Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Undangan Lepas Isya

Hai, Dinda. Juli akan segera belakhir. Aku menunggu hujan turun lagi. Bulan ini hanya tiga kali. Setidaknya sebelum dia pergi berlalu turun lah sekali lagi agar genap hitunganku.  Tentang hitung-menghitung, hari ini adalah minggu ketiga salat Jumat tak digelar. Pandemi masih belum berhenti. Dibanding beberapa waktu lalu, situasi saat ini berangsur membaik kata penyiar-penyiar dalam berita.  Oh iya! Hampir terlupa tujuanku mengirimimu surat ini. Dinda, dua malam lalu aku yang akan pulang selepas sholat magrib tiba-tiba dicegat sesorang di gerbang masjid. Setelah mengamati, aku mengenalinya. Dia penjaga parkir depan masjid. Dari seberang jalan ia memberiku isyarat untuk menghampiri. Melihat itu aku memelankan langkah dan menunggunya di seberang.  "Bang, itu tentang beasiswa itu yang abang pernah cerita ke saya gimana, Bang?" tanyanya langsung. Saya yang masih belum menangkap arah pembicaraan ini terus bertanya, "Gimana, Bang?" "Gini, Bang. Anak kakak saya kan lul...

Mengeja Maksud Belajar

Dinda, tebak apa yang kulakukan hari ini! Pagi hingga siang tadi aku belajar lagi tentang ejaan bahasa Indonesia. Ternyata banyak kesalahan yang kubuat selama ini. Pelajaran itu menarik, terutama kala mendapati aku keliru untuk hal-hal yang terlihat sederhana. Tentang titik, koma, huruf besar, dan huruf kecil. Kukira semua itu tak jadi masalah selama ini, tapi nyatanya aku salah. Kau tahu hal lainnya yang kupelajari? Ternyata kebenaran itu tak datang sendiri. Ia perlu diusahakan. Dengan merelakan sedikit waktu membaca Panduan Ejaan Bahasa Indonesia dapat kutahu bahwa aku perlu banyak perbaikan dalam berbahasa. Agaknya begitu pula dengan hal lainnya. Jika tak berusaha memeriksa diri setiap saat, tidaklah dapat paham kalau ternyata diri telah langgeng berbuat keliru.  Berikutnya, sekedar tahu tidaklah cukup. Masih akan celaka jika berhenti di sana. Belajar tak hanya tentang menjadi tahu, tapi mestinya merangsang agar bertindak benar. Semula salah lalu kemudian menjadi betul. Itu...

Sebenar Kerja

Hai Dinda, Selamat hari raya. Lebaran masih sepi di sini. Kemarin juga sholat tak digelar. Persis seperti tahun lalu, masing-masing merayakan hari raya dari rumah. Namun, aku menyapamu bukan untuk berkeluh-kesah perihal itu. Bukankah kita harusnya telah terbiasa. Lagi pula semuanya dilakukan dengan maksud agar dunia segera pulih dari sakitnya. Semoga. Dinda, dalam suratku kali ini aku minat berbagi tentang hal yang ku alami sore tadi. Sejak pagi aku sudah murung. Merasa hampir sepekan ini hanya mengerjakan hal-hal tak seberapa berguna. Urusan kecil yang rasanya terlalu kecil untuk menolong dunia yang punya banyak masalah besar. Singkatnya, aku merasa tak cukup hebat. Sebab itulah aku hilang semangat.  Sore tadi usai saling mengucap salam dan terima kasih tanda rapat dua jilid hari ini resmi diakhiri, aku dengan malas mengepak perkakas kerjaku. Setelah beres semuanya, aku ambil posisi bersandar lalu mendongak. Diam. Beberapa saat aku seolah dibawa jauh menerawang. Aku melihat bapak ...

Tawar Menawar

Jika kau ternyata anak hits, maka aku tak yakin dapat mencintaimu dengan caramu. Aku tak cukup mengerti tentang itu. Lingkaran kehidupanku juga tak dalam suasana itu. Aku tak biasa menghabiskan akhir pekan di fasilitas-fasilitas khas kota. Aku bahkan selalu kebingungan bila ditanya referensi tempat makan atau tempat senda gurau minum kopi dan cake. Singkatnya, aku kurang berkenalan baik dengan kehidupan meriah itu.  Tapi bukankah mencinta berarti pula bersedia menyesuaikan? Ya, benar. Untuk itu kau dapat mengajarku satu-dua dan akan menyenangkan bagiku belajar hal baru. Tapi sekalipun bersedia ikut serta, aku tak berniat terbiasa. Rasa nyamanku tak di situ.  Lalu bagaimana denganmu, apakah sudi menjadi lebih sederhana? 

