Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Apel Layu

Gambar
Sore ini Bapak sengaja pulang tepat waktu, nak. Belakangan ini Bapak sering rindu dan ingin segera menjumpaimu. Setelah menumpang kawan dengan sepeda motornya ke stasiun, Bapak meneruskan perjalanan pulang dengan komuter lalu disambung naik angkutan kota dan turun di depan masjid. Dari sana sebentar jalan kaki ke arah gang sempit di Jalan Sayuti Satu. Rumah baris kedua itulah kontrakan sederhana kita. Setibanya di depan pintu Bapak mendapati dua pasang sendal kecil. Langsung bisa ditebak siapa tamu sore ini. Lepas mengucap salam, Bapak membuka pintu dan benar saja dua gadis kecil tetangga sekitar sedang riuh bermain denganmu di ruang tamu. Mereka jadi teman paling rutin yang mengunjungimu. Jadwalnya sore begini kalau hari sekolah dan ditambah pagi sekitar pukul sembilan di akhir pekan.  Ibu menyambut dan dua temanmu itu menyalami Bapak bergantian sementara kau tak bergeming. Kau sibuk menjilati jari sendiri. Biasanya itu ancang-ancang sebelum pecah tangis minta susu. Ibumu yang san...

Sebelum Kau Tidur Nak

Gambar
Nak, malam ini kau rewel lagi. Sekalipun telah disodorkan susu oleh Ibumu, kau tetap saja berontak menangis. Kau tak menyana kalau ini hampir tengah malam dan Ibu-Bapakmu mengantuk sekali.  Nak, Bapak setidaknya telah membentakmu dua kali malam ini. Peringatan agar diam tak kau hiraukan. Kian Bapak menuntut, kian kau tak menurut. Kau semakin menjadi. Menjadikan rumah kecil kita penuh oleh teriakmu. Dinding-pintunya tak sanggup lagi meredam agar berisikmu tak sampai ke ventilasi tetangga. Kau tak peduli. Kau terlalu sibuk membuat nada kesal.  Nak, tapi kau beruntung sekali. Ibumu tak berang barang sedikit pun. Lekas setelah Bapak surut amarah, Ibu mengangkatmu dalam peluk. Kau yang senewen belum hendak berhenti menangis, tak mengapa. Dari duduk ia berdiri lalu berjalan-jalan menimangmu dari kamar ke ruang tamu. Ia menutur puja-puji agar kau tenang. Bukan sebentar dan ia bersabar. Ajaib! Kau perlahan senyap. Kau meram pulas. Lalu ia seka sisa air matamu sebelum dibaringkannya ka...

Lamunan

Gambar
Pada malam ini aku akan bersajak. Sebait-dua bait bolehlah. Sekedar pembuka bicara setelah lama tidak bersua. Aku hendak berkhayal tentang kita. Betul hanya berdua saja. Aku akan merayu dan kau perlu bersiap. Agar tak jauh terbawa hingga lupa jarak perantara. Dinda, kau sungguh ku suka. Entah mengapa, tapi hatiku tertentu padamu saja.   Dinda, padamu aku senang. Cuma padamu seorang. Kau yang bila terkenang membuatku tak dapat tenang. Gemuruh semangat hendak berjumpa. Dinda, aku tak peduli rasamu. Tentangku adalah segala-galanya. Begitu aturannya. Kalau tak demikian, maka padam saja api sebelum didelik mata tujuan. Dinda, sebagai pejuang, menyerah tak sama sekali masuk pilihan. Tak surut langkah sebelum sampai rasa menjadi kata. Urusan harap tak bersambut taklah mengapa. Biasa saja. Bagianku menyampaikan dan kau membuat keputusan.  Dinda, kalau kau ragu. Kau punya waktu pikir-pikir. Aku siaga menunggu.