Sibuk Yang Tampak
Halo, Dinda! Apa kabarmu?
Aku menulis surat ini pada Minggu pagi lepas lari seputaran yang lumayan jauh. Sebenarnya hendak ku kirim segera padamu, tapi tertunda oleh beberapa janji yang menuntut dipenuhi. Jadilah ia ku kirim pagi buta begini. Tak apalah ya. Baca sesempatmu saja.
Dinda, omong-omong soal lari pagi, itu usahaku mematikan mode malas yang kadang melampau. Sekarang jadi lebih mendesak saat ku lihat segaris lipatan perut pertanda potensi buncit. Haha... Setidaknya sekali dalam seminggu ku janjikan pada diri sendiri. Kadang berat sekali hendak memulai. Beragam alasan sedia jadi tameng agar bertahan di tempat tidur atau duduk-duduk santai menyimak cuplikan acak di media sosial. Padahal kalaulah dipaksa dan diayun langkah pertama, satu-dua kilo jarak taklah terasa telah ditempuh. Memang berat memulai yang baik.
Dinda, aku punya akhir pekan yang cukup padat minggu ini. Sabtu malam hadir menyimak ceramah di Masjid Sunda Kelapa. Lalu esoknya sejak pagi hingga ke sore berkegiatan dengan kawan-kawan dalam kumpulan baru. Pulang sebentar ke kos lalu putar kepala menuju lokasi agenda untuk dua hari berikutnya. Itu pula sebabnya surat padamu tertunda. Aku sibuk.
Dinda, kalau nanti tampak olehmu aku sibuk lalu menyebut aku sibuk, maka tegurlah aku. Boleh jadi aku memang sedang sibuk, tapi sesungguhnya pada kesibukan yang ditampakkan itu aku tengah pamer dan mencari pujian sekitar. Aku mengejar bangga agar dilihat dan disebut-sebut mulut makhluk. Celakalah aku! Kala begitu cepat-cepatlah kau selamatkan aku: tegurlah aku!
Dinda, bukan salah menjadi sibuk. Semestinya memang harus tiap-tiap hari dapat berbuat banyak hal yang manfaat. Tapi menjadi soal jika sengaja ditunjukan kesibukan itu. Selain sangat dekat dengan tabiat sombong, ianya juga membuat sekitar menjadi sungkan. Orang lain akan canggung meminta tolong sebab dikiranya aku tak punya cukup masa melayannya. Siapalah aku yang telah berani mengecilkan urusan orang lain begitu?! Tak diajar Nabi yang demikian itu.
Aku sangat berharap dapat membuat banyak kebaikan dalam hidup yang singkat ini. Tapi serupa sibuk yang ditampakkan itu mestilah dihindari. Niat mulia harus senantiasa terjaga sehinggalah masuk timbangan pada hari perhitungan.
Komentar
Posting Komentar