Nasehat

Dinda, apa yang sedang kau kerjakan? Jika sedang melakukan sesuatu, berhentilah sebentar. Bacalah suratku ini. Aku hendak menasehati diriku sendiri lewat dirimu.  Apa yang akan dibuat bila perintah telah datang? Laksanakan atau tinggalkan. Lalu bagaimana jika perintah itu datang dari ibu? Maka lakukan jika itu baik dan hindarilah bila ia menyuruh pada sesuatu yang buruk. Namun dalam perkara menolak itu, perlu adab mulia. Menjaga sikap memuliakan ibu-bapak ialah keharusan, sekalipun untuk kebenaran.  Tak semua yang mereka minta adalah yang disuka. Itu ujiannya. Di sana Tuhan meletakkan penghargaan atas seorang hamba. Aku tahu ini mudah disebut, namun tak semudah itu dibuat. Ringan dinasehatkan, tapi perkara berat diterapkan. Begitulah adanya.  Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku bernasehat demikian di tengah hari begini. Aku sedang teringat ibuku. Kalau aku pulang sekarang, ibu pasti tak sedang di rumah. Ia ada di kebun, entah bersama bapak atau sendiri. Ibu b...

Pagi Ini

Ini hari Jum'at. Jum'at pagi menjelang pukul 8 di sini. Aku baru selesai berjemur di lantai atas. Kata orang-orang berjemur dapat meningkatkan imun tubuh agar tak mudah sakit virus. Ah entahlah benar atau tidak, tapi alasan sebenarnya aku melakukannya adalah karena suasananya pas saja, tak terlalu panas dan tak juga mendung. Cahaya matahari berpendar sebab terhalang awan tipis.  Aku membawa satu buku undang-undang bersamaku. Membaca beberapa pasal hanya untuk mengingat-ingat yang sempat terlupa. Sekali mendayung, dua tiga pulang terlampaui. Berjemur untuk menyegarkan badan, membaca untuk menyegarkan pikiran. Aku dan buku tak seberapa akrab sebenarnya. Sekali lagi, hanya karena suasananya pas saja aku melakukannya pagi ini. Bagaimana kabarmu, Dinda? Ku harap kau punya pagi yang baik sebaik pagiku ini.  Beberapa pesan telah masuk di grup whatsapp. Aku harus bergegas. Kami akan melanjutkan pembahasan yang belum tuntas kemarin. Aku akan sarapan sambil rapat, tenang saja. Kau baik-...

Ruang Tunggu

Di antara banyak cara menghabiskan waktu adalah dengan berbincang denganmu. Aku lupa ini surat yang ke berapa, tapi sudah banyak baris kata yang ku tutur padamu. Macam-macam cerita telah ku bagi dalam beragam suasana. Selalu sama, surat ini satu arah. Aku tak berharap kau balas, cukup kau baca lalu jumpai aku baik-baik saja. Dinda, dalam waktu yang tak sedikit aku telah jatuh padamu. Aku bahagia saat kau menyimak surat-suratku dan mendekapnya dalam rindu. Aku senang kau bersabar dan tak menggebu sebab kau tahu perjumpaan bukan akhir melainkan awal yang membuka jalan panjang perjuangan. Yang menggembirakan kala perjumpaan selain aku mendapatimu dan kau mendapatiku adalah menemukan jika kita tak lagi di ruang tunggu.  Dinda, tentang ruang tunggu yang kita masih berada di dalamnya, berhati-hatilah. Tak sedikit yang menunggu dengan curang hingga berakhir malang. Satu yang mesti dipunyai saat menunggu, kesabaran. Menjadi sabar bukan berarti tak berupaya, tak bergerak, dan pasif. Sabar i...

Musa dan Harun

Kali ini tentang pagi tadi. Aku ada rapat pukul sembilan. Sembari menunggu aku memutuskan menelpon ke tempat yang jauh. Seminngu yang lalu terakhir kami berbicara. Waktu itu ia berkabar tengah sibuk dengan program-program KKN. Aku penasaran sampai di mana program itu telah berjalan. Dia adik lelakiku. Satu-satunya adik lelaki yang ku punya. Kami berjarak 5 tahun. Kami berbeda. Dia jenis yang tenang dan jarang bicara, sekaligus tipe yang menghibur bagi yang telah mengenalnya. Di antara yang paling mengenalnya adalah Ibu. Dia adalah yang paling sering membuat ibu tertawa dibandingkan siapa pun di rumah kami.  Onga begitu kami memanggilnya, yang berarti anak tengah. Di rumah, tak biasa kami saling panggil nama. Seru begitu. Rasanya seperti tak pernah bertumbuh dewasa.  Ini tahun terakhirnya kuliah. Sebagian isi pembicaraan adalah tentang tugas akhir, rencana-rencana dan peluang setelah tamat. Namun, pagi tadi topiknya lebih serius. Aku berpesan tentang cara kami bersaudara. "Aku ...

