Novel Kita

Di luar sedang hujan. Suaranya terdengar keras menyusuri lereng-lereng seng atap rumah. Memang sudah hampir sebulan hujan tak turun. Sekalinya turun deras sekali mengisi separuh sore seolah membasuh tuntas hari-hari terik yang lalu. Seketika udara menjadi lembab. Debu-debu di halaman kini tenggelam oleh air setinggi mata kaki. Suara bising kendaraan lalu lalang dan sahut-sahautan percakapan seolah diredam. Dunia tengah mengambil jedanya. 

"Dinda, apa kabarmu di sana?"

Setelah setengah hari mengerjakan proyek pribadi membuat pagar tanaman untuk bibit durian dan alpukat yang belum juga usai sejak seminggu lalu, aku memutuskan membuka kembali lemari bukuku. Aku menuju rak tingat dua di baris tengah. Di antara deretan buku-buku fiksi dan kumpuĊ‚an puisi, aku menemukannya, favoritku, 'Trilogi Negeri 5 Menara'. Kali ini aku memilih 'Rantau 1 Muara'. Membaca kembali novel itu membuatku mengulang ingatan akan mimpi-mimpi dahulu. Cerita yang dibawa Alif si tokoh utama membuatku kala itu ingin melakoninya sendiri. Sungguh aku ingin sekali merantau, mengayam kehidupan jauh dari rumah, merasai beragam pengalaman berikut pahit-manisnya. Ah itu sewindu yang lalu. 

"Dinda, apa mimpimu?"

Saat ku hitung-hitung angan itu tepat terwujud. Mimpi sewindu lalu itu menjadi nyata. Aku tak sedang menghitung tentang perantauanku enam tahun ini, aku menghitung tahun-tahun ke depan. Jika semua berjalan apa adanya, maka aku akan terus mengayuh hidup di tanah orang. Agaknya aku termakan nasihat Kyai Rais, gurunya Alif dalam novel itu. Katanya, "Jangan gampang terbuai keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang. Banyak profesi di luar sana, usahakanlah untuk memilih yang paling mendewasakan dan paling bermanfaat bagi sesama." Merantau akan sangat akrab denganku selanjutnya. Tapi itu tak semestinya membuat sedih apalagi sesal. Imam Syafi'i menghibur para perantau dalam potongan syairnya, "Merantaulah! Gapailah setinggi-tingginya impianmu; Berpergianlah! Lima keutamaan untukmu: melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan terpuji, serta meluaskan ilmu."

"Dinda, apakah kau suka petualangan?"

Hal menarik lainnya dari cerita Alif adalah perjumpaannya dengan Danira, rekan sekerja yang kelak menjadi istrinya. Danira yang membuat Alif mengalihkan hatinya dari Raisa yang telah menambat hatinya sejak lama. Begitu rupanya kalau cinta dan jodoh. Segala kesamaan membuat serasi, sedang perbedaan akan melengkapi. Semua jadi penambah rasa suka. "An nasu a'dau ma jahilu. Manusia itu musuh terhadap apa yang dia tidak tahu." 

Sudah hampir satu jam. Aku tak menamatkan bacaanku. Mataku mulai terasa berat, sudah redup setengah menyala. Di luar masih hujan. Tak sederas tadi tapi sepertinya akan awet sampai pagi. Hawa dingin mendukung hasrat berbaring, lebih nikmat jika berkemul dalam selimut sambil memeluk guling. Namun, sebelum berangkat tidur, barangkali kau boleh menjawab tanya-tanyaku tadi, Dinda. Sederhana tapi berarti untuk mengisi adegan-adegan dalam plot cerita hidupku nanti.

Selamat malam, Dinda.



Komentar