Perihal Bangga

Dinda, apa kabar? Aku baik-baik saja dan semoga kau pula. Sabtu pagi dengan gerimis di sini. Rencana mencuci pakaian ku undur saja dulu. Aku sebenarnya juga sedang menunggu datang seorang kawan. Ia mengabariku kemarin pagi akan berkunjung ke sini. Dulu kami sama-sama sekolah di sini dan sekarang ia telah mengajar di kampus. Bangga juga saya punya kawan hebat begini.

Eh, omong-omong soal bangga, aku ingin cerita tentang bangga versiku. Menurutku kau perlu tahu soal ini. Selain agar kau tak salah tafsir tentangku, juga supaya kau punya kesempatan mengukur keyakinan padaku.

Dinda, ketika di sekolah menengah pertama, di kelas tujuh seingatku, guru matematika kami menjelaskan dua cara untuk menyelesaikan satu soal. Yang pertama adalah cara yang sederhana dan singkat untuk mendapat jawaban, sedangkan yang satunya lagi lebih panjang dan rumit. Lalu kami diberi satu soal latihan untuk dikerjakan. Selang beberapa menit guru bertanya apa jawabannya. Hampir semua murid meneriakkan jawaban mereka. Sepertinya hanya dua-tiga murid saja yang tak menjawab dan salah satunya adalah aku. Aku tak tahu yang lainnya, tapi aku sendiri belum menjawab karena belum tuntas mengerjakan soal itu. Lalu guru meminta satu di antara murid maju menulis jawabanya di papan tulis. Ia memilih rumus yang singkat rupanya. Begitu pula murid-murid lainnya. Jawaban itu diakui benar oleh guru dan si murid diminta duduk kembali. Tapi aku masih belum juga tuntas. Aku memakai rumus yang lebih panjang dan kebingungan sendiri mengoperasikannya. Sampai kelas diakhiri aku tak menemukan jawaban dengan rumus panjang itu. Kisah ini tidak diakhiri dengan aku yang berhari-hari berusaha keras terus mngerjakan soal dengan rumus panjang itu hingga berhasil mendapat jawabannya atau aku yang pergi menemui guru lalu bertanya dengan kritis bagaimana mendapat jawaban dari rumus rumit itu. Aku tak segigih itu, Dinda. Rasa malas dan minat ingin cepat-cepat main mengalahkan segalanya, sehingga lah kisah ini menjadi aku tutup buku dengan soal yang tak pernah tuntas. Hahaha... Itu memang sikap yang kurang baik, tapi saat itu aku merasa bangga pada diriku. Terlepas dari gagal mendapat pujian guru untuk satu jawaban betul, aku bangga telah berani mencoba jalan sulit yang tak dicoba oleh teman-teman sekelasku waktu itu. Hal yang pasti akan ku puji kalau anakku begitu, sekalipun nanti mungkin akan dimarahi ibunya karena kurang pragmatis. Hahaha...

Kalau diingat-ingat lagi, aku juga bangga tak dapat IPK empat lagi di semester dua kuliah setelah ku sadari memang tak layak menerimanya. Empat itu sempurna, mestinya yang punya nilai sempurna itu bisa menjawab segala pertanyaan yang telah diajarkan. Aku nyatanya tak dapat menjawab satu pertanyaan dari profesorku. Memalukan rasanya memiliki yang tak layak dimiliki. Sejak itu dengan sepenuh rasa hormat aku tak lagi mengukur hasil belajar dari besaran angka dan huruf ponten, tapi pada kadar pemahaman yang diukur secara jujur oleh diri sendiri. Aku bangga punya pendapat itu. Aku coba menghasut adik-adikku agar sependapat denganku lalu aku dimarahi ibu. Katanya sebab nasehatku itu adikku kuliah peternakan sampai semester sepuluh. Hahaha...

Aku begitu karena itu hidupku. Aku tak yakin apakah akan benar-benar berbangga jika anakku membuat hal serupa dengan punyaku itu. Saat masih kelas satu atau kelas dua sekolah dasar, bapakku bercerita tentang seorang anak kawannya yang menyusup ke bak truk ekspedisi yang akan mengantar barang ayahnya ke Jawa. Anak itu ketahuan si supir saat truk berhenti di rumah makan di tengah perjalanan. Ia tidak merengek minta pulang karena ketakutan dan sudah merindukan orang tuanya. Ia turun dan ikut makan bersama supir sampai tiba di tujuan dan kembali lagi. Mata Bapak berbinar-binar menceritakannya. Penuh semangat seolah sedang bercerita tentang petualangan Simbad Si Pelaut yang ku baca di buku Seribu Satu Malam. Sampai-sampai aku berpikir kalau bapak bangga jika aku seberani itu. Ternyata tidak begitu. Bapak marah saat aku tak mau jadi pegawai negeri dan bercita-cita akan jadi peternak sukses. Ia pikir hidup pegawai lebih aman dan lebih baik daripada menjadi petani dan paternak sepertinya. Ia boleh tapi anaknya tidak sebab dikiranya itu penuh resiko, tidak aman. 

Dinda, hidup kita ini berubah seiring bertambahnya usia. Mungkinkah kebanggaan di masa muda juga berganti sebab ditemui kebijaksanaan yang baru? 

Komentar

  1. what if someone tells that she wants to know you because she fall in love by the way you write, the way you talk, the way you solve the problem? What would you do right now?

    BalasHapus
    Balasan
    1. I'm glad to see that person.

      Hapus
    2. what if that person never falls in love by that way and seems like impossible because of the distance. she thinks too afraid to declare her feelings because this is the first time to confess to you.

      Hapus
    3. love is filled with risk and possibility.

      Hapus
    4. Do you want i take the risk?

      Hapus

Posting Komentar