Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Kunjungan Ibu

Gambar
Pagi tadi sekitar pukul delapan lewat tiga puluh ibuku bertolak kembali setelah tiga hari menjengukku di sini, di perantauan yang telah ku tetapi enam tahun lamanya. Aku mengiringnya menaiki mobil yang akan mengantarnya ke bandar udara. Aku menyalami tangannya, mencium pipi kiri-kanan dan keningnya. Aku melambaikan tangan sampai kaca jendela tumpangannya tertutup penuh lalu hilang di tikungan jalan. Semua masih terasa biasa hingga aku membuka pintu dan seketika disergap bau ibu yang masih tertinggal menyesaki seluruh ruangan. Kelakarnya seperti masih terdengar menggema di antara dinding-dinding kamar. Aku menuju dapur lalu tercium aroma lauk yang dimasaknya, bekas piring sarapannya, dan lantai kamar mandi yang masih basah. Entah mengapa mataku berkaca. Tak lagi tertahan. Aku menangis seperti anak kecil. Aku merindukannya. Aku menginginkannya kembali ke sini. Dinda, aku baru saja dikunjungi ibuku. Saat aku menulis surat ini kepadamu, air mata pagi tadi memang telah mengering tapi rindu ...

Patah Hati

Gambar
Kalau dikira yang paling menyakitkan dari dunia ini adalah saat-saat patah hati, maka aku sepakat. Bagaimana tidak, hati yang terlanjur berharap ternyata tak bersambut inginnya. Bagaimana tak sakit, pada yang disemogakan tertolak kenyataan sebenarnya. Maka jadilah patah hati di antara jenis penyakit manusia. Manusia saja yang mengalaminya. Binatang dan tanaman jelas tak punya pengalaman.  Dinda, maaf lama menunda pertemuan dan maaf pula memulakannya dengan bahasan tak seberapa mengenakkan tentang Patah Hati.  Dinda, kalau sedang kau rasai patah hati, maka ketahuilah kalau itu tak selamanya. Saja kau jumpai yang baru akan segera berubah suasana rasa. Begitulah manusia. Seremeh itu berganti perasaannya. Perih dan kecewa yang semula menjadi gulma lekas tertutupi oleh rindang bayang pucuk harap yang baru disemai takdir. Rapal-rapal putus asa dan air mata susut lalu berganti dengan rangkaian kata semoga dan doa-doa. Kalaulah dulu mendung dan guruh dikira menambahi ornamen dukamu, m...

Surat-surat Dulu

Gambar
Dinda, besok puasa. Masjid kami mendadak sesak. Jumlah jamaah membludak tumpah hingga ke kiri dan kanan sayap masjid. Tak perlu heran sebenarnya karena yang begini berulang setiap awal Ramadhan. Satu harapku agar bertahan untuk malam-malam seterusnya. "Dinda, apa kabarmu? Sudah kau siapkan menu sahurmu?" Malam ini entah darimana tiba-tiba saja aku teringat pada beberapa surat lamaku untukmu yang ku kirimkan lewat kotak surat yang dulu. Di antara mereka beberapa mungkin masih kau ingat, tapi ada juga barangkali yang kau lupa.  Dinda, malam ini sebelum tidur aku hendak menyalinkan surat-surat itu untukmu. Sekedar melapis dua perasaanku kala menulis mereka dulu. Tak seperti surat-suratku sekarang ini, bait-bait yang dulu itu berisi rekaan andaian antara kita. Mengulang membacanya membuatku malu sendiri, betapa karanganku tentang kita itu terlalu sempurna. Hahaha... Surat 1 "Kak, kita kemana?" Ini Sabtu malam. Kau jelas merencanakan sesuatu. "Maunya ke mana?" ...

Sampai Jumpa

Gambar
"Dinda, tidakkah kau mau tahu apa yang ku minati darimu?"  Tidaklah mungkin menyukai sesuatu tanpa alasan. Begitu pula aku menyukaimu; ada rentetan karena setelahnya. Aku tak akan mengaku dua kali. Selain itu membuatku malu, pula agar kau tak besar kepala. Haha... Dengarlah! Dinda, kau seorang penyayang yang bertindak. Kasihmu tak hanya berupa kalimat kasihan; kau mengambil sikap agar yang kau kasihani itu berdaya segera. Aku suka kau yang tak diam, tapi terus bergerak dan berpihak pada apa yang kau hitung benar dan baik.  Dinda, kau seorang cerdas yang berani. Kau paham kalau menjadi pintar saja tak cukup untuk mewujudkan misi. Perlu keberanian melantangkan gagasan-gagasan cemerlang. Kalaulah ada ragu dan khawatir, kau yang cerdas tidak lantas putus asa, melainkan bersiasat agar tujuan tetap dapat dicapai.  Dinda, kau perempuan yang sadar keunggulanmu. Alih-alih bersikap kerdil menggerutui keterbatasanmu yang perempuan, kau mengambil untung dari itu. Kau dengan anggun me...

