Apel Layu
Sore ini Bapak sengaja pulang tepat waktu, nak. Belakangan ini Bapak sering rindu dan ingin segera menjumpaimu. Setelah menumpang kawan dengan sepeda motornya ke stasiun, Bapak meneruskan perjalanan pulang dengan komuter lalu disambung naik angkutan kota dan turun di depan masjid. Dari sana sebentar jalan kaki ke arah gang sempit di Jalan Sayuti Satu. Rumah baris kedua itulah kontrakan sederhana kita.
Setibanya di depan pintu Bapak mendapati dua pasang sendal kecil. Langsung bisa ditebak siapa tamu sore ini. Lepas mengucap salam, Bapak membuka pintu dan benar saja dua gadis kecil tetangga sekitar sedang riuh bermain denganmu di ruang tamu. Mereka jadi teman paling rutin yang mengunjungimu. Jadwalnya sore begini kalau hari sekolah dan ditambah pagi sekitar pukul sembilan di akhir pekan.
Ibu menyambut dan dua temanmu itu menyalami Bapak bergantian sementara kau tak bergeming. Kau sibuk menjilati jari sendiri. Biasanya itu ancang-ancang sebelum pecah tangis minta susu. Ibumu yang sangat paham lalu buru-buru menyodorkan maumu itu.
Petang itu sudah pukul lima lewat empat puluh. Artinya, sekitar sepuluh menit lagi adzan Maghrib. Bapak simpan dulu senda gurau dan menyimpangkan jalan ke ruang belakang. Bapak ingin bergegas bersih-bersih agar sempat mengejar sembayang jamaah di musala. Saat melintasi dapur tampak tiga buah apel di atas meja yang dibeli kemarin. Teringin untuk membagi pada temanmu satu-satu. Tapi sebentar Bapak terjeda. Dari tiga yang ada, ternyata satu telah layu. Sekalipun tetap layak dimakan namun ragu merambati batin. "Apakah pantas rasanya memberi untuk orang lain yang tak sebaik untuk sendiri?" Sekelebat tanya itu disambar jawab, "Ah, tak jadi soal sebab memberi itu sendiri sudah baik." "Tapi apa cukup begitu?" tanya lainnya menyusuli. "Lebih dari cukup di tengah ramainya yang tak sanggup memberi," timpal jawab berikutnya. Dalam kalut itu, segera Bapak genggam dua apel dan membawanya kepada mereka. Dengan raing temanmu berterima kasih menerimanya lalu pamit pulang.
Malam harinya, saat Bapak tengah mengajakmu berbincang di ruang tengah terdengar Ibumu bertanya dari dapur, "Pak, ini apelnya kok sudah layu ya?"

Komentar
Posting Komentar