataku dalam hati. Kemarin ketika sedang menyapu deretan berita sejawat itu aku tak sengaja menemukan satu video yang membuat pagiku penuh haru. Seorang wanita muda merekam kegiatannya merawat dua orang tuanya yang terbaring sakit di tempat tidur. Yang menarik dia bercerita dengan suka cita seolah yang sedang ditanggungnya itu bukan beban sama sekali. Luar biasa! Pagi yang cerah tiba-tiba mendung lalu turun hujan air mata.
Dinda, entah bagaimana tapi cuplikan itu macam menasehatiku begini: "Kalaulah setakat pulang seminggu berhari raya di rumah, agaknya semua boleh buat. Tapi tak semua sedia pulang menetap lama merawat ibu-bapak yang telah tua tak berdaya." Nasehat itu tak butuh direnungi, ia menunggu untuk dibuktikan. Adakah aku sanggup?

Komentar
Posting Komentar