Fiksi Gurun Salju

Halo Dinda! Selamat hari Minggu. Apa harapanmu untuk hari ini? Meminta hari yang cerah sehingga dapat ditunaikan segala hajat yang telah dibuat atau justru menginginkan hujan agar mengurung semua orang dalam ruangan? Bagiku yang mana saw tak masalah. Sejauh ini tak ada janji bertemu atau pekerjaan yang menuntut diselesaikan. Meski demikian, bukan berarti sehari ini akan kosong saja. Sejak pagi tadi aku telah merapat ke lemari bukuku. Pikirku, membaca ulang satu atau dua koleksi sendiri agaknya ampuh membunuh sebatang pagi. Semoga saja setelahnya dapat timbul cara menyambung petang. 

Setelah menyeret telunjuk menyusuri barisan buku-buku, pilihanku jatuh pada Dee Lestari. Tiga sekaligus ku ambil: Filosofi Kopi, Rectoverso, Madre. Serakah! Nyatanya aku hanya membuka satu. Tak minat membaca yang terlalu panjang padahal dalam ketiganya cuma memuat cerita pendek dan beberapa sajak. Tapi ketidakminatan menjadikanku selektif sepagi ini. Barangkali bukan selektif, aku memang telah punya yang akan dibaca sejak semula, Salju Gurun dalam Filosofi Kopi. 

"Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau di tengah impitan sesamamu, tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang.

Di lingkungan gurun yang serbaserupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar di mana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu. 

..."

Aku selalu suka Salju Gurun. Menabahi kalau tak apa-apa menjadi berbeda dan semestinya memang harus membuat pembeda. Harga terbaik barang imitasi tak akan melebihi yang ditirunya, sementara yang berbeda menentukan harga sendiri.

Dinda, kaji tadi janganlah ditelan mentah-mentah. Tak semua soal perlu menjadi berbeda. Berbeda hanya akan menjatuhkan harga jika menyelisihi kebenaran. Maka jalan pikirnya bukan memilih beda dahulu lalu mencari pembenarannya kemudian, tetapi menemukan yang benar lalu membelanya sekalipun berbeda dari kebanyakan. 

Penting pula diinsyafi jika kebenaran bukan dari apa yang kita sendiri rasa-rasa benar, tak juga selalu yang dibenarkan banyak orang. Kalaulah demikian cara mendapat kebenaran, sudah barang tentu yang benar itu mustahil diukur, diuji, sehingga membuat bingung benar mana yang perlu diyakini. Sebaliknya, membenarkan semua akan mengosongkan peluang benar sama sekali. Bagaimana bisa jika orang-orang berdebat tentang warna tunggal pada suatu benda yang disebut hitam sedang yang lain menyebutnya putih dan lainnya menyebut biru, lalu seseorang datang dan menyebut bahwa betul jika warna tunggal benda itu adalah hitam, putih, dan biru sekaligus. Orang semacam ini ada dijumpai dan biasanya menyebut diri mengambil sikap toleransi. Yang ini kau jauhilah, Dinda. Yang demikian bukan toleran tetapi sikap malas berpikir dan pengecut. Rugi saja hidupmu bila menjadi mereka. 

Dinda, jika tak dapat ditentukan sendiri oleh masing-masing orang, maka kebenaran mestilah dikeluarkan dari satu sumber yang tak mungkin keliru, yang maha benar. Tuhan adalah sumber itu. Manusia semestinya mengukur segalanya dengan semata-mata ukuran benar-salah-Nya itu. Dengan itu, kebenaran menjadi mutlak, konsisten. Lalu bukankah mengakui satu kebenaran dan menganggap salah yang lainnya itu adalah berbahaya? Bukankah itu yang disebut sebagai ekstrimis? Betul, jika tidak disertai adab bertoleransi. Toleransi dalam ini bukan mengorbankan sebagian kadar benar yang diyakini untuk ditukar dengan benar versi lain. Jika begitu tak ada ubahnya dengan toleran ala si pengecut tadi. Toleransi ini adalah tetap teguh meyakini yang kita anggap benar namun tetap memberikan ruang bagi orang yang belainan pandang menjalankan yang diyakininya. Lalu sampai sejauh mana boleh maklum kita itu? Sejauh yang dibolehkan oleh Tuhan Yang Maha Benar. Begitulah iman berjalan.

Dinda, di zaman ini yang membela kebenaran yang didasari iman agak payah. Menyebut lurus benar menurut Tuhan kurang diminati. Mungkin karena dinilainya telah lazim yang semacam itu sehingga agar meriah perlu ada yang berani bercanggah kata dan aksi. Sebagian yang bersimpang jalan itu dengan sadar memilihnya, namun tak sedikit yang memilih berbeda hanya karena pengecut dan malas berpikir. Dinda, jelas kita berada dalam perang presepsi. Tentukan sikap sekalipun nanti menjadi sebutir salju di tengah gurun. "Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau ... berbeda."

Maaf untuk dua surat terakhir yang membosankan macam isi bicara diktat kuliah. Selamat berhari minggu rasa Senin, Dinda. Hahahaha

Komentar

  1. Diktat yang lebih dari diktat kuliah karena selalu berisi pelajaran dan pemikiran yang membuat berbeda, namun penuh pemahaman dan keunikan. Terima kasih untuk selalu menuangkan ilmu dalam setiap tulisannya kak

    BalasHapus

Posting Komentar