Sebelum Kau Tidur Nak



Nak, malam ini kau rewel lagi. Sekalipun telah disodorkan susu oleh Ibumu, kau tetap saja berontak menangis. Kau tak menyana kalau ini hampir tengah malam dan Ibu-Bapakmu mengantuk sekali. 

Nak, Bapak setidaknya telah membentakmu dua kali malam ini. Peringatan agar diam tak kau hiraukan. Kian Bapak menuntut, kian kau tak menurut. Kau semakin menjadi. Menjadikan rumah kecil kita penuh oleh teriakmu. Dinding-pintunya tak sanggup lagi meredam agar berisikmu tak sampai ke ventilasi tetangga. Kau tak peduli. Kau terlalu sibuk membuat nada kesal. 

Nak, tapi kau beruntung sekali. Ibumu tak berang barang sedikit pun. Lekas setelah Bapak surut amarah, Ibu mengangkatmu dalam peluk. Kau yang senewen belum hendak berhenti menangis, tak mengapa. Dari duduk ia berdiri lalu berjalan-jalan menimangmu dari kamar ke ruang tamu. Ia menutur puja-puji agar kau tenang. Bukan sebentar dan ia bersabar. Ajaib! Kau perlahan senyap. Kau meram pulas. Lalu ia seka sisa air matamu sebelum dibaringkannya kau antara Bapak dan Ibu. Begitulah Ibumu mendamaikan hati dan harimu.

Nak, kala nanti kau sudah besar, betul janganlah lupa terima kasih padanya. 

Komentar