Kurban Cinta

Dinda, selamat hari raya. Tadi pagi aku merayakannya di sini bersama ramai warga persyarikatan Muhammadiyah. Sehari lebih awal dari ketetapan pemerintah. Dengan tak mengurangi khidmat hari raya, beginilah cara beragama yang dewasa dari orang Indonesia. Saya bangga pada itu.

Dinda, besok aku pula akan berkurban seekor kambing. Ku titipkan penyembelihannya pada masjid di depan kosku. Tadi sore panitianya mengabariku kalau hewan kurban akan dieksekusi besok jam setengah sembilan pagi. Aku ditawari menjadi sukarelawan. Dengan mantap dan segera aku menjawab bersedia. Dengan itu sehariku besok akan penuh. 

Dinda, menyembelih hewan kurban sebenarnya tidaklah sulit. Yang sulit adalah membunuh rasa memiliki yang membelenggu masing-masing kita. Seringkali kita merasa kita adalah pemilik atas sesuatu atau bahkan atas seseorang. Sehingga lah tak sampai hati bila ia pergi dari sisi. Padahal kalau kita sadar diri, segala yang ada ini bukan kita yang punya. Tuhan meminjamkannya pada kita untuk dipakai sekedarnya. Sekedar agar tak lapar dan haus, sekedar agar tak terjemur terik atau basah disiram hujan; semuanya sekedar pakai. Segala kesekedaran itu bersimpul pada satu tujuan, yakni supaya badan yang materiil ini dapat khusyuk mengabdikan diri pada Tuhan. 

Dinda, pada hari raya kali ini pula aku hendak menjadikan cintaku padamu sebagai kurban. Kadang-kadang cinta padamu itu mengusik sembayangku, menjadikanku murung setengah hari hingga tak tunai beberapa amanah, atau terlampau gembira seperti manusia mabuk yang kurang adab. Kalau tak segera ku sembelih kurban cintaku itu, ia tak akan menjadi cinta yang mulia; bukan cinta yang waras. Agar membaik, maka sepatutnya cinta padamu itu akan ku serahkan kembali pada Tuhan sang empunya. Aku hanya akan memakai cinta itu sekedar yang diperlukan, sebatas yang dibolehkan. Dengan itu aku dapat selamat.

Dinda, selamat hari raya. 

Komentar