Tentara Wanita
Halo, Dinda. Selamat bulan Juni. Tak terasa sekarang kita telah berada di tengah tahun. Itu artinya masih sisa setengah lagi untuk dilalui. Jika setengah yang kemarin itu berat, semoga saja setengah yang akan datang ini terasa lebih ringan. Tapi seringan-ringannya hidup, masalah tidak akan hilang untuk seterusnya diganti dengan jalan lurus tanpa rintangan.
Dinda, rumah kami sedang gaduh sekarang; penghuninya terpecah dua kubu. Asal-usulnya adalah cita-cita adik perempuanku yang hendak menjadi tentara. Dia sebut pada kami kalau selepas ujian sekolah nanti akan mendaftar ujian masuk tentara. Tentang itu ibuku langsung tak sepakat tapi bapak mendukung paling semangat.
Meskipun seorang, bukan berarti ibu tak berpenyokong. Alasannya seperti "pasti sulit bagi perempuan berada pada kumpulan pekerjaan yang didominasi lelaki, resiko menetap jauh dari rumah, dan bila tiba umur berkeluarga mesti susah mencari suami" nyatanya disetujui senarai sanak keluarga dan tetangga sekeliling rumah. Rata-rata mereka tak melihat baik yang lebih banyak dari seorang wanita menjadi tentara. Seolah pasti akan susah saja.
Tapi tidak begitu dengan bapak. Ia punya pendapat sendiri. Alih-alih kepada adikku, ia mengarahkan katanya pada semua kami anaknya. "Aku tak masalah kalian bercita-cita menjadi apa. Aku bebaskan kalian memilih. Selama itu tidak dilarang Tuhan, maka boleh kalian lakukan. Tugasku menjamin agar jalan menuju keinginan kalian tidak terkendala. Tak usah pikirkan biaya, aku dan ibumu yang cari. Kalian belajar saja sungguh-sungguh agar sampai maksud kalian itu." Penggal nasehat ini begitu ku kenali. Sering disebutnya masa aku sekolah dulu. Kini diulang pula untuk adik-adikku. Bapak lalu melanjutkan katanya dan kali ini khusus untuk anak perempuannya.
"Anak dara jadi tentara mungkin sudah biasa di tempat lain, tapi belum di keluarga kita. Rata-rata anak perempuan disuruh sekolah dekat rumah biar mudah dijumpai ibu-bapaknya. Kalau bekerja diminta pula yang tak jauh dan tak banyak menyita waktu keluarga. Nah, ini kau sebut mau jadi tentara. Ku dukung. Bukan sebab aku tak menimbang sayang dan kodrat anak perempuan, tapi ini bisa jadi pelajaran. Untukku sendiri agar menghargai pilihanmu. Untuk ibumu agar tak menggenggammu terlampau sayang pada anak dara satu-satunya. Bagi abang-abangmu biar dilihat mereka kalau kau tak diselisihi ketika bermimpi. Bagi masyarakat kita, supaya lebih disadari kalau perempuan boleh menyumbang manfaat bagi umat.
Nak, profesi itu sekedar alat hidup dan ia pula tak semacam. Kalau nanti kau rasa jadi tentara begitu menyusahkan, kau boleh berhenti dan boleh memilih yang lain yang kau sukai. Satu yang terpenting, bekerja itu untuk manfaat bukan mudharat. Bekerja pula tidak mesti pergi ke kantor dan pakai seragam. Jika kau timbang menjaga anak dan suami di rumah lebih banyak kebermanfaatannya darpada berperang di lapangan. Kau boleh pilih itu. Tidaklah kemudian kusebut telah sia-sia menyekolahkanmu. Dengan kau didik anak-anakmu dan kau layan suamimu dengan baik, maka sesungguhnya kau telah bekerja. Tunaikanlah karirmu itu dengan amanah. Jangan kecil hati. Tak semua dapat melakukan pekerjaan itu dengan baik dan dengan hati yang penuh. Kalau kau bisa, kau membanggakanku. Jalanilah hidupmu."
Begitulah pendirian bapakku. Meski belum tentu anak gadis satu-satunya itu betul akan jadi tentara, tapi alasannya menyebut setuju atas itu adalah satu keberanian dan kebijaksanaan yang patut dihormati. Bapak, I love you. Aku bangga padamu, Bapake.
Dinda, nasehat bapakku itu ku teruskan padamu. Be what you wanna be! Segala persoalan yang timbul kemudian kita urus sama-sama di belakang.

Masya alloh yg terngiang dan kan diingat selalu adalah 'bekerja itu untuk manfaat bukan mudharat'
BalasHapus