Surat-surat Dulu
Dinda, besok puasa. Masjid kami mendadak sesak. Jumlah jamaah membludak tumpah hingga ke kiri dan kanan sayap masjid. Tak perlu heran sebenarnya karena yang begini berulang setiap awal Ramadhan. Satu harapku agar bertahan untuk malam-malam seterusnya. "Dinda, apa kabarmu? Sudah kau siapkan menu sahurmu?" Malam ini entah darimana tiba-tiba saja aku teringat pada beberapa surat lamaku untukmu yang ku kirimkan lewat kotak surat yang dulu. Di antara mereka beberapa mungkin masih kau ingat, tapi ada juga barangkali yang kau lupa. Dinda, malam ini sebelum tidur aku hendak menyalinkan surat-surat itu untukmu. Sekedar melapis dua perasaanku kala menulis mereka dulu. Tak seperti surat-suratku sekarang ini, bait-bait yang dulu itu berisi rekaan andaian antara kita. Mengulang membacanya membuatku malu sendiri, betapa karanganku tentang kita itu terlalu sempurna. Hahaha... Surat 1 "Kak, kita kemana?" Ini Sabtu malam. Kau jelas merencanakan sesuatu. "Maunya ke mana?" ...