Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

Fiksi Gurun Salju

Halo Dinda! Selamat hari Minggu. Apa harapanmu untuk hari ini? Meminta hari yang cerah sehingga dapat ditunaikan segala hajat yang telah dibuat atau justru menginginkan hujan agar mengurung semua orang dalam ruangan? Bagiku yang mana saw tak masalah. Sejauh ini tak ada janji bertemu atau pekerjaan yang menuntut diselesaikan. Meski demikian, bukan berarti sehari ini akan kosong saja. Sejak pagi tadi aku telah merapat ke lemari bukuku. Pikirku, membaca ulang satu atau dua koleksi sendiri agaknya ampuh membunuh sebatang pagi. Semoga saja setelahnya dapat timbul cara menyambung petang.  Setelah menyeret telunjuk menyusuri barisan buku-buku, pilihanku jatuh pada Dee Lestari. Tiga sekaligus ku ambil: Filosofi Kopi, Rectoverso, Madre. Serakah! Nyatanya aku hanya membuka satu. Tak minat membaca yang terlalu panjang padahal dalam ketiganya cuma memuat cerita pendek dan beberapa sajak. Tapi ketidakminatan menjadikanku selektif sepagi ini. Barangkali bukan selektif, aku memang telah punya yan...

Dua Kisah, Satu Tanya

Apa bedanya seorang dengan seorang lainnya? Kalau kau menjawab letak beda ada pada rupa, itu sudah pasti. Kita dicipta oleh Tuhan tak ada yang seragam. Setiap orang unik, tak ada yang persis sama sekalipun kembar identik. Tapi jika jawabanmu adalah sifat dan tabiat, barangkali ada benarnya. Dalam kadar pikirku, manusia itu ketara perbedaannya berdasarkan prinsip yang dipegangnya. Prinsip itu membentuk kecenderungan pemiliknya atas satu pilihan dan pilihan itulah yang kemudian nyata membedakan ia dengan yang lainnya.  Dinda, mungkin kau pikir ini terlalu serius untuk dibahas, atau mungkin pula kau merasa akan membosankan untuk selanjutnya. Tapi tolong dengarlah dulu. Tahan sebentar saja protes-protesmu itu. Soal ini menggangguku dan sudilah kau menemaniku mencari tenang.  Dinda, siang tadi aku nonton satu reviu film di sela-sela istirahat mengerjakan pagar alpukat dan durian yang juga belum selesai itu. Nonton rangkuman macam itu memang suka ku lakukan. Menurutku itu cara mudah...

Novel Kita

Di luar sedang hujan. Suaranya terdengar keras menyusuri lereng-lereng seng atap rumah. Memang sudah hampir sebulan hujan tak turun. Sekalinya turun deras sekali mengisi separuh sore seolah membasuh tuntas hari-hari terik yang lalu. Seketika udara menjadi lembab. Debu-debu di halaman kini tenggelam oleh air setinggi mata kaki. Suara bising kendaraan lalu lalang dan sahut-sahautan percakapan seolah diredam. Dunia tengah mengambil jedanya.  "Dinda, apa kabarmu di sana?" Setelah setengah hari mengerjakan proyek pribadi membuat pagar tanaman untuk bibit durian dan alpukat yang belum juga usai sejak seminggu lalu, aku memutuskan membuka kembali lemari bukuku. Aku menuju rak tingat dua di baris tengah. Di antara deretan buku-buku fiksi dan kumpuĊ‚an puisi, aku menemukannya, favoritku, 'Trilogi Negeri 5 Menara'. Kali ini aku memilih 'Rantau 1 Muara'. Membaca kembali novel itu membuatku mengulang ingatan akan mimpi-mimpi dahulu. Cerita yang dibawa Alif si tokoh utama m...

Cerita Pulang

Gambar
Dinda, aku telah di rumah. Maaf terlambat berkabar. Sekitar sebulan lalu aku tiba di sini bersama segala barang yang sangup dibawa. Semua aman, segala yang dapat ku bawa telah ku bawa serta. Sebagian sengaja ku tinggalkan sebagai cenderamata, tanda kalau aku pernah di sana.  Tiga hari pertama di rumah aku persis bak anak kota masuk desa. Kulit putih mulus, kinclong ketara kalau disanding dalam kerumunan warga kampungku. Tapi tiga hari selepas itu mulailah rupa segera menyama. Ditambah pulangku bertepatan dengan musim panen. Jadilah seminggu penuh mandi terik matahari, bukan di pantai tapi dari pelang ke pelang sawah. Kini tak ada lagi rupa kota, jiwa dan raga telah kembali kepada asal semula.  Sewaktu aku sibuk menyusun ladung agar padi yang dikumpulkan teratur tak tercecer, seorang yang hari itu ikut membantu kami menanyaiku. "Tak takut hitam kau nanti?" Tanya yang sebenarnya canda itu disampaikannya sambil terkekeh. Aku yang kelelahan menjawab saja, "Biarlah wak. Jaran...