Setelah Hari Ini

"Udara mana kini yang kau hirup. Hujan di mana kini yang kau peluk."  Lirik lagu itu hampir satu jam yang berulang-ulang mengisi sepinya ruanganku. Kurang lima menit dari pukul tiga sore di sini. Aku bersiap menyudahi pekerjaanku hari ini. Hari ini tak seberapa padat, hanya mereviu satu peraturan.  "Dinda, apa kabarmu?" "Bagaimana harimu?" Besok hari libur. Aku masih belum punya rencana untuk besok itu. Barangkali membaca ulang beberapa putusan sepertinya akan cukup menyibukanku. Aku masih punya banyak pekerjaan yang tertunda. Beberapa pekerjaan kantor dan beberapa sisa lainnya adalah pekerjaan pribadi. Baiknya aku mulai mencicil merampungkan mereka. "Apakah kau punya rencana besok?" Jika tidak, lebih baik berdiam saja di rumah. Itu lebih baik di masa-masa begini. Menjaga diri dan menjaga orang lain, begitulah caranya di masa pandemi. Aku telah selesai berkemas. Lagu itupun sudah berakhir sejak tadi. Kapan-kapan kita berbincang lagi. Kau dapat me...

Yang Ditanggung Bersama

Tadi malam, setelah selesai sholat Isya' aku menelpon ke rumah. Yang menyambut telepon adalah ibu. Setelah bertanya tentang kabarnya hari itu aku memberitahunya tentang yang ku tunggu telah datang. Pengumuman itu telah tiba 4 hari lalu. Sengaja tak ku beritahu mereka lebih awal sebab aku hendak seluruh ragu hilang dulu. Ibu menyebut syukur. Namun aku kemudian menyela kegembiraan itu dengan mengungkit hal-hal berat dan sulit dari berita itu. Setelah itu, suara ibu memelan dan menyebut "pikir-pikirlah lagi." Aku meminta berbicara dengan bapak. Ibu membawakan telepon itu kepadanya. Aku berbincang dengan bapak, dimulai dengan bertanya apa yang sedang dilakukannya. Setelah bertukar kabar ala kadar bapak-anak lelaki, aku mulai menyampaikan kabar yang barusan ku tutur dengan ibu. Bapak selalu seperti bapak, tak ada peluang putus asa atau hilang harapan. Ia mendukungku agar berani maju sekalipun semua akan menanggung resiko. "Lakukanlah! Segala hal berat yang terjadi setelah...

Rencana Itu

Pagi ini cerah, namun masih terasa dingin. Sabtu pagi yang tenang. Meskipun menghirup udara disini tak selega di kampung, tapi untuk memulakan hari agaknya masih cukup layak.  Dinda, apa kabar? Apa kau punya rencana hari ini? Ingin pergi ke suatu tempat? Sendirian? Tak apa jika kau ada pekerjaan di akhir pekan begini, aku pun juga. Beberapa hal tak sempat diselesaikan di hari kerja, jadi berhutang di hari libur. Tak apa, jalani saja dengan bahagia, semogalah ia menjadi berkah. Dinda, aku mau cerita. Ini tentang rencanaku, tapi aku butuh pendapatmu. Bagaimana menurutmu jika kita pindah ke tempat baru yang jauh dari rumah saat ini. Maukah kau ikut bersamaku? Maukah menemaniku di sana? Entah mengapa aku hendak mengawalinya denganmu dari suatu tempat yang sederhana, jauh dari  gemerlap kota dan fasilitas serba adanya. Entahlah, tapi yakinku kita akan menjadi luar biasa di masa depan bila memulainya dengan begitu. Akan ada semangat, keikhlasan, rasa menghargai. Aku ingin yang ku ci...

Sapaan Pagi

Halo Dinda, Pagi hari di sini. Aku baru menuntaskan sholat. Shaf-shaf masih renggang sebab pandemi belum mereda, konon kian bertambah bertambah. Semogalah Allah mengangkat wabah ini segera dan kembali memberi hidup sejahtera kepada kita semua. Dinda, masa lepas mengucap salam pada akhir sholat tadi, dari celah-celah teralis jendela masjid aku nampak gelapnya malam. Aku jauh merenung kemudian. Bertanya dalam hati sendiri, mau kemanakah aku membawa hidup ini? Lepas satu petualangan kepada petualangan yang lain. Akan kemanakah aku menuju setalah yang ini? Di tengah-tengah itu, di sudut hatiku seolah menjawab sendiri pertanyaan itu. Katanya, "Ke mana saja asal ada rahmat Allah di sana."  Menggenanglah air mata. Payahlah menyembunyikannya dari jama'ah sembayang yang satu dua masih tersisa. Aku tetiba menjadi haru. Betapalah Allah mengasihiku. Betapa teduhnya cinta itu. Adakah kau pernah merasakannya pula, Dinda? Kalau teringat akan banyaknya dosa yang telah dibuat, rasanya tak...