Surat-surat Dulu
Dinda, besok puasa. Masjid kami mendadak sesak. Jumlah jamaah membludak tumpah hingga ke kiri dan kanan sayap masjid. Tak perlu heran sebenarnya karena yang begini berulang setiap awal Ramadhan. Satu harapku agar bertahan untuk malam-malam seterusnya.
"Dinda, apa kabarmu? Sudah kau siapkan menu sahurmu?"
Malam ini entah darimana tiba-tiba saja aku teringat pada beberapa surat lamaku untukmu yang ku kirimkan lewat kotak surat yang dulu. Di antara mereka beberapa mungkin masih kau ingat, tapi ada juga barangkali yang kau lupa.
Dinda, malam ini sebelum tidur aku hendak menyalinkan surat-surat itu untukmu. Sekedar melapis dua perasaanku kala menulis mereka dulu. Tak seperti surat-suratku sekarang ini, bait-bait yang dulu itu berisi rekaan andaian antara kita. Mengulang membacanya membuatku malu sendiri, betapa karanganku tentang kita itu terlalu sempurna. Hahaha...
Surat 1
"Kak, kita kemana?" Ini Sabtu malam. Kau jelas merencanakan sesuatu. "Maunya ke mana?" aku menyambut tanyamu. Kau memutar bola mata; mencari ide. "Kalau ke rumah Ibu, gimana?" usulmu. "Jangan ah. Takut ganggu ibu pacaran sama bapak." "Terus ke mana dong?" "Kita pacaran aja di belakang rumah. Mau?" "Hayuk!" "Eh, mau?" Aku bingung sebab kau praktis setuju usulan itu. "Okay. Let's gooo!"
Kau mengatur kursi taman. Kau ambil posisi bersampingan. Di atas meja telah siap secangkir teh dan secangkir kopi. "Asik nih!" godaku. "Iya. Langitnya juga indah. Romantis," balasmu sambil senyum lebar. Kau tampak senang sekali.
Lampu di pojok taman jadi ganti lilin di atas dinner table. Semilir angin malam seolah mendayukan lagu kemesraan. Sempurna.
"Menurutmu apakah aku istri yang baik?" Jrenggg. Sekarang aku paham kenapa kau seketika setuju dengan ide pacaran ini. Waktunya kuis dimulai. Kau suka bagian ini. "Kak?" Kau telah menghitung waktunya sementara aku tak punya pilihan selain ikut serta. Maka agar aman akan ku jawab saja. "Kau yang terbaik." "Kenapa?" Aku menyeruput tehku lalu memutar pandang ke arahmu. Ku tatap mata bening yang penasaran itu. "Kau itu punya cinta yang sabar. Aku sangat butuh itu." Kau diam. Agaknya jawaban itu cukup baik menurutmu.
"Kak, apa bisa aku jadi ibu yang baik?" Wow! Masuk soal kedua. Ku seruput sekali lagi tehku dari cangkirnya yang membeku oleh hawa malam. "Jadi ayah atau ibu itu takdir. Tapi menjadi yang baik atau yang buruk itu pilihan." Kau diam lagi. Sepertinya diammu kali ini bukan isyarat puas. Kau butuh lebih dari sekedar jawaban lurus semacam itu. Baiklah. "Dinda, jadi orang tua yang baik itu bukan bakat lahir. Ia adalah kesempatan yang disikapi dengan terus belajar. Orang tua yang baik mestilah menyiapkan anak-anaknya untuk segala yang baik. Yang baik itu tak hanya soal hidup baik di dunia, tapi pula hidup baik setelah hidup mereka yang ini."
Matamu berkaca-kaca. Aku juga. Kau memelukku. Kita dibungkus haru.
Surat 2
Kali ini kita duduk di beranda pada satu senja yang cerah. Langit jingga mendominasi warna dunia. Sunyi. Hanya menyisakan kau dan aku dalam ruang kosong lamunan masing-masing. Kau yang sadar pertama. "Mana yang lebih kau cintai, aku atau ibu?" Mendengar itu aku menyusul terjaga; menatapmu kemudian. Tampak raut wajahmu yang berminat. Tak usah ditanya dua kali, aku akan menjawab pertanyaan ini.