Sibuk Yang Tampak

  Halo, Dinda! Apa kabarmu?   Aku menulis surat ini pada Minggu pagi lepas lari seputaran yang lumayan jauh. Sebenarnya hendak ku kirim segera padamu, tapi tertunda oleh beberapa janji yang menuntut dipenuhi. Jadilah ia ku kirim pagi buta begini. Tak apalah ya. Baca sesempatmu saja. Dinda, omong-omong soal lari pagi, itu usahaku mematikan mode malas yang kadang melampau. Sekarang jadi lebih mendesak saat ku lihat segaris lipatan perut pertanda potensi buncit. Haha... Setidaknya sekali dalam seminggu ku janjikan pada diri sendiri. Kadang berat sekali hendak memulai. Beragam alasan sedia jadi tameng agar bertahan di tempat tidur atau duduk-duduk santai menyimak cuplikan acak di media sosial. Padahal kalaulah dipaksa dan diayun langkah pertama, satu-dua kilo jarak taklah terasa telah ditempuh. Memang berat memulai yang baik. Dinda, aku punya akhir pekan yang cukup padat minggu ini. Sabtu malam hadir menyimak ceramah di Masjid Sunda Kelapa. Lalu esoknya sejak pagi hingga ke sore b...

Pelajaran Melembutkan Hati

Gambar
Dinda, aku tak berkirim surat padamu bulan lalu. Bukan tak rindu. Rindu padamu itu selalu. Hanya saja sebulan kemarin aku merasa tak berjarak saja denganmu sehingga ku pikir tak perlu menulis apapun. Perantara yang biasanya ada seakan tiada. Kalau demikian, aksara tak lagi dibutuhkan atas rindu yang telah sampai maksudnya. Kau jangan mengira kalau kau telah tergantikan. Tak sama sekali. Aku sedang bercerita tentangmu, tentang kau yang mendekat. Dengan segala usahamu kau terlihat sungguh-sungguh menggulung jarak; membuat rapat rasa yang renggang.  Di sini cuaca tak menentu. Pagi hari terang sampai ke siang, tapi masuk ke petang hujan lebat barang sebentar dan setelahnya cerah kembali seolah tak terjadi apa-apa. "Dinda, bagaimana cuacamu di sana?"   Dinda, aku punya hal baru. Ku tekuni sekitar dua minggu ini. Aku membantu mengajar anak-anak di sebuah kampung pemulung di pinggiran kota. Awalnya seorang kawan membagi potongan kabar itu, lalu ku putuskan untuk mengajukan diri ikut...

Selamat Tahun Baru

"Dinda, apa kabar?" Di tahun yang baru ini apa yang baru darimu? Apapun itu ku harap itu baru yang baik. Waktu memang berlari pantas ya. Sekejap saja dua ribu dua dua dan tak terasa kita sudah di dua ribu dua tiga. Kalau begitu, akan sebentar saja yang kita asosiasikan baru hari ini lalu akan disebut lama. Masa akan melewati segalanya dan menjadikan semua barang lawas. Lalu kala itu tiba, kita akan terkejut lagi seperti saat ini dan mengulangi menuduh waktu yang berjalan terlalu cepat. Demikianlah hidup. Sebab waktu diatur tak dapat diputar mundur, maka agar tak merugi mestinya dipastikan segala hal adalah yang baik, yang tak membuat sesal.  "Dinda, apa harapanmu di tahun ini?" Telah ku bulatkan tekad kalau tahun ini akan menjadi tahun membaca. Ada yang ingin aku bidangi. Untuk itu mestilah tidak membuang waktu untuk kepentingan yang tak seberapa perlu. Tahun ini aku ingin lebih tertib, lebih teratur. Pikirku, kalau terus teguh begitu maka akan baik untuk seterusnya...