Pelajaran Melembutkan Hati

Dinda, aku tak berkirim surat padamu bulan lalu. Bukan tak rindu. Rindu padamu itu selalu. Hanya saja sebulan kemarin aku merasa tak berjarak saja denganmu sehingga ku pikir tak perlu menulis apapun. Perantara yang biasanya ada seakan tiada. Kalau demikian, aksara tak lagi dibutuhkan atas rindu yang telah sampai maksudnya.

Kau jangan mengira kalau kau telah tergantikan. Tak sama sekali. Aku sedang bercerita tentangmu, tentang kau yang mendekat. Dengan segala usahamu kau terlihat sungguh-sungguh menggulung jarak; membuat rapat rasa yang renggang. 

Di sini cuaca tak menentu. Pagi hari terang sampai ke siang, tapi masuk ke petang hujan lebat barang sebentar dan setelahnya cerah kembali seolah tak terjadi apa-apa. "Dinda, bagaimana cuacamu di sana?" 

Dinda, aku punya hal baru. Ku tekuni sekitar dua minggu ini. Aku membantu mengajar anak-anak di sebuah kampung pemulung di pinggiran kota. Awalnya seorang kawan membagi potongan kabar itu, lalu ku putuskan untuk mengajukan diri ikut serta. Di antara banyak lapangan kesukarelaan, aku sengaja memilih tugas mengajar. Akan seru sepertinya bergaul dengan mereka yang sekedar tahu kegembiraan bermain. Lugu mereka akan melembutkan hati. Aku jelas butuh itu!

Sementara ini memang belumlah ku temui harapan-harapan yang tadi itu. Wajar sebab masih di awal. Kau tahu apa yang akan menjadi berat dari tugas itu? Menahan kesal dan mempertahankan rasa sabar. Lugunya anak-anak tak selalu membuat lucu, tapi pula dapat memantik amarah. Pada kala itulah hati yang keras dididik melunak. Kalau sanggup memberi perhatian atas percakapan anak-anak yang sepele, maka sepertinya dapat menjadikan pribadi sebagai pendengar yang setia pada kali berikutnya. Kalau sanggup menenangkan kemeriahan anak-anak dengan tak meninggikan nada bicara, maka bolehlah dikira berhasil menenangkan diri pada situasi tak menguntungkan. Kemampuan itu menghantar pemiliknya agar tak suka marah-marah dan menyebut kata-kata kasar. 

Dinda, sebenarnya pada itu bukan aku yang mengajar, tapi akulah yang sedang diajar. Anak-anak itu yang menjadi guru dan aku berjanji akan tertib di bangku murid menyimak mata pelajaran melembutkan hati. 


Komentar