Selamat Tahun Baru

"Dinda, apa kabar?"

Di tahun yang baru ini apa yang baru darimu? Apapun itu ku harap itu baru yang baik. Waktu memang berlari pantas ya. Sekejap saja dua ribu dua dua dan tak terasa kita sudah di dua ribu dua tiga. Kalau begitu, akan sebentar saja yang kita asosiasikan baru hari ini lalu akan disebut lama. Masa akan melewati segalanya dan menjadikan semua barang lawas. Lalu kala itu tiba, kita akan terkejut lagi seperti saat ini dan mengulangi menuduh waktu yang berjalan terlalu cepat. Demikianlah hidup. Sebab waktu diatur tak dapat diputar mundur, maka agar tak merugi mestinya dipastikan segala hal adalah yang baik, yang tak membuat sesal. 

"Dinda, apa harapanmu di tahun ini?"

Telah ku bulatkan tekad kalau tahun ini akan menjadi tahun membaca. Ada yang ingin aku bidangi. Untuk itu mestilah tidak membuang waktu untuk kepentingan yang tak seberapa perlu. Tahun ini aku ingin lebih tertib, lebih teratur. Pikirku, kalau terus teguh begitu maka akan baik untuk seterusnya. 

Ini janji pada diri sendiri. Janji begitu pastilah akan ditantang, bukan oleh orang lain tapi oleh diri sendiri. Jelas ini akan berat. Yang mudah adalah meminta disiplin orang lain. Tapi pada diri sendiri setengah mati menegakkannya. Sulit memberi maklum kalau yang lain itu tak tepat jadwal, tapi sudi sekali kalau yang begitu diri sendiri. Akan marah-marah kalau pihak lain tak teratur sesuai rencana, tapi berkali-kali rela membuat damai jika pelakunya itu aku sendiri. Hasrat mengingkari sudah keniscayaan, tapi itulah kemuliaan bila berhasil melawan. 

"Adakah kau pula begitu, Dinda?"

Sifat begitu tidaklah baik. Jauh dari kemajuan jika laku demikian terus dipelihara. Di setiap awal tahun, hampir semua kita meletak harapan-harapan baik, tapi bila hari dan bulan berjalan tak lah dikira cara mencapai harapan-harapan yang tadi itu. Hampir semua kita tenggelam dalam rutinitas hingga terlupa cita-cita yang diharap semula. Hingga lah sampai di ujung tahun, baru kita kebanyakan sadar kalau harapan tak tercapai. Lucunya, sekejap saja kecewa dirasa dan segera ia mulai lagi meletak harapan-harapan lama itu di tahun yang baru. Harapan tahun baru itu serupa kembang api yang diletupkan untuk perayaannya; meriah gegap gempita tapi hilang terlupa kala hari berganti siang. 

Maaf terlambat. Tapi selamat tahun baru, Dinda! 

Komentar

  1. Panjatkan harapan-harapan baik mu di setiap bait-bait doa mu. Agar Tuhan meridhoi dan mengarahkan setiap langkah pada harapmu itu. Percayakan harapmu pada Tuhanmu, dan rayu DIA melalui usaha dan ikhtiar yang kau lakukan untuk semua harapan yang telah kau panjatkan padaNya.

    BalasHapus

Posting Komentar