Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Aku Bukan Bung Hatta

Selamat sore, Dinda. Maaf lama tak berkabar. Barangkali telah ada seminggu sejak terakhir aku bersurat padamu. Padahal ada banyak momen penting di satu minggu itu, misal saja hari kemerdekaan bangsa yang ke-76. Sekalipun semua orang merayakannya, tapi aku tidak untuk berbincang tentang itu denganmu sore ini. Aku hendak mengaku sesuatu padamu.  Dinda, dua hari lepas aku dinas luar kota. Judulnya adalah rapat untuk keperluan tempatku bekerja. Satu Hari satu malam kami diinapkan di sebuah hotel bagus di kawasan berbukit sekitar satu setengah jam dari tempatku bekerja. Tiba di sana sudah pukul dua petang karena memang berangkatnya selepas salat zuhur. Di sambut panitia, kami dituntun ke ruang pertemuan dan mendapati cukup ramai sesama tamu yang telah datang. Waktu itu rapat belum di mulai. Kurang lebih satu jam kemudian barulah acara dibuka ala kadarnya. Tampak jelas tidak disiapkan dengan baik. Beberapa orang maju ke depan lalu menyampaikan materi. Satu dua orang di barisan belakang m...

Menulis Benar

Gambar
Pagi ini sibuk sekali di sini, Dinda. Hari ini di masjid depan akan diadakan vaksinasi. Bunyi toa mememanggil-manggil warga agar sudi disuntik. "Standar Arab Saudi dan cukup datang membawa KTP. " Kurang lebih begitulah bunyi iklan vaksin pagi ini. Aku tak turut serta karena sudah genap dua dosis sejak bulan Maret lalu.  Oh ya, Dinda. Tadi selepas lari satu keliling aku mendapati satu panggilan tak terjawab. Langsung kupanggil kembali dan satu suara berat mengangkat salam. "Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh. Baa kaba , Bang?" tanyaku. "Alhamdulillah, kaba baik," jawabnya teriring tawa kecil. Senang sekali tersambung kembali dengan sahabatku ini setelah sekian bulan tak bertukar kabar.  Mengejutkan kala ia bercerita jika beberapa waktu lalu ia sekeluarga tertimpa musibah kini hari, Covid-19. Aku tanya lebih dahulu situasi ibunya lalu anggota keluarga lainnya. Berurut ia menjawab semua telah pulih. Alhamdulillah. Aku protes, sebab apa tak memberi ta...

Kursi Roda

Selamat pagi, Dinda. Baru saja aku menengok langit. Tampak mendung di sini. Sekalipun hujan hari ini, aku berharap itu terjadi setelah siang hari sebab pagi ini ada hal yang ingin kulakukan di luar. Aku berencana mengirim satu paket kursi roda ke kampung. Semoga bisa tiba lusa atau kalau tidak setidak-tidaknya tiga hari mendatang. Lebih cepat lebih baik. Ini adalah kursi roda kedua yang kukirim ke kampung. Setahun lalu satu kursi roda untuk kakek dan kali ini untuk nenek. Aku lupa apakah aku telah membagitahumu kalau aku punya seorang kakek dari Bapak yang tinggal bersama kami dan seorang nenek dari pihak Ibu. Nenek tinggal dengan kakak ibuku di kampungnya; tak seberapa jauh dari kampung kami. Karena usia kini keduanya kesulitan berjalan sehingga menyulitkan mereka untuk berkegiatan. Yah, begitulah dunia bekerja. Yang muda akan menua; yang kuat akan payah; yang dulunya gagah akan lemah.  Beberapa waktu lalu saat sedang bertelepon, kakek mengeluh kalau ia jenuh duduk di rumah s...

Menyeka Air Mata Sengketa

Gambar
Dinda, apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Aku baru selesai berolahraga; menyelesaikan satu putaran lari pagi berkeliling komplek. Saat tengah istirahat, aku teringat telah cukup lama tak bersurat padamu. Setelah semuanya siap, aku kesulitan menemukan topik pembicaraan. Bukan tak ada yang dapat dibagi, tapi sedikit kesulitan menemukan hal apa yang paling tepat untuk dibagi. Lalu aku terpikir tentang ini. Simaklah! Dinda, dalam cerita bahagia yang kau damba, adakah juga kau reka akan ada duka yang turut serta? Sebab masing-masing kita adalah manusia biasa, maka mesti berpeluang berbuat salah. Kala itu terjadi akan ada hati tergores dan perasaan tersinggung. Dinda, bagaimana kau akan bersikap jika aku yang membuat duka?  Saat ada sengketa antara kita, hendaknya masing-masing mencari jalan penyelesaian. Aku mengajakmu agar tak diam dan bertahan. Keluar dan berbicara tentang persoalan rasanya adalah cara paling bijak mengurai kusut masalah. Dalam sesak amarah, sisakan ruang di hati u...

Ancaman Kawan

Gambar
Untuk apa kita berkawan? Tanyakan itu pada temanmu. Tadi malam aku bertelepon dengan teman lamaku; saling bertanya tentang itu. Memastikan apakah yang membuat kami terus terhubung hingga saat ini.  Aku yang memulainya. Aku berkata padanya, "Aku tak berteman dengan kau karena materi. Ada banyak yang lebih berharta kalau materi adalah alasan kau kutemani." Di ujung sana, ia menyambung dengan penuh semangat; menyebut hal serupa. "Kau bertugas mengingatkan aku kalau aku keliru," kataku. "Aku yang pertama akan menghukum kau kalau kau berubah keji. Aku akan menyebut pada orang-orang bahwa kata-kata kau hanya bualan. Kau akan kubuat malu semalu-malunya," ancamnya. "Dengan tanganku sendiri aku akan memastikan kau akan mendapat balasan kalau-kalau kau berbuat aniaya," aku balas mengancamnya. Lalu nada bicara kami merendah dan hening beberapa saat. Dalam hati masing-masing menghitung umur perkawanan kami dan merancang agar itu terjalin selama mungkin.  Bua...

Hari Ini Lalu Besok

Gambar
Jam enam pagi lewat 10 menit di sini. Hari Selasa tanggal tiga. Surat pertamaku padamu di bulan Agustus.  Dinda, apa yang biasanya membuatmu sedih? Bagiku sendiri yang paling menyedihkan adalah saat tahu aku mengerjakan sesuatu semata untuk saat ini. Banyak orang berkata "Nikmati hidup sebab hidup itu hari ini. Soal besok, belum tentu." Bagiku, besok itu sama pastinya dengan hari-hari ini. Besok itu nyata senyata saat-saat ini. Tidak satu pun di antara kita yang tidak menjumpai besok. Orang-orang pikir kalau hari ini mati, maka tak akan bertemu besok. Nyatanya, besok telah menunggu untuk dimasuki. Celakanya, besok bukan lagi cerita untuk berbuat, ia saat bertanggung jawab atas apa yang telah dibuat. Pada besok itu tak ada lagi pilihan sebagaimana banyak pilihan di hari-hari ini. Besok itu tentang menilai pilihan-pilihan yang pernah diambil.  Dinda, ingatlah ini! Hari ini menjadi penting bukan sebab kita sedang berada di dalamnya, tapi karena setiap kita pasti bertemu besok; m...