"Manakala aku terpikir tentangmu, aku terus saja memikirkan ibu. Kau wanita yang ku cintai, tapi ia adalah yang pertama mencintaiku. Kau yang ingin ku genggam tangannya hingga aku mati, tapi ibu yang menggenggam tanganku bahkan jika ia harus mati. Kau adalah yang ku inginkan merawatku dan anak-anakku, namun ia adalah yang selalu ingin menjagaku sampai kapanpun. Kau akan ku cintai satu-satunya, sedang ia selalu mencintaiku dengan cinta yang satu dan utuh. Maka itu Dinda, jika aku harus bersamamu mohon jangan kau cemburu. Jangan cemburu jika cintaku lebih besar untuknya. Jangan cemburu jika sayangku padanya melampaui sayangku padamu. Dan jangan kau buat aku membagi apalagi memilih. Jika hari ini kau masih tak paham, tak mengapa. Perlu waktu bagimu untuk menunggu anak-anakmu dewasa lalu kau berganti menjadi ibu."
Surat 3
Satu hari kau ragu-ragu menghampiriku. "Kak, bolehkah aku bekerja?" Aku yang tengah menyimak bacaanku kemudian berhenti; mengambil perhatian penuh tentang hal yang lebih ku anggap sebagai permintaan daripada pertanyaan. Aku menggeser posisi dudukku. Sekarang aku menatapmu. "Boleh." Aku senyum lalu balik melanjutkan bacaanku pada baris di mana aku berhenti tadi. "Heh?!" Kau heran. Kau tak mengira akan semudah ini. Semestinya ini akan rumit dalam rancanganmu. Kau tak puas lalu memutuskan bertanya dengan nada setengah protes. "Kak, aku serius nih. Apa nggak apa-apa aku kerja?" "Iya. Nggak apa-apa," jawabku sekali lagi. "Kak, kakak marah ya? Nggak boleh ya?" Aku melipat halaman bacaanku dan meletakkan buku itu di pangkuan. Sekarang aku kembali kepadamu. "Nggak marah. Kenapa marah?" aku balik bertanya. Lalu kau diam dan membuang pandang; menjauhi tatapanku. Sepertinya kau jengkel. Kau masih berpikir kalau jawabanku tak sungguh-sungguh.
"Dinda, tolong dengarkan." Ruangan terasa legang. Deru nafas antara kita saja yang terdengar samar. "Dinda, aku sungguh tak masalah bila kau bekerja. Aku yakin kau pasti punya alasan dibaliknya. Maka jika kau yakin, demikian pula aku." Kau menatapku. Menyimak satu-satu. "Dinda, aku tak asing dengan wanita bekerja. Sebagaimana Bapak bekerja, seperti itu pula Ibuku. Ibu turut Bapak ke sawah, ke ladang, memikul padi, mengikat kawat duri, membabat rimba. Aku saksinya. Masih jelas semua tentang ibuku yang juga bekerja sekeras Bapak. Sebab itu aku tak anti jika kau hendak bekerja." Kau masih diam; teliti menyimak.
"Tapi aku punya satu syarat. Jangan kau menghinaku," aku bergegas menyambung kataku. Dari air mukamu aku dapat melihat kau terkejut, tapi aku tak memberi jeda. "Bila memang kau akan bekerja, alasannya harus bukan untuk mencari uang atau menambah biaya belanja rumah. Itu semua kewajibanku. Jangan menghinaku dengan bertanggung jawab atas itu. Jika memang kau akan bekerja, bekerjalah karena kau hendak mengembangkan diri atau menambah manfaat pada masyarakat. Aku mengizinkanmu untuk sebab itu. Aku tak akan memutus mimpi-mimpimu yang mungkin telah kau miliki jauh sebelum bertemu denganku. Jika itu alasan di sebalik inginmu bekerja, maka aku mendukungmu." Kau diam. "Dan ingat pula untuk tetap adil padaku dan anak-anak." Kau masih diam.

Surat ke 3 yg selalu ku ingat dan menyadarkanku kala itu bahwa alasan bekerja janganlah untuk mencari uang tambahan bulanan, btw Congrats blog nya sudah ada iklannya yaa ka👍✨️
BalasHapusSurat ke 2 san ke 3 🫣 salah satu jawaban yg dicari, ceritanya lanjutkan lagii pliss
BalasHapus