Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Hujan Kita

Halo Dinda!  Di sini sedang hujan. Agak lebat dan mungkin akan belangsung sampai larut malam. Sudah hampir dua minggu ini Jakarta selalu mendung pagi dan petang. Sesekali saja hari cerah, namun kebanyakan tak bertahan lama sebab matahari kembali dihalang pasukan awan tebal. Jelas musim hujan telah tiba di sini.  Lalu, bagaimana di sana, Dinda?  Dinda, kata orang-orang hujan selalu tak datang sendirian. Ia datang bersama teman bernama rindu dan kenangan. Bunyi hujan yang menyentuh benda-benda bumi meresonansikan peristiwa yang lama mengambang di langit-langit ruang ingatan. Kata orang pula hujan punya aroma. Tak dapat digambarkan, tapi konon bau hujan dapat sempurna mengangkut rasa terpendam muncul ke permukaan. Lembab udara mendekap hati yang sesak oleh rindu lalu tak jarang membuat genangan di sudut mata atau simpul senyum yang kemudian dinikmati sendiri.  Lalu, bagaimana denganmu, Dinda? Omong-omong soal hujan, aku sendiri punya kesan. Bagiku hujan tak selalu mengh...

Pada Rahasia Si Arab

Dinda, selamat pagi. Aku tulis surat ini buru-buru. Ada hal menarik yang baru saja terjadi. Baru saja.  Aku melihat rahasia seseorang pagi ini. Tadi selepas sembayang subuh aku sengaja pulang melalui jalan memutar. Ada jalan kecil di samping bangunan masjid yang tembusannya ke gang perumahan padat sekitaran. Sehari-hari gang itu ramai, tapi kala subuh begini hanya satu-dua saja yang melaluinya.  Pada perempatan kedua dari arah masjid aku nampak seorang berjalan dari arah berlawanan. Dari kejauhan tak seberapa jelas sebab tak ada lampu jalan dan aku pula tak membawa kacamata. Setelah semakin dekat, aku mengenali orang itu. Ia adalah peserta rutin sembayang di masjid kami. Lelaki keturunan Arab yang aku tak tahu namanya sebab belum pernah bercakap-cakap langsung. Ku rasa ia pula mengenali mukaku, namun ku rasa sama sepertiku ia pula takmengenal nama. Agar tak begitu canggung, maka saat saling melalui aku mengucap salam dan dijawab salam pula olehnya. Aku kemudian terus berbelok ...

September Terlambat

Selamat Oktober Dinda. Maaf untuk sapaan September yang terlambat. Maaf untuk hanya dua pucuk surat yang ku tulis bulan itu. Maaf pula atas khawatirmu. Tapi aku baik-baik saja dan semoga kau juga, ya. Sebagai penebusnya aku akan bercerita tentang Septemberku.  Dinda, pada satu malam di pertengahan September aku melihat bulan bersinar terang. Indah sekali malam itu. Dari tempatku duduk terdengar riuh rendah suara orang-orang di pinggir jalan, tapi tak ku hiraukan. Bulan terlihat sangat cantik malam itu. Dalam suasana itu aku menyadari satu hal. Bahwa bulan itu adalah bulan yang sama yang dilihat Adam saat pertama kali tiba ke bumi setelah diusir dari surga. Ia adalah bulan yang sama yang disimak Ibrahim dalam perenungannya, yang menemani Musa dan Harun kala mengantar Bani Israil, yang ditatap Yusuf saat bermalam di dalam sumur, yang pandangi Baginda Nabi Muhammad pada malam hijrahnya meninggalkan Mekkah. Itu adalah bulan yang telah menyaksikan bagaimana setiap insan menjalani hidupn...