Isyarat Pergi

Rasanya enggan beranjak, tapi ini hari Selasa. Aku harus berangkat kerja. Banyak urusan yang harus diselesaikan dalam tiga minggu ke depan. Aku akan mengakhiri hubungan empat tahun dengan kota ini. Bersiap memulai rasa dengan tempat baru. Entah bagaimana ia, tapi aku harus menetapinya. 

Sementara aku telah siap pergi, aku tak siap berpisah. Banyak yang terjadi di sini. Dua tahun belajar mengenal sesungguhnya makna belajar. Belum khatam memang, tapi aku memulainya di sini. Aku mendapat lebih dari sekedar gelar, namun alasan harus terus belajar. 

Lalu dua tahun berikutnya. Di sini aku dipahamkan perihal sebenar bekerja. Bukan untuk penghidupan, tapi untuk persiapan kematian. Pekerjaan adalah warisan untuk diri sendiri, bukan orang lain. Yang bekerja akan melihat hasil pekerjaannya nanti. Tidak di sini, tapi di sana. Kalau terus ingat itu, bekerja akan sangat hati-hati dan sepenuh hati. 

Bila tiga minggu yang tersisa itu telah habis, akan ku letakkan penanda terima kasih. Jika satu hari datang lagi, aku hendak mengingatinya. Mengukur diriku nanti dengan diriku semasa di sini; adakah menjadi lebih baik.

Dinda, di manapun kau berada pastian bahwa yang kau tinggalkan adalah kebaikan. Hidup ini melenakan sampai boleh membuat lupa tujuan memijak satu letak. Diami satu tempat dengan alasan dan pastikan itu untuk kebaikan sebab kita tak mengejar tawa di sini, kita mendamba tawa di sana. 

Dinda, bila kau sedia aku hendak membawamu ke banyak tempat. Menetapinya bersama dan menjalani rupa-rupa cerita. Tapi meskipun terdengar menyenangkan, itu akan juga melelahkan. Perjalanan panjang dengan banyak persinggahan menawarkan kesal dan penyesalan. Maka itu ku buat ini penawaran terbuka. Hanya jika kau sedia, maka kita akan melanjutkannya. 

Komentar