Dua Kisah, Satu Tanya
Apa bedanya seorang dengan seorang lainnya? Kalau kau menjawab letak beda ada pada rupa, itu sudah pasti. Kita dicipta oleh Tuhan tak ada yang seragam. Setiap orang unik, tak ada yang persis sama sekalipun kembar identik. Tapi jika jawabanmu adalah sifat dan tabiat, barangkali ada benarnya. Dalam kadar pikirku, manusia itu ketara perbedaannya berdasarkan prinsip yang dipegangnya. Prinsip itu membentuk kecenderungan pemiliknya atas satu pilihan dan pilihan itulah yang kemudian nyata membedakan ia dengan yang lainnya.
Dinda, mungkin kau pikir ini terlalu serius untuk dibahas, atau mungkin pula kau merasa akan membosankan untuk selanjutnya. Tapi tolong dengarlah dulu. Tahan sebentar saja protes-protesmu itu. Soal ini menggangguku dan sudilah kau menemaniku mencari tenang.
Dinda, siang tadi aku nonton satu reviu film di sela-sela istirahat mengerjakan pagar alpukat dan durian yang juga belum selesai itu. Nonton rangkuman macam itu memang suka ku lakukan. Menurutku itu cara mudah menambah daftar film yang ditonton tanpa harus banyak menghabiskan waktu. Metode itu juga ampuh untuk mengurangi kadar kecewa jika ternyata itu bukan film yang menarik. Hanya yang ku nilai bagus sajalah yang akan ku tonton versi penuhnya. Tadi aku mendapat satu yang keren. Judulnya 'Just Mercy'. Film Amerika berlatar kejadian nyata di tahun 90-an. Kisahnya tentang seorang Negro yang bernama Walter McMilian yang mendapat vonis mati setelah dituntut melakukan pembunuhan tingkat pertama atas seorang perempuan kulit putih. Meski tanpa bukti-bukti yang menyakinkan kalau Walter adalah benar pelakunya, pengadilan negara bagian Alabama mulai dari tingkat pertama sampai peninjauan kembali teguh menolak pembelaan dan permohonan si Negro agar dibebaskan dari dakwaan tak berdasar. Suasana rasisme terhadap warga kulit hitam masih menyelimuti negara yang mengklaim 'demokratis' itu, yang walaupun sampai hari ini tetap terjadi bahkan kian meluas dan tak lagi sekedar pada warga Negro tetapi pula menimpa kelompok minoritas lainnya macam komunitas muslim, orang Asia dan Latin. Sayangnya, negara-negara lainnya juga ikut-ikutan dengan targetnya msing-masing. Misal, di Eropa pengungsi perang Timur Tengah dan Afrika dicegat masuk atas alasan keamanan dalam negeri. Hal yang tak sama diperlakukan kepada pengungsi Ukraina korban invasi Rusia yang disambut dengan tangan terbuka. Jelas terlihat nyawa manusia dikadar berdasar warna kulit dan rambutnya. Kini Eropa dikecam dengan sebutan hipokrit, pelaku double standard. Seolah latah, beberapa negara Asia juga tak kalah bejatnya. Warga muslim Uighur dibelenggu dalam kamp peluruhan budaya oleh pemerintah komunis China. Di India, sejak partai nasionalis-kanan berkuasa, larangan siswi muslim mengenakan hijab di sekolah resmi dimuat dalam undang-undang, pengrusakan rumah ibadah dan penyiksaan terhadap komunitas muslim seolah dimaklumi aparat dan pelakunya dilindungi negara.
Lanjut ke soal film tadi. Seorang lelaki muda bernama Bryan Stevenson yang baru tamat dari Fakultas Hukum Harvard terpanggil untuk menjadi pengacara Walter. Ia bersama seorang temannya, Eva Ansley, juga mendirikan Equal Justice Initiative yang fokus membela hak-hak para terpidana mati yang dijatuhi hukuman tanpa proses peradilan yang adil. Setelah mengalami proses yang berbelit, penuh tekanan, dan memakan banyak tahun, mereka berhasil membebaskan Walter dan memulangkannya kembali kepada keluarganya. Sepanjang kariernya ia dan rekan-rekannya telah memenangkan keringanan atau pembebasan untuk 140 lebih terpidana mati. Aku merasakan pula kegembiraan atas pencapaian mereka. Ah, film itu, eh maksudku reviu film itu, cukup mengharukan, tapi tak sampailah aku menangis. Tidak, Dinda. Yakinlah.
Meskipun memang ku minati, tapi genre tontonanku tak melulu seputar pengadilan. Film-film dengan tema berbeda pula ku nikmati seperti biografi, dokumenter, dan lainnya yang nyata atau diadaptasi dari kejadian nyata. Aku tak begitu suka fiksi, begitupun bacaan. Aku tak seberapa suka cerita mengandai-andai.
Lain waktu aku aku menemukan video pendek atau mungkin lebih tepatnya dokumenter singkat tentang seorang petugas kebersihan di Jepang. Take Yusuke adalah namanya. Sehari-hari ia bertugas mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga dengan truk sampahnya. Hal yang menarik adalah ketekunannya pada pekerjaannya. Ia tak hanya mengangkut sampah dengan semangat selama bertahun-tahun, tapi pula dengan sukarela memberikan sosialisasi kepada warga agar memisahkan sampah berdasarkan kategorinya. Video itu dijuduli "A Garbage Collector's Dream". Mimpi Take menjadikan kota tetap bersih adalah kayu bakar yang membuatnya sudi melampaui batas 'sekedar kewajiban'.
Dinda, bukankah dua orang yang ku tonton itu berbeda dari kumpulannya? Bryan Stevenson, si pengacara, dengan caranya sendiri meletakkan pencapaiannya di antara jejeran prestasi gemilang yang disanggupi para pembela. Prinsip mengejar keadilan menjadikannya setia memperjuangkan nasib para terpidana mati yang mungkin sebagiannya tak sanggup membayar sebab telah bangkrut oleh persidangan yang panjang; hal yang mungkin berbeda dari pengacara lainnya yang membela bukan dengan ukuran keadilan melainkan nominal pendapatan. Atau Take Yusuke yang memahamkanku, dan mungkin pula orang lain yang menyaksikan kisahnya, kalau pengangkut sampah dapat menjadi profesi yang membanggakan. Pekerjaan itu bukan hanya memasukkan tumpukan sampah ke dalam truk lalu mengangkutnya ke pembuangan akhir. Take tak memilih menjadi begitu. Prinsip peduli lingkungannya mendorong ia bertindak lebih dengan juga mendidik masyarakat agar turut peduli sehingga mimpi memiliki kota yang bersih dapat benar terwujud.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah telah melakukan pekerjaan dengan prinsip yang diyakini atau masih didikte kebutuhan hidup, gengsi, atau lain-lain yang semacam itu? Aku tak mau berbohong. Aku masih belum dapat menjawabnya. Tapi sewaktu membaca cerita Alif tempo hari aku mendapat kutipan bagus dari seorang filsuf China, "Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu hari pun sepanjang hayat." Aku tak menjamin dapat menjadi seperti Bryan dan Take yang agaknya telah jatuh cinta dengan pekerjaannya. Agaknya tak sampai jatuh cinta tak apa, yang penting ada hati saat bekerja sudah cukup bagiku. Dan semogalah hatiku terus ditujuki-Nya jalan yang lurus. "Ihdinas siratol mustaqim."
Aamiin, semoga senantiasa ditujuki-Nya jalan yang lurus
BalasHapus